Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Perang-perangan di Desa Adat Batur Simbol Perjuangan, Ditarikan saat Karya Ngusaba Kadasa Pura Ulun Danu Batur

I Putu Mardika • Sabtu, 30 Maret 2024 | 15:32 WIB
Tari Perang-perangan serangkaian Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.
Tari Perang-perangan serangkaian Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

BANGLI, BALI EXPRESS- Karya Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali selalu dirangkaikan dengan pementasan Tari Perang-perangan.

Tari Perang-perangan merupakan simbol perjuangan baik saat menjalani masa brahmacari maupun grahasta.

Pangemong Pura Ulun Danu Batur Jero Gede Batur Duhuran menjelaskan, Tari Perang-perangan melibatkan dua orang jojoran dan dua orang jero baris.

Tari Perang-perangan adalah suatu tarian yang memiliki makna yang dalam untuk kehidupan.

Tarian ini dipentaskan tepat sebelum acara Matiti Suara dilaksanakan.

“Tarian ini ditarikan oleh empat orang yang dibagi kedalam dua sesi, masing-masing sesi terdapat dua orang penari,” kata Jero Gede Batur Duhuran.

Pada sesi pertama ada dua orang penari jojoran yang merupakan simbolis masa brahmacari, namun yang menarikan bukan seorang brahmacari melainkan seorang yang sudah mencapai masa grhasta (berumah tangga).

Ini dikarenakan sistem tempekan yang ada di desa Adat Batur.

Setiap orang yang telah memasuki masa grhasta wajib masuk ke dalam tempek yang berbeda dengan seorang yang masih pada masa brahmacari seperti tempek Jero Baris, Jero Gambel, Jero Batu, Jero Undagi dan Jero Pecalang.

Namun jika masih pada masa brahmacari, tempekan yang diperbolehkan yaitu tempek Rohan yaitu khusus untuk anak laki-laki dan tempek Daha Bunga khusus untuk anak perempuan tempekan sebelas.

Pada sesi pertama ini ditarikan oleh Tempek Jro Baris yang masih muda.

Sesi kedua ada dua orang penari Baris Gede dari Tempek Jro Baris yang menarikan adalah Jro baris yang sudah lingsir. Ini merupakan simbol masa grhasta.

“Makna dari Tari Perang-perangan adalah bahwasanya sebagai manusia baik di masa brahmacari maupun grhasta membutuhkan yang namanya perjuangan,” kata Jero Gede Batur Duuran.

“Nah perjuangan ini untuk mencapai kesejahteraan hidup, perang-perangan disini bukanlah perang melawan sesama namun perjuangan mencari kesejahteraan,” tutupnya. (*)

Editor : I Made Mertawan
#bali #Pura Ulun Danu Batur #Kintamani #bangli #tradisi