BADUNG, BALI EXPRESS - Ritual Naur Kelaci salah satu tradisi Hindu Bali di Banjar Adat Tinggan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung, Bali, dimulai dengan ritual matur piuning.
Proses ini dilakukan di merajan sebagai pemberitahuan simbolis bahwa dalam dua hari akan ada upacara Penaur Kelaci untuk memastikan kelancaran.
Menurut Jro Mangku Gede I Wayan Sumadi Adnyana, matur piuning adalah langkah awal bagi mereka yang akan melaksanakan upacara Penaur Kelaci, diatur oleh kedua mempelai.
Dua hari setelah matur piuning, upacara Penaur Kelaci dilaksanakan di Pura Desa Banjar Adat Tinggan sebagai puncak acara.
Perlengkapan seperti bebantenan dan lainnya langsung dibawa ke pura oleh mempelai yang akan melaksanakan upacara.
Saat tiba di Pura, umat melakukan persiapan di jaba pura dengan memilah-milah banten-banten dan sarana-sarana yang akan digunakan dalam Tradisi Penaur Kelaci.
Setelah semua persiapan selesai, rangkaian upacara dilakukan di pura Desa, tepatnya di sebuah pelinggih.
“Setelah itu barulah dilaksanakan persembahyangan secara bersama-sama dengan masyarakat lainya. Rangkaian upacara Penaur Kelaci dilakukan di pura Desa tepatnya di sebuah pelinggih,” paparnya.
Jero Mangku memulai prosesi upacara puncak dengan upacara penyucian diri.
Kemudian, tirta wangsuh dipercikkan ke palinggih dan banten, diikuti dengan memerciki umat masing-masing tiga kali serta minum tirtha wangsuhpada sebanyak tiga kali.
Proses Naur Kelaci:
- Matur Piuning: Dilakukan dua hari sebelum upacara untuk memberitahukan secara niskala kepada Ida Bhatara.
- Puncak Acara: Upacara Penaur Kelaci di Pura Desa.
- Persiapan: Memilah banten dan sarana di jaba pura.
- Persembahyangan: Dilakukan bersama-sama dengan masyarakat.
- Penyucian Diri Jero Mangku: Diawali dengan upacara penyucian diri Jero Mangku.
- Pemercikan Tirta Wangsuhpada: Ke palinggih, banten, dan umat.
- Nunas Tirtha Wangsuhpada dan Wija: Minum tirta wangsuhpada sebanyak tiga kali dan nunas wija.
Makna Naur Kelaci:
- Memperkenalkan pasangan baru kepada masyarakat desa dan memohon restu.
- Memohon kelancaran dan kesucian pernikahan.
- Memperkuat rasa kekeluargaan dan gotong royong dalam masyarakat.
Editor : I Putu Suyatra