Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lawar Don Jepun: Tradisi Unik dan Sakral Hindu Bali di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem

I Putu Suyatra • Kamis, 11 April 2024 | 17:05 WIB

 

Lawar Don Jepun di Desa Dukuh Penaban, Karangasem Bali, terkait dengan tradisi unik umat Hindu di sana.
Lawar Don Jepun di Desa Dukuh Penaban, Karangasem Bali, terkait dengan tradisi unik umat Hindu di sana.

KARANGASEM, BALI EXPRESS - Ternyata, di balik keindahan daun bunga Jepun yang melimpah di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Bali, tersimpan rahasia kuliner yang mengejutkan!

Warga setempat telah mengungkapkan bahwa daun cantik ini bisa diubah menjadi hidangan lezat yang tak terduga: Lawar Bali.

Selama ini, makanan khas Bali yang terbuat dari daging disajikan dengan berbagai bumbu khas.

Namun, warga Desa Adat Dukuh Penaban telah menemukan cara unik untuk mengubah don bunga Jepun menjadi bahan utama lawar yang tak hanya lezat, tetapi juga sarat akan tradisi dan sejarah.

Setiap penampahan Galungan, Kuningan (Hari Raya Hindu Bali), dan saat piodalan di Pura Puseh, warga desa ngaturang lawar don bunga Jepun dengan penuh kehormatan dan pengabdian.

"Tradisi ini, meskipun tidak memiliki catatan tertulis yang jelas, diyakini telah diturunkan dari leluhur mereka sebagai bentuk penghormatan terhadap pura setempat," kata Tokoh Adat Dukuh Penaban I Nengah Suarya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pada Rabu (9/1/2019) lalu.

Menurut cerita turun temurun, pembangunan Pura Puseh di Desa Adat Dukuh Penaban memakan waktu yang cukup lama.

Sebagai komitmen mereka terhadap pembangunan pura, warga setempat berjanji untuk secara rutin ngaturang lawar don bunga Jepun setiap kali upacara adat penting dilaksanakan.

Tradisi ngaturang lawar don bunga Jepun ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan kepercayaan masyarakat desa.

Meskipun awalnya makanan ini hanya disajikan pada upacara-upacara adat tertentu, kini telah menjadi hidangan yang lebih umum dan terjangkau bagi para pengunjung yang ingin merasakan cita rasa unik Bali.

Tidak hanya sebagai hidangan adat, don bunga Jepun juga menjadi daya tarik wisata bagi Desa Adat Dukuh Penaban.

Dengan mengimbau warga untuk menanam Jepun di pekarangan rumah masing-masing, desa ini berupaya memastikan ketersediaan bahan baku untuk menjaga tradisi dan mengembangkan potensi pariwisata lokal.

Dengan rahasia kuliner yang terungkap dan upaya pelestarian tradisi yang kuat, Desa Adat Dukuh Penaban menawarkan pengalaman wisata yang mendalam bagi para pengunjung yang ingin menyelami kekayaan budaya Bali yang autentik.

Sejarah Tradisi Nyaud Lawar Don Jepun:
  • Berawal dari pembangunan Pura Puseh di Bukit Ngandang pada tahun 1658.
  • Leluhur desa berjanji akan mempersembahkan lawar don Jepun jika pembangunan pura selesai.
  • Tradisi ini dilestarikan hingga saat ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Proses Pembuatan dan Persembahan Lawar Don Jepun:

  • Daun Jepun yang digunakan tidak boleh terlalu tua atau muda.
  • Daun dicincang halus, direbus, dan diolah menjadi lawar dengan bumbu khas Bali.
  • Lawar dipersembahkan di semua palinggih desa, total 108 tandingan.
  • Biasanya dinikmati oleh pemangku dan krama desa.

Perkembangan Tradisi:

  • Sejak tiga tahun lalu, warga mulai berani membuat lawar don Jepun untuk konsumsi pribadi.
  • Desa Adat Dukuh Penaban mulai mengembangkan wisata kuliner dengan lawar don Jepun sebagai salah satu hidangan unggulan.
  • Warga diimbau untuk menanam pohon Jepun di pekarangan rumah untuk memudahkan proses nyaud.

Tradisi nyaud lawar don Jepun merupakan tradisi unik dan sakral yang mencerminkan nilai budaya dan spiritualitas masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban.

Baca Juga: Memahami Cakra dan Kegunaannya: Tujuh Utama, Ratusan Menengah, dan Ribuan Kecil, Begini Cara Pembersihannya

Tradisi ini dilestarikan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan menjaga hubungan harmonis dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa. ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #unik #jepun #lawar #hindu #kuliner #tradisi