Piodalan di Pura Kehen dilaksanakan setiap Buda Kliwon Wuku Sinta atau Pagerwesi, yang jatuh setiap enam bulan sekali.
Meskipun prasasti membuktikan keberadaan Pura Kehen, tahun berdirinya pura ini masih menjadi misteri.
"Setiap tiga tahun sekali, Pangusaban Ida Bhatara Turun Kabeh dilaksanakan di Pura Kehen, bertepatan dengan Purnama Kalima. Acara ini diikuti oleh Dewa yang berstana di lingkungan Pura Bebanuan Gebug Domas," kata Tokoh Adat Banjar Gunaksa, I Gusti Agung Jelantik.
Sejak Pura Kehen berdiri, Palinggih Ida Bhatara Sakti Manik Tirta berada di Khayangan Palinggih Panyineban, yang terletak di merajan Jro Mangku Manik Tirta.
Namun, saat Pagerwesi dan Pangusaban di Pura Kehen, Palinggih Ida Bhatara Sakti Manik Tirta dipindahkan ke Palinggih Utama Mandala Pura Kehen bersama palinggih lainnya.
Setelah selesai piodalan, semua Ida Bhatara kembali ke Khayangan Palinggih Panyineban.
"Pada saat Ida Bhatara Guru Sri Adi Kuta Ketana bertahta pada tahun 1126, warga Bangli banyak yang terkena wabah penyakit (gerubug)," katanya.
Akibatnya, banyak masyarakat Bangli yang meninggalkan daerah tersebut.
Ida Bhatara Guru Sri Adi Kuta Ketana memerintahkan agar masyarakat Bangli kembali dan membangun kembali daerah tersebut.
Hal ini mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk. Akibatnya, terbentuklah Banjar Gunaksa.
Warga Banjar Gunaksa berkeinginan membuat Parahyangan.
Mereka memohon restu kepada Raja Bangli dan Prajuru di Pura Kehen untuk ikut serta dalam perampian Pura Kehen.
Akhirnya, permohonan mereka dikabulkan. Setiap hari Jumat (Sukra Kliwon Pujut), dilaksanakan piodalan untuk Ida Bhatara Sakti Manik Tirta.
Setelah piodalan selesai, Ida Bhatara Sakti Manik Tirta dipindahkan kembali ke Khayangan Merajan Jro Mangku Manik Tirta.
Hal ini terjadi setiap enam bulan sekali. Namun, seiring berjalannya waktu, Ida Bhatara Manik Tirta tidak lagi dipindahkan ke Khayangan seperti sebelumnya.
"Ida Bhatara Manik Tirta langsung dipuja di Pura Manik Tirta sampai sekarang dan berstana di meru," tutup Agung Jelantik. ***