Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Tradisi Hindu Bali di Sidetapa, Tegen-tegenan: Ada Hubungannya dengan Nyomia Bhuta Kala

I Putu Mardika • Minggu, 14 April 2024 | 13:21 WIB

Ratusan Krama Desa Adat Sidetapa, Buleleng, Bali, berduyun-duyun menuju Pura Bale Agung (tempat suci Hindu Bali) membawa tegen-tegenan, sebatang kayu yang digantungkan hasil bumi dan pertanian
Ratusan Krama Desa Adat Sidetapa, Buleleng, Bali, berduyun-duyun menuju Pura Bale Agung (tempat suci Hindu Bali) membawa tegen-tegenan, sebatang kayu yang digantungkan hasil bumi dan pertanian

BALI EXPRESS - Ratusan Krama Desa Adat Sidetapa, Buleleng, Bali, berduyun-duyun menuju Pura Bale Agung (tempat suci Hindu Bali) membawa tegen-tegenan, sebatang kayu yang digantungkan hasil bumi dan pertanian khas Sidetapa. Tradisi ini merupakan wujud syukur atas panen berlimpah dan rangkaian akhir upacara nyomia bhuta.

Tegen-tegenan: Simbol Rasa Syukur

Tegen-tegenan adalah tradisi turun-temurun yang dilakukan oleh Krama Desa Adat Sidetapa sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang berlimpah.

Hasil bumi yang digantungkan pada tegen-tegenan beragam, mulai dari umbi-umbian, keladi, singkong, ubi, durian, manggis, ceroring, nanas, biji-bijian seperti biji jail, jawo, godem, dan padi-padian.

Baca Juga: Tri Sadhaka dan Sarwa Sadhaka: Istilah Pendeta Hindu di Bali, Ini Bedanya

Tarian Sakral dan Persembahyangan

Setibanya di Pura Bale Agung, tegen-tegenan dikumpulkan dan diiringi dengan tarian sakral Gandrung dan Sanghyang selama 42 hari nonstop.

Setelah itu, barulah persembahyangan dan ritual dipimpin oleh balian gede dan balian penyanding di bawah tumpukan tegen-tegenan.

Tradisi yang Dilestarikan

Tokoh Desa Adat Sidetapa, Nyoman Parma, menjelaskan bahwa tradisi tegen-tegenan adalah wujud rasa syukur kepada Dewa dan Dewi di Gunung Raung, memohon kesuburan dan kemakmuran.

Baca Juga: Di Balik Keindahan Arsitektur Bali: Ini Rahasia yang Disembunyikan

Tradisi ini juga diyakini dapat menjauhkan desa dari gangguan bhuta kala.

“Tradisi Tegen-tegenan sebagai rangkaian dari 42 hari krama Sidatapa menyomia bhuta kala," ungkapnya.

Tegen-tegenan ini dipersemebahkan kepada para Dewa dan Dewi yang bersthana di Gunung Raung.

Warga meyakini, Dewa yang bersthana di Gunung Raung adalah I Dewa Agung Gunung Raung.

"Pantangannya, bagi mereka yang cuntaka (kotor niskala, Red) dilarang mengeluarkan tegen-tegenan ini,” ujar Parma.

Menarik Wisatawan

Wayan Ariawan, tokoh lain masyarakat Desa Adat Sidetapa, mengungkapkan bahwa tradisi tegen-tegenan merupakan tradisi agraris yang telah dilakoni secara turun-temurun.

Baca Juga: Ritual Hindu Bali Menek Sumbu: Pembersihan Diri Penuh Makna bagi Anak Gadis Pertama di Desa Timbrah

"Tradisi ini juga menarik wisatawan untuk berkunjung ke Sidetapa yang dikenal sebagai Desa Bali Aga," ungkapnya.

Simbol Kehidupan Sederhana Petani

Menurut Ariawan, tradisi tegen-tegenan merepresentasikan kehidupan sederhana petani Sidetapa.

Cara mereka mensyukuri hasil panen yang berlimpah pun dilakukan dengan cara yang sederhana.

Tradisi ini merupakan wujud penghormatan kepada leluhur atas limpahan rahmatnya.

Harapan untuk Masa Depan

Pihak desa berharap tradisi tegen-tegenan dapat terus dilestarikan dengan penuh keikhlasan dan sradha bakti.

Dengan demikian, diharapkan panen di musim depan akan kembali berlimpah dan membawa kemakmuran bagi masyarakat Sidetapa. ***

 

 

 

 
Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #sidetapa #desa adat #hindu #bhuta kala #tradisi