BALI EXPRESS – Ada beberapa ritual penting yang harus dilakukan para penari Baris Poleng Katekok Jago di Desa Tegal Darmasaba, Kabupaten Badung, Bali.
Sebelum menari para penari Baris Poleng Katekok Jago di Desa Tegal Darmasaba melakukan persembahyangan guna mendapatkan keselamatan dan kesuksesan saat pentas.
Sebagai surat undangan atau pemberitahuan kepada para penari, yang punya gawe atau si penanggap biasanya membawa sesaji berupa banten pangoleman.
Bendesa Adat Tegal Darmasaba I Ketut Artawan menjelaskan, banten pengoleman tersebut sebagai permohonan sekaligus pengingat dan memastikan bahwa penari akan pentas.
Sebelum pentas, dilakukan upacara yang disebut nuwur. Upacara ini memakai sesaji yang disebut banten penuwuran.
“Sesaji ini sebagai sarana untuk memohon ke hadapan Hyang Taksu agar pementasan berjalan lancar dan sukses,” sebutnya.
Sarana upakara yang dibutuhkan dalam pementasan Tari Baris Poleng Katekok Jago, di antaranya adalah banten peras gede dengan daksina lima buah, banten peras cenik, dan pejati satu soroh.
Selain itu juga dilengkapi banten nasi rongan lima punjung, be karangan, ayam pitik untuk prosesi penyamblehan. Banten segehan mancawarna lima tanding.
Berikutnya adalah banten segehan putih dan kuning sepuluh tanding. Banten pasucian satu soroh, uang tapis (pis bolong), banten rantasan putih kuning.
Pementasan Tari Baris Poleng Katekok Jago di dalam sebuah upacara pitra yadnya dalam tingkatan besar seperti ngaben memiliki makna untuk mengantarkan roh untuk mencapai tujuannya.
Namun sesungguhnya untuk mengingatkan umat manusia yang masih hidup agar memahami hakikat hidup di dunia ini.
“Pementasan tari Baris Poleng Katekok Jago sesungguhnya memiliki pesan moral dan penyadaran diri terhadap hakikat hidup, yang tergambar pada dominasi nuansa poleng,” pungkas Artawan. (*)
Editor : Nyoman Suarna