Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Matiti Suara di Desa Adat Batur di Pura Ulun Danu Batur: Tradisi Hindu Bali Kuno yang Jadi Simbol Petuah yang Mendalam dari Sesuhunan

I Putu Mardika • Jumat, 29 Maret 2024 | 16:31 WIB
Prosesi metiti suara di Pura Batur Desa Adat Batur, Kecamatan  Kintamani, Bangli
Prosesi metiti suara di Pura Batur Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Bangli

BANGLI, BALI EXPRESS - Desa Batur, yang terletak di Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali memelihara tradisi Hindu kuno yang dikenal sebagai Matiti Suara.

Tradisi ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat setempat, memberikan arahan dan inspirasi bagi mereka untuk mengabdikan diri dengan tulus di Batur.

Matiti Suara menjadi puncak dari serangkaian upacara Ngusaba Kadasa yang diadakan di Pura Kahyangan Jagat Pura Batur, biasanya pada bulan April.

Asal usul istilah "Matiti Suara" menggambarkan makna mendalam di balik penyampaian sabda atau petuah dari sesuhunan yang bersemayam di Pura Ulun Danu Batur kepada masyarakat Desa Batur.

Jero Gede Batur Duhuran menjelaskan bahwa Matiti Suara bukan sekadar kata-kata, melainkan panduan yang menginspirasi krama Desa Batur dalam menjalani kehidupan mereka.

“Titi suara yang merupakan sabda dari Ida Bhatara Sesuhunan di pura Ulun Danu Batur diharapkan bisa menjadi landasan hidup dalam menjalani kehidupan bagi krama Desa Batur,” jelasnya.

Pelaksanaan Matiti Suara diserahkan kepada seorang Jero Guru yang telah menjalani serangkaian tahapan penyucian.

Di Desa Batur, terdapat enam belas Jero Guru dengan peran yang berbeda, di antaranya Jero Pulai, Jero Pemumpunan, Jero Pesagian, dan Jero Dis.

Saat pelaksanaan Matiti Suara, Jero Guru Bedanginan, yang memegang peran penting sebagai Kesinoman, menjadi pelaksana utama tradisi ini.

Tradisi ini diadakan di jaba tengah Pura Ulun Danu Batur, namun persiapan dilakukan dengan seksama sebelumnya.

Sebelum Matiti Suara dimulai, Jro Guru melakukan serangkaian persiapan, termasuk ngaturang segehan agung, tapakan, dan pejati di Kori Agung.

Pada saat pelaksanaan Matiti Suara, Jero Guru menyampaikan sabda dari sesuhunan sebanyak tiga kali, sementara krama Desa Batur merespons dengan mesuryak (berteriak), menandakan penerimaan sabda tersebut dengan tulus.

Sabda yang disampaikan memiliki makna mendalam, mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang penting bagi masyarakat Desa Batur.

Bunyi dari titi suara yang merupakan sabda dari Ida Bhatara yang berstana di Pura Ulun Danu Batur antara lain Jero krama desa.

Jika didengar secara seksama, maka bahasanya seperti ini: "Mule keliki mula biyu. mula abedik mupu liu, balik sinuryak".

Jika dimaknai artinya adalah: Apa yang kita tanam, walaupun sedikit akan menghasilkan sesuatu yang lebih.

Arti yang lebih luas yaitu apa yang kita tanam atau persembahkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, atas kemurahhatian Beliau maka hasil yang kita dapat akan jauh lebih banyak dari apa yang kita harapkan, tentunya jika didasari atas sikap ketulusan hati.

Matiti suara selanjutnya adalah: "baas barak baas putih. Sane daak dadi sugih, balik sinuryak".

Artinya: Orang yang kekurangan (miskin) akan menjadi berlebihan (kaya) atau dari keadaan tidak punya menjadi punya.

Makna secara luas bahwa: Apabila manusia mau menjalankan sesuatu yang menjadi kewajiban kita di dunia dengan bckerja keras dan selalu berusaha maka basil dari kerja keras karya sendiri itu akan didapatkan.

Ini karena tidak ada hasil tanpa adanya perbuatan dan tidak ada orang yang memiliki segalanya tanpa bekerja keras.

Metiti Suara selanjutnya adalah: "sampunang nganggen kriya upaya, dana upayane anggen, balik sinuryak".

Artinya: Dalam berbuat sesuatu pakailah kemampuan yang dimiliki diri bukan mcngandalkan kemampuan orang lain.

“Jadi hidup sebagai manusia tentu membutuhkan adanya interaksi dan kerjasama dengan orang lain dan dalam situasi bekerjasama tersebut janganlah mengandalkan kemampuan orang lain untuk memenuhi segala keinginan, namun haruslah berusaha menggali kemampuan dari diri sendiri" paparnya.

Melalui Matiti Suara, Desa Batur tidak hanya memelihara tradisi kuno, tetapi juga meneruskan warisan budaya yang kaya akan makna.

Setiap penyampaian sabda menjadi momen yang memperkuat hubungan antargenerasi dan memberi arahan bagi kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Desa Batur. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Pura Ulun Danu Batur #Kintamani #bangli #hindu #tradisi