Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Punya Enam Belas Musuh, Sulinggih Hindu Ibarat Tukang Cuci Hingga Pedagang Kapur: Ini Tantangannya

I Putu Mardika • Selasa, 9 April 2024 | 18:05 WIB
TUKANG CUCI: Punya enam belas musuh yang harus diatasi, sulinggih diibaratkan sebagai tukang cuci hingga pedagang kapur yang harus memiliki kesabaran tinggi.
TUKANG CUCI: Punya enam belas musuh yang harus diatasi, sulinggih diibaratkan sebagai tukang cuci hingga pedagang kapur yang harus memiliki kesabaran tinggi.

BALI EXPRESS - Dosen Fakultas Brahmawidya, UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Hari Harsananda menjelaskan, sulinggih Hindu harus memiliki tiga sifat yang mirip dengan seorang raja, menguasai segala ilmu, harus sabar, dan mampu menahan suka dan duka, serta mampu hidup menyendiri.

Seorang sulinggih juga harus mampu membersihkan segala jenis kekotoran dari dalam hati untuk menghilangkan segala macam rintangan untuk memperoleh kelepasan.

Sulinggih Hindu juga diibaratkan seorang tukang cuci karena harus bisa menyatu dengan warna putih bersih hati yang menjadi tali penuntun menuju surga dan moksa.

Sedangkan kesadaran yang putih bersih bisa merangsang pencapaian dalam kehampaan diibaratkan pedagang kapur.

Sulinggih Hindu diibaratkan seperti tukang kayu karena seorang sulinggih harus bisa menjaga putih bersih hatinya karena hanya dengan itu dia bisa bebas.

Sulinggih Hindu harus mampu mengalahkan semua musuh internalnya, maka diibaratkan seorang prajurit.

Enam belas musuh terletak di mulut, tangan, kaki, anus, alat kelamin, kulit (untuk rasa), lidah, hidung, dan telinga.

Sulinggih harus mampu mengendalikan keinginan, kemarahan, kebingungan, mabuk, kedengkian, dan kekejaman.

“Akan ada kedamaian bathin yang dapat membawa kebahagiaan setelah enam belas musuh ditaklukkan,” ucapnya.

Seperti diketahui, peran sulinggih begitu vital dalam meningkatkan sradha bakti umat Hindu. Sasana sulinggih sebagai orang yang disucikan, menjadi panutan bagi semua orang.

Rupanya, ajaran terkait kepanditaan diulas dalam berbagai lontar, salah satunya lontar Tutur Gong Besi.

Baca Juga: Gaet Yudi Kresna, Ini Lirik Lagu “Ngalih Dingin” yang Dipopulerkan oleh Penyanyi Bali Agustin

Lontar Tutur Gong Besi memuat ajaran terkait kepanditaan, pengetahuan apa yang patuh diketahui dan dikuasai oleh seorang pandita dalam menjalankan tugasnya.

Pengetahuan ini  wajib dipelajari oleh seseorang yang hendak medwijati.

Lontar ini juga menegaskan bahwa menjadi seorang pandita senantiasa harus berusaha meningkatkan kualitas diri.

Tujuannya agar mampu menguasai pengetahuan-pengetahuan sekala dan niskala dalam menjalankan swadharma.  (*)

Editor : Nyoman Suarna
#pedagang #sulinggih #Musuh #hindu #kapur #tukang cuci