Membangun Rumah dengan Kearifan Lokal Bali: Panduan Lengkap Membagi Pekarangan
I Putu Suyatra• Sabtu, 6 April 2024 | 22:46 WIB
Ilustrasi pekarangan rumah di Bali
BALI EXPRESS - Membangun rumah dan membagi pekarangan di Bali bukan hanya tentang mendirikan struktur fisik, tetapi juga tentang mengikuti tradisi dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Panduan ini akan membantu Anda memahami langkah-langkah penting dalam membangun rumah dengan kearifan lokal Bali, mulai dari pemilihan pekarangan hingga upacara ngaruwak karang.
Pemilihan lokasi yang tepat untuk membangun rumah merupakan langkah awal yang krusial dalam memastikan keberhasilan pembangunan yang akan datang.
Sebuah pemukiman yang dirancang dengan cermat dapat memberikan manfaat yang besar bagi pemiliknya.
Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan dengan matang setiap aspek dalam proses pemilihan lokasi, termasuk faktor tradisional yang telah terbukti efektif.
Pemukiman yang sesuai dengan kebutuhan dapat memberikan landasan yang kokoh untuk memulai proses pembangunan.
Di Bali, masyarakat sejak zaman dahulu telah mengenal cara-cara tradisional dalam mengukur lokasi, seperti menggunakan satuan ukuran seperti sikut satak dan sikut domas.
Meskipun penggunaan satuan-satuan ini tidak selalu sesuai dengan pengukuran modern, namun prinsip-prinsip tradisional tersebut masih relevan, terutama jika pekarangan terbatas atau berukuran sempit.
Pinandita Drs. I Ketut Pasek Swastika menegaskan bahwa walaupun memiliki pekarangan yang terbatas, pembangunan yang berkualitas masih dapat dicapai dengan memperhatikan prinsip-prinsip tradisional.
Salah satu tahapan penting dalam proses ini adalah pengukuran dan pembagian pekarangan.
Secara tradisional, pekarangan dibagi menjadi empat bagian dengan menarik dua garis yang berpotongan di tengah-tengahnya, yang dikenal sebagai catus pata.
Bagi masyarakat Bali yang memandang arah mata angin sebagai pedoman, pembagian tersebut dilakukan sesuai dengan arah mata angin utara-selatan dan timur-barat.
"Sedangkan bagi yang berpatokan pada ketinggian atau gunung, pembagian dilakukan dengan mempertimbangkan letak yang lebih tinggi dan rendah," ungkapnya.
Setelah pembagian pekarangan dilakukan, setiap bagian diberi nama yang sesuai dengan mata angin yang terkait, seperti Sri, Aji, Rudra, dan Kala.
Setiap bagian memiliki peruntukan yang spesifik, seperti tempat mrajan, rumah, palinggih, dan teba.
Namun, dalam situasi di mana rumah sudah berdiri dan tidak sesuai dengan perhitungan tradisional, penyesuaian masih dapat dilakukan dengan memperhatikan pentingnya posisi-posisi kunci dalam rumah.
Langkah berikutnya yang tak kalah penting adalah menentukan letak pintu masuk pekarangan yang sesuai.
Bahkan dalam situasi di mana bangunan memiliki beberapa lantai, prinsip-prinsip tradisional masih dapat diterapkan dengan memperhatikan etika dan kenyamanan penghuni.
Selanjutnya, dalam proses pembangunan fondasi, prinsip-prinsip tradisional juga tetap berlaku.
Fondasi haruslah lebih tinggi dari permukaan jalan untuk mencegah masalah-masalah yang mungkin timbul akibat masuknya air hujan ke dalam pekarangan.
Pengukuran fondasi menggunakan satuan tradisional seperti sikut gemel juga masih dapat diterapkan dengan mengkonversi ukuran tersebut ke dalam satuan modern.
Pada tahap akhir, upacara ngaruwak dilakukan untuk memohon anugerah Tuhan dan memastikan kekokohan bangunan secara spiritual.
Prosesi ini mencakup serangkaian upakara yang dipimpin oleh sulinggih atau pamangku, serta melibatkan seluruh anggota keluarga.
Dengan memperhatikan prinsip-prinsip tradisional ini, pembangunan sebuah pemukiman dapat menjadi lebih harmonis dengan lingkungan sekitar dan mendapat dukungan spiritual yang kuat.
Upaya untuk menggabungkan kebijaksanaan tradisional dengan teknologi modern dapat menghasilkan pemukiman yang berkualitas dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Pemilihan Pekarangan:
Lakukan pengukuran dengan teliti, pertimbangkan ukuran tradisional seperti sikut satak, sikut domas, dan sebagainya.
Perhatikan arah mata angin atau konsep hulu teben.
Bagi pekarangan menjadi empat dengan garis yang berpotongan di tengah-tengah (catus pata).
Berikan nama pada masing-masing bagian sesuai mata angin dan peruntukannya (Sri, Aji, Rudra, Kala).
Pengukuran Tata Letak Fondasi:
Gunakan pakem tradisional Astha Kosala-Kosali dan Astha Bhumi.
Ukuran fondasi berdasarkan ukuran kepala keluarga (gemel).
Fondasi mrajan paling tinggi, diikuti panunggun karang, rumah, dan teba.
Lakukan konversi ukuran gemel ke sentimeter untuk memudahkan pengukuran.
Upacara Ngaruwak Karang:
Dilaksanakan oleh sulinggih atau pamangku dengan upakara/banten.
Bertujuan agar bangunan mendapat anugerah dan kokoh secara niskala.
Siapkan upakara pangruwak, bata dasar, Sanggah Cucuk/surya, ayam biying, dan sebagainya.
Lakukan pembersihan areal, puja stawa, pacaruan ayam biying, dan penempatan bata dasar.
Bersihkan lubang fondasi secara simbolis, percikkan tirta, dan purwa daksina.
Lakukan persembahyangan di depan Sanggah Surya dan siramkan wangsuhpada ke lubang fondasi.