Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kemiri: Lebih dari Sekedar Minyak dan Rempah, Sarana Upacara Hindu dan Pengobatan Tradisional di Bali

I Putu Suyatra • Jumat, 26 April 2024 | 19:10 WIB
Kemiri dalam daksina, salah satu sarana upakara umat Hindu di Bali
Kemiri dalam daksina, salah satu sarana upakara umat Hindu di Bali

BALI EXPRESS - Dikenal sebagai sumber minyak dan rempah-rempah, Kemiri, atau yang sering disebut Tingkih di Bali, menjadi elemen penting dalam upacara keagamaan bagi umat Hindu.

Dalam sebuah wawancara dengan Ir. I Nyoman Prastika, M.Si, dari Fakultas Ilmu Kesehatan Ayur Weda UNHI, mengungkapkan bahwa Kemiri, yang secara ilmiah dikenal sebagai Aleurites moluccana, bukan hanya merupakan tumbuhan berguna secara komersial tetapi juga memainkan peran penting dalam budaya dan spiritualitas Bali.

Menurut Prastika, dalam perspektif Ayur Weda, Kemiri termasuk dalam golongan tumbuhan berbunga dan berbuah, dikenal sebagai Wanaspatya.

Meskipun asal-usulnya tidak pasti, Kemiri tersebar luas mulai dari India hingga Polinesia dan Selandia Baru, dengan Indonesia sebagai salah satu tempat utama persebarannya.

Di Indonesia sendiri, Kemiri memiliki beragam nama lokal, termasuk Kembiri, Gambiri, dan Tingkih di Bali.

Selain digunakan sebagai sumber minyak dan rempah-rempah dalam masakan tradisional, Kemiri juga memiliki peran dalam upacara keagamaan di Bali.

Prastika menjelaskan bahwa dalam beberapa upacara, Kemiri ditempatkan bersama bahan-bahan lain seperti telur, kelapa, dan beras sebagai simbol kejiwaan atau laki-laki.

Di samping itu, dalam upacara Tabuh Rah, Kemiri digunakan sebagai simbol bintang sebelum taburan darah binatang untuk Yadnya, sebuah praktik yang umum dalam kepercayaan Hindu di Bali.

"Tidak hanya sebagai simbol keagamaan, Kemiri juga memiliki nilai medis dalam pengobatan tradisional Bali," jelasnya.

Menurut Prastika, Kemiri menghasilkan energi panas di dalamnya, sehingga sering digunakan sebagai boreh atau lulur untuk menghangatkan tubuh.

Dengan perannya yang beragam dari aspek komersial hingga spiritual, Kemiri mempertahankan posisinya sebagai salah satu tumbuhan yang paling berharga di Indonesia, tidak hanya untuk keperluan sehari-hari tetapi juga dalam warisan budaya dan spiritual masyarakat setempat.

Simbolisme dalam Upacara Keagamaan

Dalam sarana upakara Pajati, Kemiri diletakkan bersama dengan telur, kelapa, beras, dan bahan lainnya. Kemiri melambangkan Purusa (kejiwaan laki-laki), ketulusan, dan bintang manifestasi Hyang Widhi.

Pada prosesi Tabuh Rah, Kemiri diadu sebelum ayam diadu untuk persembahan. Kemiri di sini melambangkan bintang, sama seperti pada Pajati, namun dengan tempat yang berbeda.

Manfaat Pengobatan Tradisional

Kemiri, dengan sifatnya yang panas, banyak digunakan dalam pengobatan tradisional Bali. Kemiri diolah menjadi boreh atau lulur untuk menghangatkan tubuh.

Asal Usul dan Persebaran

Kemiri (Aleurites moluccana) berasal dari India dan Cina, kemudian menyebar ke Asia Tenggara, Nusantara, Polinesia, dan Selandia Baru. Di Indonesia, Kemiri memiliki berbagai nama, seperti Kembiri, Gambiri, Hambiri, Kemili, Kemiling, Kareh, dan Tingkih.

Baca Juga: UNIK! Bukan Dikubur atau Dibakar: Begini Prosesi Pemakaman di Desa Les Buleleng Bali

Manfaat Lain Kemiri

Selain minyak dan rempah-rempah, Kemiri juga dimanfaatkan untuk:

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #pengobatan #daksina #ayur weda #pejati #hindu #usada #kemiri #tradisional