Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Di Balik Keindahan Arsitektur Bali: Ini Rahasia yang Disembunyikan

Nyoman Suarna • Sabtu, 13 April 2024 | 16:47 WIB
SANGGAH: Salah satu bangunan tradisional Bali yang dibuat berdasarkan aturan-aturan tertentu oleh para arsitektur sehingga memiliki keindahan.
SANGGAH: Salah satu bangunan tradisional Bali yang dibuat berdasarkan aturan-aturan tertentu oleh para arsitektur sehingga memiliki keindahan.

BALI EXPRESS – Di balik keindahan arsitektur Bali, tersembunyi rahasia dan pengetahuan yang mendalam tentang seni dan kaidah pembangunan.

Kaidah pembangunan tersebut tidak hanya menyangkut bentuk dan arsitekturnya, tetapi juga pemilihan bahan, proses pembangunan, dan penghormatan terhadap tradisi.

Bali merupakan tanah yang kaya akan budaya dan tradisi yang terstruktur, telah lama menjadi rumah bagi aturan adat yang kuat dan keberlanjutan budaya yang dipegang teguh oleh para pendahulu.

Terdapat sejumlah rahasia tentang bagaimana masyarakat Bali memahami dan menerapkan prinsip-prinsip penting dalam pembangunan. 

Pada dasarnya, setiap pembangunan di Bali diatur oleh tiga konsep utama: Asta Bumi, Asta Kosala Kosali, dan Aji Janantaka.

Konsep-konsep ini bukanlah sekadar panduan teknis, tetapi juga mencerminkan filosofi dan kepercayaan yang dalam dalam budaya Hindu Bali.

Asta Bumi: Konsep ini menekankan pentingnya tata letak ruang dalam tempat tinggal orang Hindu Bali.

Setiap bagian dari rumah diatur sedemikian rupa untuk menciptakan harmoni dan keseimbangan yang sesuai dengan kepercayaan spiritual masyarakat.

Asta Kosala Kosali: Bagian ini menangani aspek-aspek teknis pembangunan, termasuk bentuk fisik bangunan dan penggunaan ruang.

Bentuk dan fungsi bangunan haruslah selaras dengan kebutuhan dan kepercayaan masyarakat.

Aji Janantaka: Konsep ini berfokus pada pemilihan bahan bangunan. Dalam hal ini, pemilihan kayu memiliki peran yang sangat penting.

Salah seorang undagi (tukang/arsitektur) bangunan tradisional Bali asal Banjar Batan Duren, Desa Cepaka, Kediri, Tabanan I Nyoman Sukanta, 46,I Nyoman Sukanta  menyebut, pemilihan kayu memengaruhi kualitas dan karakteristik bangunan.

Kayu merik, yang terdiri dari berbagai jenis kayu seperti Cepaka Kuning, Bayur, Bunisari, dan Waru Lot, adalah pilihan utama untuk bangunan suci.

Sementara itu, kayu seperti Kwanditan dan Majegau, meskipun langka dan mahal, dianggap sebagai yang terbaik untuk bangunan tinggal.

Namun, penting untuk diingat bahwa penggunaan kayu juga terikat oleh aturan adat dan kepercayaan lokal.

Ada kayu-kayu tertentu yang tidak boleh digunakan, seperti Tunggak Wareng atau kayu bekas terbakar, karena diyakini membawa energi negatif bagi rumah yang dibangun.

Selain pemilihan bahan, proses pembangunan juga memperhatikan waktu dan tradisi lokal.

Setiap tahapan pembangunan, dari penebangan kayu hingga penyelesaian akhir, dipengaruhi oleh hari baik dan aturan adat yang telah diwariskan. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#bali #rahasia #keindahan #arsitektur