Joged Pingitan: Tarian Sakral dalam Tradisi Hindu Bali di Desa Tegenungan, Gianyar, Ada Keunikan bagi Penarinya yang Wajib Diikuti
I Putu Mardika• Sabtu, 6 April 2024 | 00:54 WIB
TARI : Tari Joged Pingitan di Desa Adat Tegenungan Gianyar, salah satu keunikan tradisi Hindu di Bali.
GIANYAR, BALI EXPRESS - Desa Adat Tegenungan Kemenuh, Gianyar, memelihara keindahan dan kesakralan Joged Pingitan, sebuah tarian yang dipenuhi dengan nilai sejarah dan tradisi yang mendalam bagi umat Hindu setempat.
Tarian ini tidak hanya menjadi bagian penting dari budaya Bali, tetapi juga berperan dalam memperkuat ikatan sosial dan spiritual masyarakat setempat.
Menurut Dewa Putu Yasa, seorang tokoh adat yang dihormati di Desa Tegenungan, Joged Pingitan adalah wujud penghormatan kepada Ida Bhatara Ratu Mas Magelung, yang diyakini membawa berkah dan kesejahteraan bagi penduduk desa.
Pementasan tarian ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat, menjadi rutinitas dalam upacara-upacara adat dan ritual keagamaan.
Simbolisme dalam Joged Pingitan sangatlah kuat, terutama melalui gelungan yang dipakai oleh para penari.
Gelungan ini tidak sekadar aksesoris, melainkan representasi langsung dari Ida Bhatari, yang dipercayai sebagai sumber keberkahan dan perlindungan bagi desa.
Keberadaannya yang telah diturunkan secara turun-temurun menjadi bukti nyata akan hubungan yang erat antara masyarakat dengan tradisi leluhur mereka.
Tidak hanya itu, tarian ini juga memiliki jadwal penyelenggaraan yang tertata dengan baik, dimulai dari bulan November hingga Februari setiap tahunnya, serta dipentaskan pada berbagai upacara adat di desa, seperti Piodalan di Pura Merta Jiwa dan Pura Crangcang Kawat.
Penunjukan penari Joged Pingitan bukanlah hal yang sembarangan, melainkan dipilih dengan cermat dari kalangan remaja putri desa yang dipercayakan oleh masyarakat setempat.
Penggunaan gamelan rindik sebagai pengiring tarian menambah kesan alami dan sakral dalam setiap pertunjukan.
Namun, ada suatu kepercayaan yang tidak boleh dilanggar dalam pementasan Joged Pingitan: penari tidak boleh membawa bekal.
Hal ini bukan hanya sekadar aturan, tetapi juga simbol dari kepercayaan akan kekuatan dan perlindungan dari Ida Bhatari.
Pengalaman masa lalu telah mengajarkan masyarakat akan pentingnya mematuhi tradisi ini, sebagai bentuk penghormatan dan kesetiaan kepada kepercayaan leluhur.
Dengan segala keunikan dan kesuciannya, Joged Pingitan tidak hanya sekadar sebuah tarian, melainkan representasi dari kepercayaan dan tradisi yang mengikat erat masyarakat Desa Tegenungan dengan warisan budaya dan spiritual mereka.
Sebuah warisan yang patut dilestarikan dan dijunjung tinggi sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan lokal.
Joged Pingitan Desa Tegenungan Gianyar: Tari Sakral Penuh Makna
Kesakralan Joged Pingitan:
Representasi Ida Bhatara Ratu Mas Magelung, pembawa kesejahteraan bagi desa.
Gelungan penari disakralkan, disimpan di Bale Pangaruman, Pura Dalem.
Dipercaya menyembuhkan penyakit, bunga kamboja di gelungan dipegang dengan bibir untuk "obat".
Pertunjukan Joged Pingitan:
Dilaksanakan Kajeng Kliwon Sasih Kalima (November) - Tilem Kaulu (Februari), dan saat piodalan/wali di Kahyangan Tiga dan Kahyangan desa.
Diiringi gamelan rindik, bebas bagi siapa saja yang bisa menari.
Penari ditunjuk dari 10 remaja putri desa, tidak boleh membawa bekal saat pentas.
Keunikan Joged Pingitan:
Penari mewakili Ida Bhatari, sehingga tidak perlu bekal penolak bala.
Pernah ada kejadian penari pingsan karena membawa bekal, menunjukkan kekuatan Ida Bhatari.
Masyarakat percaya Ida Bhatari menyembuhkan penyakit melalui bunga kamboja di gelungan.