BALI EXPRESS - Desa Bugbug, Karangasem, Bali, di masa lampau, memiliki struktur masyarakat yang terbagi dalam berbagai tingkatan, golongan, klen, dan status. Keberagaman ini, sayangnya, memicu berbagai permasalahan berkepanjangan.
Perselisihan, percekcokan, bahkan huru-hara kerap terjadi akibat perebutan kekuasaan antar golongan.
Melihat situasi yang tak kunjung kondusif, Bendesa Mas dengan penuh kebijaksanaan mengeluarkan keputusan tegas yang wajib dipatuhi semua pihak.
Keputusan tersebut menetapkan kesetaraan kedudukan bagi seluruh penduduk desa, tanpa memandang golongan kasta seperti brahmana, waisya, ksatria, dan sudra.
Keputusan ini diambil demi terciptanya ketentraman dan kedamaian bersama.
Sejak saat itu, istilah-istilah yang merujuk pada golongan kasta dihapuskan. Peristiwa ini dikenal dengan istilah "Paca Bugbug", berasal dari nama desa yang berarti "berjatuhan".
Hal ini tercermin dalam kondisi Desa Bugbug saat ini, di mana tidak ada sistem kasta seperti Ida Bagus, Gusti, Dewa, Anak Agung, dan sebagainya.
Baca Juga: Kebiasaan Membakar Uang Saat Ngaben Umat Hindu Bali: Tradisi atau Pemborosan?
"Seluruh penduduk desa menggunakan nama depan seperti Wayan, Nengah, Nyoman, Ketut, Gede, Kade, Komang, dan lainnya," ungkap Kelian Desa Adat Bugbug I Nyoman Purwa Ngurah Arsana.
Menurut Awig-Awig Desa Bugbug, Krama Desa Bugbug terdiri dari empat macam:
1. Krama Desa Ngarep
Keluarga yang memiliki tanah ayahan desa (jumlahnya 120 KK).
2. Krama Desa Sasah Abu
Keluarga yang sudah berkeluarga namun tidak memiliki tanah ayahan desa.
3. Krama Desa Balu Angkep
Keluarga yang terdiri dari bapak dan anak-anaknya yang sudah dewasa, namun tidak memiliki istri/suami.
4. Krama Desa Bulu Angkep
Keluarga yang kedua orangtuanya telah meninggal, dan anak-anaknya yang sudah dewasa (baik laki-laki maupun perempuan) menjadi satu keluarga
Selain keempat macam krama tersebut, ada pula Warga Tamiyu, yaitu pendatang yang belum menjadi anggota masyarakat, baik banjar adat maupun banjar dinas.
Paca Bugbug menjadi bukti sejarah kegigihan masyarakat Desa Bugbug dalam memperjuangkan kesetaraan.
Hingga saat ini, semangat persatuan dan kesetaraan tersebut terus terjaga, menjadikan Desa Bugbug sebagai contoh harmonisasi sosial di Bali. ***