Makna Filosofis dan Fungsi Panunggun Karang bagi Umat Hindu di Bali: Ada Konsekuensi Jika Tidak Patuh
I Putu Suyatra• Minggu, 5 Mei 2024 | 20:02 WIB
Penunggun Karang adalah salah satu pelinggih penting bagi umat Hindu di Bali.
BALI EXPRESS - Di balik megahnya pura dan palinggih atau pelinggih di Bali, terkandung makna filosofis yang mendalam. Salah satu elemen penting yang menyimpan rahasia dan peran khusus dalam kehidupan umat Hindu di Bali adalah Panunggun Karang, atau yang juga dikenal sebagai Sedahan Karang atau Tugu Karang.
Lebih dari Sekadar Arsitektur
Pembangunan Panunggun Karang bukan hanya tentang estetika arsitektur, tetapi memiliki makna filosofis yang erat kaitannya dengan keseimbangan sekala dan niskala, serta hubungan spiritual dengan leluhur dan alam semesta.
Simbol Kehidupan dan Kematian
Kata "Tugu" berasal dari kata "Tang, Ang, dan Ung" yang diringkas menjadi "Karang", melambangkan Ang dan Ah, dwiaksara yang merepresentasikan kehidupan dan kematian.
"Tugu adalah Tang, Ang, dan Ung diringkas menjadi Karang, yakni Ang dan Ah. Dimana Ang dan Ah adalah dwiaksara simbol kehidupan dan kematian," ujar Jro Mangku I Wayan Satra kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (28/12/2016) lalu.
Hubungan dengan Tepuk Kanda
Panunggun Karang memiliki hubungan erat dengan Tepuk Kanda (Kanda Pat), yaitu empat saudara spiritual (keluarga) dari setiap orang Bali.
Hal ini menandakan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan keluarga, baik secara fisik maupun spiritual.
Manifestasi Hyang Wenang dan Hyang Titah
Dalam lontar Sudamala, dijelaskan bahwa Sang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa) bermanifestasi menjadi dua perwujudan: Hyang Wenang dan Hyang Titah.
Hyang Titah berstana di 'hulu' (komplek Sanggah Pamerajan), sedangkan Hyang Wenang berstana di 'teben' (komplek bangunan perumahan) dalam bentuk Sedahan Karang.
Bentuk dan Ornamen yang Penuh Makna
Bentuk Sedahan Karang yang sederhana, namun kekar dengan hiasan 'kuncung' melambangkan sosok Malen (Semar) yang sederhana, namun kuat dan penuh kebijaksanaan.
Peran Sebagai Pecalang dan Pelindung
Lontar Kala Tattwa menyebutkan bahwa Ida Bethara Kala bermanifestasi dalam bentuk Sedahan Karang atau Sawah dengan tugas sebagai Pecalang, melindungi manusia dari gangguan roh-roh gentayangan.
Penempatan dan Upacara
Sedahan Karang idealnya dibangun di dekat pintu gerbang rumah atau di pojok Barat Laut pekarangan rumah.
Upacara piodalan (puja suci) Sedahan Karang disarankan disesuaikan dengan hari kelahiran Dewa yang berstana, yaitu saat 'Tumpek'.
Wastra dan Makna Simbolis
Wastra yang digunakan pada Palinggih Sedahan Karang identik dengan warna hitam dan putih atau poleng, melambangkan keseimbangan antara Dewa dan Bhuta Kala, dua kekuatan yang saling melengkapi.
Persyaratan dan Maknanya
Pembangunan Sedahan Karang memiliki persyaratan khusus, seperti fondasi batu dasar yang terdiri dari dua bata merah marajah 'Angkara' dan 'Ongkara', dan akah berupa tiga buah batu merah marajah 'Ang', putih marajah 'Mang' dan hitam marajah 'Ung'.
Persyaratan ini melambangkan kesucian dan keseimbangan alam semesta.
Konsekuensi Ketidakpatuhan
Jika persyaratan tidak dipenuhi, yang berstana di Panunggun Karang bukan Bhatara Kala, tetapi roh-roh gentayangan.
Hal ini dapat membawa bahaya dan ketidakharmonisan dalam rumah tangga.
"Maka hendaknya tidak main-main atas penempatan maupun keberadaan Panunggun Karang ini," kata Satra.
Panunggun Karang bukan hanya elemen estetika, tetapi memiliki makna filosofis dan peran penting dalam menjaga keseimbangan spiritual dan melindungi kehidupan umat Hindu di Bali.
Memahami makna dan fungsinya dengan benar dapat membawa kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan. ***