MENGWI, BALI EXPRESS - Pura Beji, yang dikenal sebagai tempat untuk melukat (membersihkan diri secara spiritual) bagi umat Hindu, tersebar di berbagai daerah di Bali.
Salah satu pura Beji yang memiliki keunikan tersendiri adalah Pura Beji Suranadi, yang terletak di Banjar Auman, Desa Adat Kekeran, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.
Pura ini dikenal sebagai Pura Taman Beji Suranadi, mirip dengan nama sebuah pura di Lombok.
Akses menuju Pura ini mungkin sedikit membingungkan karena tidak ada plang nama yang mengarahkan.
Namun, untuk memudahkan, dari jalan Raya Denpasar - Gilimanuk, saat mencapai pertigaan Desa Jumpayah, sebelah timur SMK Pariwisata Mengwi, belok kiri dan ikuti jalan tersebut hingga masuk ke Desa Adat Kekeran.
Teruslah lurus hingga batas desa. Di sana, akan terlihat sebuah gang kecil beraspal ke arah barat.
Gang itulah yang menjadi akses langsung ke Pura Taman Beji Suranadi, dengan rumah pemangkunya berada tepat di atas pura.
Menurut Pemangku Pura Beji Taman Suranadi, Mangku Muliati, pura ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.
Sebelum menjadi seperti sekarang, Pura Beji Taman Suranadi, yang berada di area tegalan milik Keluarga Mangku Muliati, hanya terdiri dari gegumuk palingih.
"Pada akhir tahun 1990-an, krama Banjar Auman Kekeran merenovasi Pura Beji Taman Suranadi ini sehingga menjadi pura permanen seperti sekarang," ungkapnya.
Hingga saat ini, Pura Beji Taman Suranadi diurus oleh Krama Banjar Auman Desa Adat Kekeran Kecamatan Mengwi.
Piodalan di pura ini jatuh pada Hari Rabu Pahing Wuku Warigadean. Oleh karena itu, upacara piodalan menjadi tanggung jawab krama banjar, sementara tugas pemangku, menurut Mangku Muliati, hanya sebagai pengantar upacara.
Pura Beji Taman Suranadi dipuja sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dengan Ida Bhatara Wisnu sebagai dewa pemelihara kehidupan di dunia.
Dewa Wisnu juga dikenal sebagai dewa penguasa air, yang bertugas menyucikan segala jenis kotoran duniawi menurut kepercayaan Agama Hindu.
Maka dari itu, Pura Beji ini lebih dikenal sebagai tempat untuk melukat atau melakukan penyucian diri.
"Selain itu, Pura Beji Taman Suranadi juga digunakan sebagai lokasi penyucian Ida Bhatara yang berstana di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Kekeran," ungkapnya.
Pura ini memiliki dua taman, yakni Taman Suranadi dan Taman Alit.
Kedua taman ini difungsikan sebagai lokasi penyucian Ida Bhatara. Sebelum piodalan, Ida Bhatara di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Kekeran akan melakukan prosesi penyucian dua kali.
Penyucian pertama dilakukan di Taman Suranadi yang terletak di sebelah selatan. Setelah itu, prosesi penyucian dilanjutkan di Taman Alit yang terletak di Mandala Utama Pura Beji Taman Suranadi. Prosesi ini dilakukan karena pura ini memiliki dua taman.
Untuk prosesi pengelukatan, dilakukan di pancuran yang terletak di sebelah barat pura.
Prosesi ini dilakukan dua kali. Pertama, masyarakat yang ingin melukat membersihkan diri secara fisik dengan mandi di pancuran yang tersedia.
Setelah itu, prosesi melukat dilanjutkan di Pura Beji Taman Suranadi dengan menggunakan upakara berupa pejati dan Bungkak Nyuh Gading (kelapa gading muda) yang airnya disimpan di payuk Jempere (kendi tanah liat).
Penggunaan payuk Jempere ini melambangkan sembilan arah mata angin atau simbol dewata nawa sanga.
Dengan menggunakan payuk Jempere, diharapkan Tuhan memberkati untuk membersihkan diri dari segala bentuk kotoran baik yang bersifat spiritual maupun fisik dari sembilan arah mata angin.
Pura Beji Taman Suranadi memiliki dua taman, yaitu Taman Alit dan Taman Suranadi.
Meskipun berada dalam satu lingkungan, kedua taman ini memiliki sumber mata air yang berbeda.
Untuk Taman Suranadi, sumber airnya berasal dari telebutan (mata air), sedangkan untuk Taman Alit, sumber airnya berasal dari air tanah yang muncul dari celah tebing.
Air dari Taman Alit digunakan untuk prosesi pengelukatan oleh masyarakat.
Air tersebut dialirkan ke empat pancuran yang terletak di sebelah barat pura dan digunakan untuk ritual pengelukatan serta sebagai tempat permandian umum. ***