BALI EXPRESS - Pemedek yang tangkil ke Pura Agung Besakih pasti sangat familiar dengan pelinggih Padmasana tiga atau Padma Tiga yang terdapat di areal Pura Penataran Agung Besakih.
Padma Tiga ini hanya bisa ditemukan di pura terbesar di Bali tersebut. Bahkan, telah menjadi pelinggih utama di Pura Besakih sejak Abad ke-19.
Padmasana ini terdiri dari dasar yang di atasnya terdapat tiga padmasana, yang masing-masing berdiri di atas Bedawang Nala yang dililit oleh ornament dua naga kosmik, yakni Naga Basuki dan Anantaboga.
Jika dilihat secara seksama, pada bagian dasar (altar) dari Pelinggih Padma Tiga terdapat ukiran berupa patung dua naga yaitu Naga Anantaboga dan Naga Basuki yang berada pada bagian depan.
Baca Juga: Kisah Spiritual di Pura Luhur Pucak Petali, Destinasi Mistis di Bali yang Penuh dengan Keunikan
Kemudian ragam hias berupa karang gajah yang berada pada pojok, karang boma, karang paksi, serta pada bagian belakangnya terdapat ornamen berupa candrasengkala.
Di atas dasar (altar) inilah berdiri sejajar 3 Pelinggih Padmasana yang disebut dengan Padma Tiga
Pada ornamen bagian kaki (tepas) terdapat ukiran yang berwujud Bedawang Nala (empas/kura-kura) yang dibelit oleh Naga Tatsaka. Kemudian juga ada ukiran karang gajah (asti), dan karang paksi.
Bagian badan (tengah) dari Padmasana terdapat ragam hias berupa pepalihan, karang goak, simbar, karang asti/gajah, dan burung garuda.
Pada bagian kepala atau sari terdapat singhasana seperti kursi yang diapit oleh Naga Tatsaka yang terbuat dari paras yang diukir.
Pada bagian belakangnya terdapat ulon, namun pada bagian tengahnya tidak terdapat ukiran lukisan Sang Hyang Acintya atau Sang Hyang Taya sebagai simbol perwujudan Ida Sang Hyang Widhi yang biasa terdapat pada pelinggih Padmasana.
Baca Juga: Alasan Umat Hindu di Bali Melakukan Ritual di Perempatan atau Disebut Catus Pata
Ragam hias yang terdapat pada Pelinggih Padma Tiga tidak jauh berbeda dengan ragam hias yang ada pada padmasana lainnya.
Akan tetapi pada Pelinggih Padma Tiga bentuk ragam hiasnya masih sederhana yang diistilahkan dengan pepolosan atau lelengisan
Jika ditelisik secara detail, dua patung naga yang ada pada bagian depan pelinggih padma tiga yang ada pada Penataran Agung Besakih hanya sebagai hiasan saja.
Ornamen ini ditempatkan sebagai pengapit tangga menghadap ke depan.
Lekukan ekornya mengikuti tingkat-tingkat tangga ke arah atas perwujudan Ular Naga dengan mahkota kebesaran hiasan gelung kepala.
Kemudian bebadong leher anting-anting telinga, rambut terurai, rahang terbuka, taring gigi runcing lidah api bercabang.
Patung naga sikap tegak bertumpu pada dada, ekor menjulang ke atas gelang dan permata di ujung ekor.
Patung naga sebagai penghias bangunan ditempatkan sebagai pengapit tangga menghadap ke depan lekuk-lekuk ekor mengikuti tingkat tingkat tangga ke arah atas.
Ornamen bedawang nala yang ada pada Pelinggih Padma Tiga sangat jelas terlihat baik pada bagian kepala tubuh, kaki dan ekornya, yang mana diikat oleh seekor naga yaitu Naga Tatsaka.
Sesuai dengan cerita maupun mitologi keberadaan badawanganala, maka secara fisik penempatannya pada pelinggih padma tiga di Pura Penataran Agung Besakih menempati posisi paling bawah pada bagian kaki (tepas).
Letak Badawanganala dililit oleh seekor naga dimana kepala naga tersebut berada tepat di atas kepala dari badawanglala.
Secara alamiah, badawang atau kura-kura memiliki bentuk kepala yang lonjong dengan mata sipit serta gigi dua tanpa taring.
Bentuk kepala badawanganala menyerupai kepala topeng barong khas Bali.
Disamping bagian kepala yang terlihat begitu jelas, tampak juga bagian kaki dari badawanganala yang terlihat keluar pada bagian pojok dari masing masing Pelinggih Padma Tiga.
Ornamen Karang Gajah/Karang Asti terdapat pada Pelinggih Padma Tiga berada pada dasar (altar) bangunan dan Bagian Kaki (Tepas) yang diletakkan pada sudut-sudut bebaturan dari bangunan.
Pada dasar (altar) bagian belakang bangunan pelinggih padma tiga terdapat ornamen atau hiasan berupa penanggalan berupa candrasengkala.
Penanggalan Candrasangkala ini menjadi sumber pengetahuan tentang usia dari pelinggih Padma Tiga ini.
Pemangku di Pura Penataran Agung Besakih, Jro Mangku Darma menjelaskan bahwa, pada sistem penanggalan tersebut terdapat gambar bungkit ngantih (orang menenun), bumi, apit lawangan, dan bulan.
Dinyatakan bahwa menunjukkan angka tahun 1921.
“Diperkirakan bahwa pada tahun 1921 pada awalnya dibangunnya pelinggih Padma Tiga,” jelasnya.
Lebih lanjut jro Mangku Dharma juga memaparkan bahwa, pada tahun 1922 pada jaman penjajahan, foto asli dari bangunan Pelinggih Padma Tiga di bawa ke Belanda oleh penjajah.
Sehingga pernah bangunan Padma Tiga pada tahun 1922-1966 tidak seperti bangunan Padma Tiga sekarang ini.
“Akhirnya pada tahun 1967 ditemukanlah foto tertua dari bangunan Padma Tiga sehingga dipugarlah kembali pelinggih Padma Tiga menjadi Pelinggih yang sekarang ini," ungkapnya.
"Bentuk bangunan dari pelinggih padma tiga sekarang ini adalah merupakan bentuk bangunan aslinya atau bangunan tertua,” paparnya.
Pada bangunan Pelinggih Padma Tiga terdapat beberapa ornamen Karang Boma yang diletakkan pada dasar dan sela-sela atau ruang kosong dalam Pelinggih Padma Tiga.
Karang Boma terdapat pada dasar, tepas dan bagian batur dari Pelinggih Padma Tiga
Pada bagian badan atau tengah pelinggih padma tiga juga terdapat ornamen berupa karang paksi.
Posisi ornament karang paksi ini berada pada bagian sudut dari badan Pelinggih Padma Tiga.
Jro Mangku Darma mengungkapkan Garuda pada Pelinggih Padma Tiga terdapat pada bagian tengah belakang.
Namun ornamen garuda yang ada pada pelinggih padma tiga tidak begitu jelas seperti pada pelinggih padmasana yang ada pada beberapa pura, semua bentuk ornamen yang ada bentuknya sangat sederhana.
Baca Juga: Mengenal Keunikan Tarian Tradisional Bali Sanghyang Bojog Milik Desa Adat Bugbug
“Ornamen Singgasana atau kursi yang terdapat pada Pelinggih Padma Tiga, diapit oleh dua naga tatsaka. Namun pada bagian kepala (sari) ini tidak terdapat gambaran/lukisan Acintya,” sebutnya. ***
Editor : I Putu Suyatra