BALI EXPRESS - Dewasa ini globalisasi sangat mempengaruhi zaman. Segala aspek menjadi berubah akibat dari arus globalisasi. Termasuk etika dalam menggunakan busana adat Bali ke pura bagi umat Hindu.
Sejak dahulu hingga sekarang busana adat Bali selalu berubah sesuai perkembangan zaman.
Seharusnya dalam menggunakan busana adat Bali terutama untuk persembahyangan harus sesuai dengan tata cara yang berlaku.
Baca Juga: Empat Golongan Krama Bugbug di Karangasem Bali: Dari Paca Bugbug Menuju Kesetaraan
Namun dewasa ini sebagian umat Hindu terutama para remaja dalam menggunakan busana adat banyak sudah tidak sesuai dengan aturan.
Hal ini bisa terjadi karena pola pikir, mereka tidak mengerti akan makna dari busana adat Bali tersebut.
Untuk itu agar tidak terus-menerus keliru, perlu adanya pemberitahuan kepada masyarakat secara umum tentang tatwa dalam berbusana adat Bali.
Penyuluh Agama Hindu, Ni Wayan Suarti, menjelaskan manusia sebenarnya sudah terlahir sebagai makhluk yang suci.
Lalu mengapa harus berbusana? pakaian itu diciptakan dengan tujuan untuk menutupi badan, dan baju merupakan salah satu bagian dari alat upacara.
Manusia menciptakan sarana upakara dengan tujuan kita bisa lebih memahami ajaran agama kita. Dasar konsep dari Busana adat Bali adalah konsep tapak dara (swastika).
“Tubuh manusia dibagi menjadi tiga yang disebut dengan Tri Angga, yang terdiri dari Dewa Angga, dari leher ke kepala, Manusa angga dari atas pusar sampai leher, dan Butha Angga, dari pusar sampai bawah,” jelasnya.
Pada saat manusia tidak berbusana adat, tubuh manusia masih suci, belum dibagi-bagi menurut konsep Tri Angga berlaku.
Konsep ini baru terbentuk ketika manusia sudah berbusana adat. Sebenarnya tidak ada lontar-lontar yang menunjukkan tentang busana adat Bali.
Secara umum busana adat Bali dibagi tiga yaitu, busana adat Nista, digunakan sehari, ngayah, dan tidak digunakan untuk persembahyangan (busana adat yang belum lengkap).
Kedua busana adat Madya, digunakan untuk persembahyangan (secara filosofis sudah lengkap), dan ketiga busana adat Agung untuk upacara pernikahan/pawiwahan (sudah lengkap secara aksesoris).
Busana adat ke pura untuk putra, dalam menggunakan busana adat Bali diawali dengan menggunakan kamen. Lipatan kain/kamen (wastra) putra melingkar dari kiri ke kanan karena laki-laki merupakan pemegang dharma.
“Tinggi kamen putra kira-kira sejengkal dari telapak kaki karena putra sebagai penanggung jawab dharma harus melangkah dengan panjang. Tetapi harus tetap melihat tempat yang dipijak adalah dharma. Pada putra menggunakan kancut (lelancingan) dengan ujung yang lancip dan sebaiknya menyentuh tanah (menyapuh jagat), ujungnya yang ke bawah sebagai simbol penghormatan terhadap Ibu Pertiwi,” papar Suarti.
Kancut juga merupakan simbol kejantanan. Untuk persembahyangan, kita tidak boleh menunjukkan kejantanan kita, yang berarti pengendalian, tetapi pada saat ngayah kejantanan itu boleh kita tunjukkan. Untuk menutup kejantanan itu maka kita tutup dengan saputan (kampuh).
Tinggi saputan kira-kira satu jengkal dari ujung kamen. Selain untuk menutupi kejantanan, saputan juga berfungsi sebagai penghadang musuh dari luar. Saput melingkar berlawanan arah jarum jam (prasawya).
Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan selendang kecil (umpal) yang bermakna kita sudah mengendalikan hal-hal buruk.
Pada saat inilah tubuh manusia sudah terbagi dua yaitu Butha Angga dan Manusa Angga.
Penggunaan umpal diikat menggunakan simpul hidup di sebelah kanan sebagai simbol pengendalian emosi dan menyama.
Pada saat putra memakai baju, umpal harus terlihat sedikit agar kita pada saat kondisi apa pun siap memegang teguh dharma.
Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan baju (kwaca) dengan syarat bersih, rapi dan sopan.
Baju pada busana adat terus berubah-ubah sesuai dengan perkembangan. Pada saat ke pura kita harus menunjukkan rasa syukur kita, rasa syukur tersebut diwujudkan dengan memperindah diri. Jadi, pada bagian baju sebenarnya tidak ada patokan yang pasti.
Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan udeng (destar).
Udeng secara umum dibagi tiga yaitu udeng jejateran (udeng untuk persembahyangan), udeng dara kepak (dipakai oleh raja), udeng beblatukan (dipakai oleh pemangku).
Pada udeng jejateran menggunakan simpul hidup di depan, di sela-sela mata. Sebagai lambang cundamani atau mata ketiga. Juga sebagai lambang pemusatan pikiran.
“Dengan ujung menghadap ke atas sebagai simbol penghormatan pada Sang Hyang Aji Akasa. Udeng jejateran memiliki dua bebidakan yaitu sebelah kanan lebih tinggi, dan sebelah kiri lebih rendah yang berarti kita harus mengutamakan Dharma,” imbuh Suarti.
Bebidakan yang dikiri simbol Dewa Brahma, yang kanan simbol Dewa Siwa, dan simpul hidup melambangkan Dewa Wisnu Pada udeng jejateran bagian atas kepala atau rambut tidak tertutupi yang berarti kita masih brahmacari dah masih meminta.
Sedangkan pada udeng dara kepak, masih ada bebidakan tapi ada tambahan penutup kepala yang berarti symbol pemimpin yang selalu melindungi masyarakatnya dan pemusatan kecerdasan.
Sedangkan pada udeng beblatukan tidak ada bebidakan, hanya ada penutup kepala dan simpulnya di belakang dengan diikat ke bawah sebagai simbol lebih mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.
Sama seperti busana adat putra, untuk busana ke pura untuk putri pertama diawali dengan menggunakan kamen.
Lipatan kain/kamen melingkar dari kanan ke kiri karena sesuai dengan konsep sakti.
Putri sebagai sakti bertugas menjaga agar si laki-laki tidak melenceng dari ajaran dharma.
Tinggi kamen putri kira-kira setelapak tangan dari mata kaki karena pekerjaan putri sebagai sakti itu sangat banyak jadi putri melangkah lebih pendek.
Setelah menggunakan kamen untuk putri memakai bulang yang berfungsi untuk menjaga rahim, dan mengendalikan emosi.
Pada putri menggunakan selendang/senteng diikat menggunakan simpul hidup di kiri yang berarti sebagai sakti dan mebraya.
Putri memakai selendang di luar, tidak tertutupi oleh baju, agar selalu siap membenahi putra pada saat melenceng dari ajaran dharma. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan baju (kebaya) dengan syarat bersih, rapi, dan sopan.
Penggunaannya sama seperti baju pada putra. Kemudian dilanjutkan dengan menghias rambut.
Pada putri rambut dihias dengan pepusungan. Secara umum ada tiga pusungan yaitu pusung gonjer untuk putri yang masih lajang/belum menikah sebagai lambang putri tersebut masih bebas memilih dan dipilih pasangannya.
Pusung gonjer dibuat dengan cara rambut dilipat sebagian dan sebagian lagi di gerai.
Pusung gonjer juga sebagai simbol keindahan sebagai mahkota dan sebagai stana Tri Murti. Yang kedua adalah pusung tagel adalah untuk putri yang sudah menikah.
Ketiga adalah pusung podgala/pusung kekupu. Biasanya dipakai oleh pedanda istri.
Ada tiga bunga yang dipakai yaitu cempaka putih, cempaka kuning, sandat sebagai lambing dewa Tri Murti.
“Dari uraian diatas, saat kita berhubungan dengan Tuhan yang kita mulai dari bawah. Kita rapikan dan kendalikan dahulu dari bawah lalu ke atas. Nah itulah tahapan-tahapan kita dalam menggunakan busana adat,” tegas Wayan Suarti. ***
Editor : I Putu Suyatra