Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tempat Melukat di Bali Utara, Pura Tirta Sudhamala: Dulu Tempat Pembuangan Mayat, Kini Jadi Rujukan Para Jomblo

I Putu Mardika • Selasa, 7 Mei 2024 | 21:49 WIB

Pura Tirta Sudhamala di Desa Pakraman Banyuasri, Buleleng, Bali.
Pura Tirta Sudhamala di Desa Pakraman Banyuasri, Buleleng, Bali.

BULELENG, BALI EXPRESS - Bagi pencari spiritual yang ingin melakukan ritual melukat, Pura Tirta Sudhamala di Desa Pakraman Banyuasri, Buleleng, Bali patut dikunjungi. Pura Hindu Blai ini menawarkan aura suci dan air pancuran yang konon memiliki kekuatan pembersihan diri.

Sejarah Pura Tirta Sudhamala yang Kaya

Sejarah mencatat bahwa pada masa pemerintahan Raja Panji Sakti, Sungai Banyumala, yang pada saat itu merupakan perbatasan Kerajaan Buleleng, sering menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting.

Sungai ini menjadi saksi dari beberapa perang di antara wilayah-wilayah di sepanjang Sungai Banyumala, antara lain perang antara Sambangan dengan Bangkang, Bangkang dengan Bangah, dan antara Bangkang dengan Banyumala.

Dalam perang-perang tersebut, banyak penduduk yang gugur dan jasad mereka dibuang ke Sungai Banyumala, mencemari air sungai dengan mayat-mayat yang membusuk di sepanjang alirannya.

Menurut penuturan Jero Mangku Gede Ferry Hariawan, seorang pangempon di Pura Tirta Banyumala, terjadi sebuah peristiwa penting di Sungai Banyumala.

Pada suatu ketika, terjadi ledakan besar yang terdengar sampai radius 500 meter.

Beberapa saat setelah ledakan tersebut, penduduk setempat mendatangi lokasi ledakan dan menemukan sebuah sumber air yang memancar deras di tempat ledakan tersebut.

Sumber air tersebut berasal dari sebuah goa di Sungai Banyumala.

Konon, salah seorang penduduk mengalami kesurupan dan mengatakan bahwa goa tersebut tembus hingga ke Segara Banyumala, meyakinkan penduduk bahwa air yang memancar tersebut adalah air suci yang dapat membersihkan Sungai Banyumala yang tercemar dan beracun.

Legenda Dewa Ayu Manik Sudhamala

Pura Tirta Sudhamala bermula dari keinginan masyarakat Desa Banyuasri untuk mengelola sumber air yang dulu dikenal sebagai Tukad Banyumala.

Ketika masyarakat desa sedang merencanakan penataan tersebut, salah seorang warga mendapat wahyu.

Ida Petapakan yang bernama Dewa Ayu Manik Sudhamala memberikan petunjuk agar ketika bangunan pura selesai, diberi nama Pura Tirta Sudhamala.

Pura Tirta Sudhamala dikenal akan aura spiritualnya dan sumber air suci yang ada di dalamnya, yang diyakini memberikan berkah melalui ritual panglukatan.

"Pura ini dikenal sebagai Pura Kahyangan Desa yang digunakan untuk pembersihan diri, memohon kesembuhan, dan kesehatan melalui prosesi melukat," ungkapnya.

Arsitektur Pura yang Menawan

Areal suci Pura ini menempati luas tidak kurang dari 700 meter persegi, yang terbagi menjadi tiga bagian.

Ada Jaba Pura, yang berfungsi sebagai area parkir, Jaba Tengah atau jeroan pura yang berisi stana Dewa Taksu Manik Geni, dan Utama Mandala, yang merupakan tempat stana Ida Bhatara Dewa Ayu Manik Sudhamala.

Pancuran Sudhamala berada di sisi barat Pura, dipisahkan oleh Sungai Banyumala. Untuk menyeberang sungai, telah dibuat akses berupa jalan beton.

Sumber air pancuran Sudhamala berasal dari tujuh mata air yang berbeda, namun keluar bersamaan melalui mulut patung naga.

Patung naga ini diyakini sebagai manifestasi dari Ida Bhatara Dewa Ayu Manik Sudhamala, yang juga dikenal sebagai Naga Basuki. Ada juga dua patung macan yang menjadi pengawal.

Ritual Melukat di Pura Tirta Sudhamala

Jero Mangku Ferry menjelaskan bahwa untuk melukat, umat Hindu disarankan datang pada hari-hari tertentu seperti Purnama, Tilem, Purwani, Banyu Pinaruh, Ngembak Geni, Kajeng Keliwon, dan rerahinan lainnya.

Dia juga menyarankan persiapan yang perlu dilakukan, seperti membawa banten Peras Pejati Jangkep yang berisi Tegteg Daksina, Canang Sari, Banten Peras, Canang Ajengan, Tipat Gong, Tipat Kelanan, Segehan putih kuning atau panca warna, Banyuawangan, serta Kembang 11 rupa ditambah bunga teratai.

Pengalaman Melukat yang Berkesan

Menurut Jero Mangku Ferry, pemedek yang datang melukat berasal dari berbagai kalangan, agama, dan profesi, termasuk non-Hindu.

Dia menambahkan bahwa banyak permohonan dari pemedek yang dikabulkan, seperti mendapat keturunan, jodoh bagi para jomblo, kesembuhan, dan kesehatan.

Sebagai ungkapan terima kasih, mereka sering kembali ke Pura Tirta Sudhamala untuk mematurkan busana palinggih seperti wastra, tedung, dan dana punia.

Tirta Sudhamala tidak hanya dikenal sebagai tempat melukat, namun juga sebagai sumber air suci yang digunakan oleh masyarakat Hindu untuk keperluan di sanggah merajannya.

Bahkan, dalam upacara Pitra Yadnya atau Ngaben, prosesi ritual "manah toya" yang menggunakan air Tirta Sudhamala memiliki peranan penting. ***

 

 
Editor : I Putu Suyatra
#melukat #bali #jodoh #pura tirta sudhamala #keturunan #hindu #kesembuhan #jomblo #buleleng