BALI EXPRESS - Di tengah arus modernisasi dan masuknya PAM (air minum) ke Desa Adat Glagahlinggah, Kintamani, Bangli, Bali, kearifan lokal yang telah ada sejak turun-temurun masih dijaga dan dilaksanakan oleh masyarakat setempat.
Salah satu kearifan lokal yang cukup unik tersebut adalah tradisi membuat lubang (rorak) di kebun dengan ukuran panjang 80 cm, lebar 30-50 cm, dan kedalaman 50 cm.
Lubang lubang ini tidak hanya sebagai bagian dari tradisi, tetapi juga memiliki fungsi penting.
Ketua KTH Glagahlinggah Lestari, Nyoman Sumarta menyebut, fungsi lubang lubang tersebut adalah untuk menjaga ketersediaan air tanah, terutama saat musim hujan tiba.
Dengan kondisi tanah yang didominasi oleh tekstur pasir, Desa Adat Glagahlinggah menghadapi tantangan tersendiri dalam mempertahankan ketersediaan air untuk pertanian dan perkebunan.
Tanah pasir yang cenderung mudah melewatkan air membuat kebutuhan air menjadi lebih boros.
Namun, melalui kearifan lokal ini, masyarakat setempat telah menemukan solusi sederhana dan efektif untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Lubang lubang yang dibuat secara manual ini berfungsi sebagai penampung air hujan.
Saat musim hujan tiba, air akan mengumpul di dalam lubang lubang tersebut, kemudian secara perlahan meresap ke dalam tanah dan menyuburkan lahan pertanian dan perkebunan.
Dengan demikian, tradisi lokal ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan air tanaman, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada sumber air yang lebih mahal seperti yang disediakan oleh sistem PAM.
Selain manfaat langsung untuk pertanian dan perkebunan, kearifan lokal ini juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan alam.
“Dengan menjaga ketersediaan air tanah secara alami, masyarakat Desa Adat Glagahlinggah turut berkontribusi dalam pelestarian lingkungan hidup,” ujar Ketua KTH Glagahlinggah Lestari, Nyoman Sumarta.
Meskipun sudah ada PAM yang masuk ke desa, masyarakat setempat tetap memilih untuk melanjutkan kearifan lokal ini, sebagai bagian dari identitas budaya dan upaya menjaga keseimbangan alam.
Dengan demikian, Desa Adat Glagahlinggah tidak hanya menjadi contoh bagi desa-desa sekitarnya, tetapi juga untuk komunitas yang lebih luas dalam upaya pelestarian lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. (*)
Editor : Nyoman Suarna