BALI EXPRESS - Pura Luhur Lempuyang, yang terletak di puncak Bukit Bisbis (Gunung Lempuyang) di Karangasem, Bali, merupakan salah satu pura Hindu tertua di pulau dewata ini.
Pura ini termasuk dalam konsep Dewata Nawa Sanga, di mana sembilan dewa utama dipuja di sembilan pura yang berbeda. Pura Lempuyang Luhur dikhususkan untuk memuja Dewa Iswara.
Keberadaan Pura Lempuyang Luhur sudah ada sejak era pra-Hindu.
Berbagai catatan prasasti dan lontar kuno menyebutkan pura ini sebagai salah satu dari tiga pura besar di Bali selain Pura Besakih dan Pura Ulun Danu Batur.
Umat Hindu Bali mengunjungi pura ini tidak hanya untuk bersembahyang, tetapi juga sebagai bagian dari ritual meajar-ajar setelah upacara pengabenan.
Pura Lempuyang Luhur memiliki makna spiritual yang mendalam.
Kata "Lempuyang" berasal dari kata "empu" atau "emong" yang berarti "menjaga".
Konon, pura ini didirikan atas perintah Batara Hyang Pasupati untuk menugaskan tiga putranya menjaga kestabilan Bali dari bencana alam.
Ketiga putra tersebut adalah Bathara Hyang Putra Jaya yang berstana di Gunung Agung dengan pura Pura Besakih, Batari Dewi Danuh yang berstana di Pura Ulun Danu Batur, dan Batara Hyang Gni Jaya yang berstana di Gunung Lempuyang.
Pura Lempuyang Luhur menawarkan panorama alam yang menakjubkan, dengan pemandangan Gunung Agung yang menawan.
Para pengunjung harus mendaki 1.700 anak tangga untuk mencapai puncak dan menikmati keindahan alam tersebut.
Lempuyang: Pecahan Gunung Suci yang Menjadi Tempat Tinggal Para Dewa
Menurut Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, Pura Lempuyang di Karangasem Bali, erat kaitannya dengan Gunung Mahameru, gunung suci yang dianggap sebagai pusat alam semesta dalam kepercayaan Hindu.
Dikisahkan bahwa Sang Hyang Parameswara, dewa tertinggi, ingin memindahkan Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa.
Proses pemindahan ini tidak berjalan mulus.
Beberapa bagian Gunung Mahameru pecah dan jatuh, membentuk jajaran pegunungan di Jawa dan Bali.
Gunung Lempuyang diyakini sebagai salah satu pecahan tersebut.
Sang Hyang Parameswara kemudian menunjuk putranya, Sang Hyang Agnijayasakti, untuk menjaga kesejahteraan Bali.
Baca Juga: COCOK UNTUK IBU-IBU! Tempat Malukat Unik di Bali untuk Awet Muda, Keselamatan, dan Pembersihan Diri
Gunung Lempuyang pun ditunjuk sebagai tempat tinggal Sang Hyang Agnijayasakti dan para dewa lainnya.
Kisah ini menunjukkan bahwa Pura Lempuyang bukan sekadar pura biasa.
Pura ini memiliki sejarah panjang dan hubungan yang erat dengan dewa-dewi dalam kepercayaan Hindu.
Keberadaannya di puncak Gunung Lempuyang menjadikannya tempat yang suci dan penuh makna spiritual.
Menurut Bendesa Adat Purwayu, I Nyoman Jati Pura ini telah menjadi pura kahyangan jagat.
Sehingga dikunjungi oleh banyak umat Hindu Bali dan wisatawan mancanegara yang terpesona dengan keindahan panoramanya.
"Pura Lempuyang Luhur memiliki beberapa pelinggih (bangunan suci) yang unik dan penuh makna," ungkapnya.
Padmasana di bagian utara menghadap selatan merupakan parhyangan Bhatara Luhuring Akasa.
Dua palinggih berbentuk padmasana dengan pondasi menyatu di bagian timur menghadap barat, satu untuk Parhyangan Hyang Gnijaya dan satu lagi untuk Parhyangan para putera beliau.
Selain itu, terdapat Bale Pawedhan atau Piyasan untuk meletakkan sajen dan Gedong Pasimpenan untuk menyimpan alat-alat upacara.
Palinggih Tri Purusa, terdiri dari Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa, merupakan perwujudan Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Pura Lempuyang Luhur memiliki dua jenis upacara aci atau pujawali:
- Setiap enam bulan Bali (210 hari) bertepatan dengan hari Kamis Umanis, wara Dungulan (Umanis Galungan)
- Setiap Purnamaning Wesaka (Purnama sasih kadasa)