Tradisi Metanjung Sambuk: Kunci Pernikahan Hindu Bali yang Bahagia dan Langgeng, Jangan Abaikan Sambuk Kupakan
I Putu Suyatra• Minggu, 14 April 2024 | 23:12 WIB
metanjung sambuk
BALI EXPRESS - Pernikahan Hindu Bali kental dengan tradisi dan ritual sakral, termasuk Metanjung Sambuk. Ritual ini sarat makna dan filosofi yang menuntun pasangan menuju kehidupan rumah tangga yang bahagia dan langgeng.
Makna Mendalam Peralatan Upacara:
Setiap peralatan dalam upacara Natab Makala-kalaan memiliki makna mendalam. Jro Mangku Satra menjelaskan bahwa tiga batang sapu lidi melambangkan Tri Kaya Parisudha (pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik).
Pengantin saling mengingatkan untuk menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam menjalani Tri Rna (Rna Adi, Rna Rsi, dan Rna Grhasta).
Menandakan Tujuan Grhasta Asrama:
Upacara ini merupakan langkah penting untuk mencapai tujuan Grhasta Asrama (tingkat kehidupan berumah tangga) yang harmonis dan bahagia.
Prosesi Metanjung Sambuk:
Dalam ritual Matanjung Sambuk, kedua mempelai saling menendang serabut kelapa (matanjung sambuk) sebanyak tiga kali, kemudian diduduki oleh pengantin wanita.
Simbol Kesiapan Mengalah:
Hal ini menunjukkan kesiapan mereka untuk saling mengalah dan menyelesaikan konflik dengan cepat.
Serabut kelapa juga melambangkan pentingnya menjaga kesucian diri untuk mengendalikan kekuatan triguna (Satwam, Rajas, dan Tamas).
Simbol Perawatan Perkawinan:
Serabut kelapa yang disimpan di bawah tempat tidur pengantin melambangkan perawatan dan perhatian yang harus diberikan dalam menjaga hubungan perkawinan.
Pengaruh Sambuk Kupakan:
Sambuk Kupakan memiliki pengaruh signifikan terhadap kelangsungan pernikahan.
Jika tidak dijaga dengan baik, dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang iri dan menyebabkan konflik, pertengkaran, bahkan perceraian.
Kunci Pernikahan Bahagia:
Memahami dan menghormati tradisi serta simbol-simbol sakral dalam pernikahan Hindu Bali adalah kunci untuk memastikan kelangsungan dan keberhasilan pernikahan yang bahagia. ***