Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

UNIK! Melukat di Pancuran Pura Telaga Waja, Pria dan Wanita Hindu harus Telanjang Bersama: Melanggar! Tak Tahu Jalan Pulang, Ternyata Ini Tujuannya

Nyoman Suarna • Selasa, 14 Mei 2024 | 20:45 WIB
TELANJANG: Pancuran di Pura Telaga Waja merupakan tempat melukat yang sangat unik. Pria dan wanita harus telanjang, jika tak ingin tak tahu jalan pulang.
TELANJANG: Pancuran di Pura Telaga Waja merupakan tempat melukat yang sangat unik. Pria dan wanita harus telanjang, jika tak ingin tak tahu jalan pulang.

BALI EXPRESS - Pura Telaga Waja di Banjar Kepitu, Desa Kenderan, Tegallalang, Gianyar, Bali menawarkan pengalaman melukat yang berbeda dari tempat lainnya.

Para pamedek atau umat Hindu Bali yang bersembahyang harus menjalani ritual melukat tanpa menggunakan sehelai pakaian pun alias telanjang.

Keunikan ini membuat Pura Telaga Waja menjadi salah satu destinasi spiritual yang menarik bagi para pencari kedamaian batin dan pembersihan diri bagi umat Hindu Bali .

Tokoh masyarakat Desa Kenderan, I Ketut Canteng saat diwawancarai Bali Express Jawa Pos Grup beberapa waktu silam menegaskan, melukat di beji Pura Telaga Waja harus dilakukan dalam keadaan telanjang bulat.

 "Pantangan ini sudah ada sejak turun-temurun. Kalau dilanggar akan mengakibatkan tidak tahu jalan pulang," ujar Canteng.

Papan pengumuman telah dipasang di berbagai titik untuk mengingatkan pengunjung akan pantangan ini, termasuk di tangga masuk dan di depan pancuran tempat melukat.

Melukat telanjang di Pura Telaga Waja bukan hanya soal tradisi, tetapi juga ujian spiritual yang menguji keimanan dan kepasrahan diri kepada Tuhan.

 "Ini adalah bukti pasrah diri dan mengujian keimanan seorang spiritualis," tambah Canteng.

Mereka yang melanggar pantangan ini diyakini tak tahu jalan pulang atau menghadapi kesulitan pulang, karena penjaga alam gaib (rencangan) akan marah jika area suci dinodai.

Selain pantangan berpakaian atau telanjang, membawa jimat atau benda-benda sakti lainnya juga dilarang keras.

 "Mereka yang melanggar pantangan ini harus melakukan pecaruan (upacara penyucian) di areal pura agar tidak terus terbayang dan tersesat," jelas Canteng.

Segala upacara di Pura Telaga Waja juga pantang dipuput oleh sulinggih (pendeta) untuk mencegah datangnya musibah atau wabah penyakit.

Selain untuk pembersihan diri, melukat di Pura Telaga Waja juga diyakini dapat memohon keturunan.

Beberapa warga setempat telah merasakan manfaat ini dan terus memberikan dana punia sebagai ungkapan syukur atas terkabulnya doa mereka.

Pura Telaga Waja berlokasi sekitar 30 menit dari pusat Kota Gianyar.

Akses menuju pura cukup mudah meskipun jalurnya agak masuk ke dalam.

Dari Jalan Raya Andong Ubud, arahkan perjalanan ke utara hingga Banjar Gentong Tegallalang, lalu ikuti papan nama menuju Desa Kenderan.

Parkir tersedia sekitar 250 meter dari pura, dan pengunjung harus berjalan kaki sekitar 500 meter melalui jalan setapak.

Areal Pura Telaga Waja terbagi menjadi tiga bagian utama.

Telaga merupakan sumber mata air yang digunakan sebagai klebutan.

Kemudian ada palinggih dan beberapa pancuran untuk upacara penyucian.

Selanjutnya ada sebelas pancuran tempat melukat dengan telanjang, yang digunakan oleh pria dan wanita bersama-sama.

Salah seorang pemangku Pura Telaga Waja,  mengungkapkan bahwa banyak pamedek yang melukat merasakan perbaikan kondisi fisik dan spiritual.

Baca Juga: Glamping Ramah Anak! Polumb Garden Bedugul Sejuknya Sama dengan Kintamani Bali: Cocok Untuk Liburan Keluarga, Fasilitasnya Wow Banget!

 "Tidak jarang pengunjung melihat penampakan makhluk gaib seperti ikan julit putih, macan, atau perwujudan orang suci," katanya.

Hal ini memperkuat keyakinan bahwa upacara di pura ini harus dilakukan dengan kesucian penuh.

Melukat di Pura Telaga Waja menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam dan unik.

Meskipun harus melukat telanjang, ritual ini dipercaya membawa banyak manfaat bagi para pamedek.

Pura Telaga Waja tidak hanya menjadi tempat penyucian diri, tetapi juga menjadi saksi perjalanan spiritual banyak orang yang datang untuk mencari kedamaian dan kesembuhan.

Untuk melukat di Pura Telaga Waja, cukup sediakan pajati dan canang sebagai sarana.

Canang dihaturkan di palinggih di jembatan penghubung pura, sementara pajati digunakan di tempat melukat.

Pemangku atau pamedek sendiri dapat memimpin upacara ini.

Melukat di Telaga Waja adalah proses meditasi yang menguji bhatin dan keimanan seseorang, menjadikannya pengalaman yang benar-benar mendalam dan unik. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#Pura Telaga Waja #melukat #bali #jalan pulang #telanjang #hindu bali #hindu