BALI EXPRESS - Desa Adat Pasedahan, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali terus melestarikan tradisi luhur Tarian Pendet Lanang.
Tarian sakral umat Hindu Bali setempat yang ditarikan oleh para pria remaja ini menjadi bagian tak terpisahkan dari serangkaian acara Usabha Sambah yang diadakan secara rutin di Desa Adat Pasedahan.
Tarian Pendet Lanang ini tidak hanya dianggap sebagai sebuah pertunjukan budaya semata, melainkan juga sebagai simbol kesucian.
Para penari, yang tergabung dalam sekaa truna, dipandang suci karena belum menikah, menjadikan pementasan ini sebagai bagian penting dari upacara adat.
Bendesa Adat Pasedahan, I Wayan Swenten, menjelaskan bahwa Tari Pendet Lanang wajib dipentaskan dalam rangkaian Usabha Sambah yang diselenggarakan setiap Purnama Sasih Kelima di Desa Adat Pasedahan.
"Usabha Sambah sendiri merupakan ritual penting bagi masyarakat Desa Adat Pasedahan," ungkapnya.
Saat pementasan Usabha Sambah, masyarakat Desa Adat Pasedahan melakukan pemujaan pada sanggar surya.
Sanggar surya ini terbuat dari pelepah kayu enau berkaki enam, dan dihiasi dengan berbagai sarana upacara, termasuk berbagai jenis daun dan hasil bumi sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Para penari Tari Pendet Lanang berasal dari sekaa truna Desa Murwa, yang terdiri dari remaja putra desa yang belum menikah, dengan rentang usia mulai dari 12 tahun ke atas.
Pada saat pementasan, para penari membentuk tiga barisan, masing-masing terdiri dari tujuh orang.
Selain membawa gerakan yang sarat makna, para penari juga membawa sarana upacara sebagai bagian dari pementasan.
Mulai dari klungah yang berfungsi sebagai sarana penyucian, canang rawis sebagai persembahan berupa bunga-bunga harum, hingga sanganan yang berisi berbagai hasil bumi setempat.
Busana yang digunakan oleh para penari Tari Pendet Lanang sangatlah sederhana namun sarat makna. Dengan kain kamben, saput, umpal, dan udeng walaka, para penari mempertahankan warisan budaya yang telah ada sejak turun-temurun.
Rias wajah (make-up) para penari tidak terlalu ditonjolkan, mengingat Tari Pendet Lanang lebih bersifat ritual daripada seni pertunjukan.
Hal ini membuat tata rias dan busana para penari Tari Pendet Lanang tetap sederhana, sesuai dengan sifat upacara yang diselenggarakan.
Pementasan Tari Pendet Lanang diiringi oleh gong dengan gending atau tabuh khusus.
"Penari harus memperhatikan irama gong dalam setiap gerakan yang dilakukan, seperti jalan nayog, ngembat, dan ngejit bahu," ungkapnya.
Tari Pendet Lanang dan gending tabuhnya hanya dapat ditemui di Desa Adat Pasedahan, dan hanya dipentaskan saat Usabha Sambah dan odalan di pura-pura yang ada di lingkungan Desa Pakraman Pasedahan.
Meskipun gerakan yang digunakan dalam Tari Pendet Lanang sangat sederhana, namun memiliki makna yang sangat dalam bagi masyarakat Desa Pakraman Pasedahan.
Menjadi bagian dari tradisi yang telah ada sejak lama, Tari Pendet Lanang tetap menjadi simbol keindahan dan kesucian dalam budaya adat Bali.
Di Desa Adat Pasedahan, Karangasem, tradisi leluhur Hindu Bali masih lestari dalam balutan Tari Pendet Lanang. Tarian sakral ini, dibawakan oleh para pemuda yang tergabung dalam sekaa truna, menjadi bagian penting dari rangkaian Usaba Sambah yang dilaksanakan setiap Purnama Sasih Kelima.
Keunikan dan Makna Mendalam Tari Pendet Lanang:
- Wajib Dipentaskan: Tari Pendet Lanang menjadi elemen penting dalam Usaba Sambah, ritual penting bagi krama Desa Adat Pasedahan.
- Simbol Kesucian: Penari dipilih dari sekaa truna (pemuda desa asli) berusia 12 tahun ke atas dan belum menikah, melambangkan kesucian dan kesiapan mereka dalam ritual keagamaan.
- Persembahan dan Pemujaan: Para penari membawa sarana upacara, seperti klungah (kelapa muda), canang rawis (bunga harum), dan sanganan (banten hasil bumi), sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Busana dan Tata Rias Sederhana:
- Pakaian Tradisional: Penari mengenakan busana adat sederhana, terdiri dari kain kamben, saput, umpal/sabuk, dan udeng walaka (mejenggeran).
- Warisan Budaya: Tata busana ini diwariskan turun-temurun dan tidak boleh diubah, sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
- Rias Wajah Natural: Rias wajah tidak mencolok, mencerminkan kesederhanaan dan kesakralan tarian.
Gerakan Sederhana dengan Makna Mendalam:
- Iringan Gong: Tari Pendet Lanang diiringi gong dengan gending/tabuh Pendet Lanang khusus, mengikuti irama dan angsel gong.
- Gerakan Unik: Gerakan tari terdiri dari agem kanan dan kiri, jalan nayog, tanjek, seledet, dan ngembat tangan kiri ke samping.
- Makna Kesederhanaan: Gerakan sederhana ini melambangkan ketulusan dan keikhlasan persembahan kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
Tradisi yang Dipelihara:
- Keunikan Lokal: Gending tabuh dan Tari Pendet Lanang hanya ada di Desa Adat Pasedahan dan ditampilkan saat Usaba Sambah dan odalan di pura-pura desa.
- Pelestarian Budaya: Tari Pendet Lanang menjadi bukti komitmen masyarakat Pasedahan dalam menjaga dan melestarikan tradisi leluhur.
- Sumber Inspirasi: Kesederhanaan dan makna mendalam Tari Pendet Lanang menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai budaya dan spiritualitas.
Tari Pendet Lanang: Perpaduan Kearifan Lokal dan Keindahan Spiritual
Lebih dari sekadar tarian, Pendet Lanang di Desa Adat Pasedahan merupakan perwujudan tradisi sakral yang sarat makna.
Baca Juga: Konservasi Lontar di Banyuatis Buleleng, UPTD Gedong Kirtya Temukan Lontar Tahun 1925
Kesederhanaan gerakan, keunikan busana, dan makna mendalam di balik setiap elemennya menjadi bukti kekayaan budaya Bali yang patut dilestarikan. ***