BALI EXPRESS - Pura Bukit Gumang, yang terletak di Desa Bugbug, Kecamatan/Kabupaten Karangasem, memiliki peran penting dalam ritual masyarakat setempat. Keberadaan pura ini terkait erat dengan cerita rakyat yang berkembang di Desa Bugbug.
Berdiri kokoh di puncak bukit, Pura Bukit Gumang menjadi tujuan utama bagi para pemedek.
Namun, untuk mencapainya, mereka harus menaklukkan ratusan anak tangga dan melewati gerbang raksasa yang mengantarkan menuju alam nirwana.
Dikenal juga sebagai Pura Bukit Batu Kursi, Pura Bukit Gumang menjadi tempat penting dalam legenda tentang stana Ida Bhatara Gumang, yang juga dihormati sebagai Sang Hyang Sinuhun Kidul, beserta permaisurinya, Dewa Ayu Mas.
Pemandangan alam yang menakjubkan dan udara yang sejuk menjadi daya tarik tersendiri bagi Pura Bukit Gumang yang terletak 305 meter di atas permukaan laut.
Sebagai salah satu Dang Kahyangan di Desa Bugbug, pura ini memancarkan aura spiritual yang menenangkan jiwa.
Menurut penjelasan dari Wayan Sudiarta, seorang tokoh pemuda di Desa Bugbug, keberadaan Pura Gumang tidak terlepas dari Pura Bukit Byaha yang terletak di sebuah gili di sebelah selatan Bukit Gumang.
Cerita rakyat menyebutkan bahwa Bhatara Gede Gumang, yang saat itu dikenal sebagai Sang Hyang Sinuhun Kidul dan berstana di Bukit Uluwatu, memutuskan untuk menikahi Dewi Ayu Mas, putri Bhatara dari Bukit Byaha, untuk menjadi permaisuri.
Setelah pernikahan mereka, mereka berdua pergi ke Bukit Gumang dan mendirikan sebuah pura sebagai tempat tinggal mereka.
"Di sana, Bhatara Gede Gumang memerintah sebagai Ida Gede dan tetap tinggal hingga saat ini, dipuja oleh masyarakat Desa Adat Bugbug," ungkapnya.
Ida Gede kemudian memulai pembukaan areal persawahan, mendirikan gubuk-gubuk, mengajarkan pertanian kepada masyarakat sekitar Bukit Gumang, dan mendirikan tempat pande di Malegok yang kini menjadi Pura Pande.
Pembangunan ini dilanjutkan di beberapa tempat lain seperti Mel Pahang, Pangiyu, Gantalan, Gorek, Lebah Kangin (Teba Kangin), dan Delod Poh.
Pada masa itu, penduduk Desa Bugbug berjumlah sekitar 120 orang, terdiri dari 8 orang pemimpin yang disebut Luput dan 112 orang Pengayah yang disebut Krama.
Mereka menjadi asal mula terbentuknya desa Bugbug dan krama desa Bugbug yang disebut “Krama Desa Ngarep i satus roras muwah luput akutus”.
Ida Gede juga membuat sungai disebelah barat Bukit Penyu yang disebut Tukad Buhu untuk mengairi areal sawah. Krama Bugbug berjanji akan mengaturang pangaci (puja wali) dan mengaturang guling dalam upacara mapinton setiap dua tahun sekali, yang dilakukan saat usaba kadulu gede di Pura Gumang.
Namun, banjir yang terjadi dalam waktu yang cukup lama pada saat sasih kawolu menghambat kegiatan masyarakat.
Maka dari itu, Ida Gede memutuskan untuk mempersatukan gubuk-gubuk tersebut menjadi satu desa. Desa tersebut diberi nama Desa Bugbug, yang berarti berkumpul atau Bersatu.
Ritual penting di Pura Gumang, seperti Usaba Kadulu (Aci Gumang), Mabyasa, Nyaik Nasi Palupuhan, dan Mapinton, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bugbug.
Usaba Kadulu atau Aci Gumang adalah upacara piodalan di Pura Bukit Gumang.
"Ritual ini melibatkan Nguntap ngulemin para Dewa/Bhatara-Bhatari di Manca Desa, seperti Bugbug, Bebandem, Datah, Jasri, dan Ngis," ungkapnya.
Upacara Mabyasa adalah rangkaian upacara mengusung dan menarikan jempana/joli-joli usungan para Dewa serta mempertemukan Bhatara Gde Gumang dengan Bhatara Gde Manik Sakti (Putra Mahkota).
Selain itu, ada juga upacara Ngaturang banten pujawali yang dilakukan bersama-sama dengan para Pemangku/Prajuru Dulun Desa dari desa-desa Pakraman Manca Desa.
Upacara Nyaik Nasi Palupuhan diartikan sebagai suatu rangkaian acara makan bersama tanpa membeda-bedakan asal-usul, trah, atau klan dari para pengiring, pengusung, pemundut, atau pemedek.
"Acara ini dilangsungkan di sepanjang halaman natar Bale Agung di Pura Bukit Gumang," jelas Sudiarta.
Sedangkan, Upacara Mapinton merupakan suatu upacara ngaturang banten papintonan berupa pejati yang berisi babi guling.
Upacara ini merupakan ungkapan rasa bhakti dan bukti kesetiaan akan janji atas amanah serta anugrah yang telah diberikan.
Semua upacara ini menjadi bagian dari kekayaan budaya dan spiritual masyarakat Bugbug yang dilestarikan secara turun-temurun. ***