Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gunakan Base Tegeh saat Mepenyari dalam Tradisi Hindu Bali di Sembiran: Upacara Bebas Penuh Makna 

I Putu Mardika • Sabtu, 6 April 2024 | 15:17 WIB

Suasana Desa Sembiran, Buleleng, Bali.
Suasana Desa Sembiran, Buleleng, Bali.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Upacara Bebas/Mepenyari merupakan salah satu rangkaian penting dalam prosesi pernikahan adat di Desa Sembiran, Buleleng, Bali. Salah satu sarana yang digunakan dalam ritual Hindu ini adalah base tegeh, yang memiliki makna simbolis purusa dan pradana.

Banten base tegeh diletakkan bersamaan dengan banten lainnya di bale, sebagai simbol penyatuan dua individu dalam pernikahan.

Bendesa Adat Sembiran, Nengah Aijaya, menjelaskan bahwa dalam prosesi ini, terdapat berbagai banten lain yang dibawa, seperti bantal, minggah timpal api, base di wakul, dan base tubungan.

Baca Juga: Tradisi Perkawinan Hindu Unik di Bali: Ada Ritual Tambahan Bagi Pria di Desa Sembiran Menikahi Wanita dari Luar Desanya

Di sanggah/merajan mempelai wanita, terdapat pula banten base tubangan, base diwakul, pipis penguluang 5.000 kepeng, pipis sokan 50.000 kepeng, dan banten pajegan.

Upacara Bebas/Mepenyari hanyalah satu dari serangkaian ritual pernikahan di Desa Sembiran.

Setelahnya, masih ada beberapa prosesi lain yang harus dilalui, seperti:

1.  Merebu

Prosesi nunas tirtha yang dilaksanakan pada bulan mati (tilem) setelah upacara perkawinan.

2.  Tebus Tukad Ambung

Prosesi ngulapin kehadapan pitare/pitari dengan tujuan memohon keselematan.

3.  Melis

Prosesi pembersihan atau mawinten menurut dresta desa Sembiran yang dilaksanakan di pura cungkub.

4.  Kembaligi

Prosesi pembersihan yang dilaksanakan di Pura Desa dengan tujuan agar kedua mempelai selalu dalam keadaan sehat dan dilindungi oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

5.  Tebus Menek

Prosesi pembersihan terakhir yang dilaksanakan di rumah mempelai laki-laki. Tujuannya agar kedua mempelai dapat memasuki area utama mandala pura, yang merupakan kepercayaan bagi masyarakat Desa Sembiran.

"Apabila belum melaksanakan upacara Tebus Menek maka kedua mempelai belum diijinkan masuk ke dalam utama mandala pura, melainkan hanya sampai di area madya mandala pura," jelas Nengah Aijaya.

Prosesi pernikahan di Desa Sembiran ditutup dengan ritual Ngaturin, di mana kedua mempelai harus menghaturkan godel/sapi telu tegen (enam ekor sapi) sebagai simbol pengorbanan dan rasa syukur.

Baca Juga: Sejarah Tari Kecak: Pesona Mistis dan Keunikan Budaya Bali yang Mendunia

Upacara Bebas/Mepenyari dengan base tegeh menjadi salah satu tradisi unik yang masih dilestarikan di Desa Sembiran.

Upacara ini tidak hanya sakral, tetapi juga mengandung makna simbolis yang mendalam tentang penyatuan dua individu dan doa untuk kehidupan pernikahan yang bahagia dan sejahtera. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#sembiran #bali #adat #hindu #buleleng #pernikahan