- Berawal dari pembangunan Pura Puseh di Bukit Ngandang pada tahun 1658.
- Leluhur desa berjanji akan mempersembahkan lawar don Jepun jika pembangunan pura selesai.
- Tradisi ini dilestarikan hingga saat ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Proses Pembuatan dan Persembahan Lawar Don Jepun:
- Daun Jepun yang digunakan tidak boleh terlalu tua atau muda.
- Daun dicincang halus, direbus, dan diolah menjadi lawar dengan bumbu khas Bali.
- Lawar dipersembahkan di semua palinggih desa, total 108 tandingan.
- Biasanya dinikmati oleh pemangku dan krama desa.
Perkembangan Tradisi:
- Sejak tiga tahun lalu, warga mulai berani membuat lawar don Jepun untuk konsumsi pribadi.
- Desa Adat Dukuh Penaban mulai mengembangkan wisata kuliner dengan lawar don Jepun sebagai salah satu hidangan unggulan.
- Warga diimbau untuk menanam pohon Jepun di pekarangan rumah untuk memudahkan proses nyaud.
Tradisi nyaud lawar don Jepun merupakan tradisi unik dan sakral yang mencerminkan nilai budaya dan spiritualitas masyarakat Desa Adat Dukuh Penaban.
Tradisi ini dilestarikan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan menjaga hubungan harmonis dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa. ***