Pada prinsipnya di kawasan (madianing) Gunung Batur yang berada di sekitar danau dan Desa Batur terdapat sembilan buah palebahan yang merupakan satu kesatuan yang disebut sebagai Pura Ulun Danu Batur.
Jero Gede Batur Duhuran menjelaskan kesembilan pura itu adalah Pura Panataran Agung dan delapan buah pura pasanakan atau pura pendamping dari Pura Ulun Danu Batur.
Pura Panataran Agung Batur terdiri atas empat maṇḍala. Selain itu tepat di sisi timurnya dibangun pula dua buah pura, yang dipisahkan dengan Pura Panataran Agung Batur dengan tembok panyengker.
Kemudian delapan pura pesanakan diantaranya Pura Jati. Pura ini adalah sthana Ida Bhatara Pujangga Lawih, yang menjadi Bhagawanta atau pendamping spiritual dari Bhaṭari Ulun Danu itu sendiri.
“Air suci dari mata air atau tirtha yang terdapat di Pura Jati ini dipakai untuk pamrascita banten dan pamarisuda atau pamuput karya untuk penyelesaian upacara,” jelasnya.
Keberadaan Tirta Pura Jati menjadi tirta utama diantara 11 tirta utama. Ia menambahkan, di Batur mengenal tentang 11 tirta.
Yakni Telaga Waja, Danu Gadang, Danu Kuning, Bantang Anyud, Pelisan, Mangening, Pura Jati, Rejeng Anyar, Toya Bungkah, Toya Mampeh, dan Prapen.
Di pelisan itu kemudian dicampuh (disatukan, Red). Ketika orang batur tidak sempat ke 11 sumber maka mereka bisa memohon di Pelisan dengan menggunakan sebelas bumbung. Dari sanalah membentuk petirtan tirta solas.
Secara konsep, pura ini memiliki konsep tri mandala. Dimana, di bagian utama mandala terdapat sejumlah pelinggih.
Pura Jati hanya memiliki dua palingggih pokok yaitu Pesimpangan Bhatari Dewi Danu dengan pelinggih Meru Tumpang Telu dan pelinggih Ida Bhatara Sakti Bhujangga Luwih.
Posisi dua meru pelinggih ini berjejer menghadap ke barat di sisi kanan dan kiri pelinggih utama yang berdiri di tengah.
Pelinggih Bhatari Danu adalah Meru Tumpang tiga yang ada di sebelah utara atau sebelah kanan Padmasana.
Sedangkan stana Bhatara Bhujangga Sakti di sebelah selatan aatau di sebelah kiri palinggih Pelinggih Padmasana.
Di areal ini juga ditandai dengan patung yang dianalogikan sebagai Ida Bhatara Sakti Bhujangga Luwih.
Pujawali di Pura Jati itu tepat jatuh saat penanggal ping 13 sasih kasa atau 2 hari sebelum Purnama Sasih Kasa.
“Pujawali di pura ini bisa Nyejer (dilaksanakan,Red) selama tiga hari. Pengemponnya dari Desa Adat Batur,” jelasnya.
Pura Pesanakan yang kedua adalah Pura Tirtha Bungkah. Pura ini adalah sthana Ida Ratu Ayu Manik Bungkah, yang merupakan penguasa sumber air panas yang ada di pura tersebut.
Air dari Tirtha Bungkah ini diyakini dapat menyembuhkan beberapa penyakit kulit, karena kandungan belerangnya.
Pura Pesanakan yang ketiga Pura Taman Sari.
Pura ini adalah sthana Ida Bhaṭara Susuhunan Sakti Makalihan sebagai pemberi energi bagi pala bungkah (umbi-umbian), pala gantung (buah-buahan), dan pala wija yang ada di tegalan.
“Petani yang ingin hasil panennya berlimpah, pasti memohon berkah di Pura Taman Sari. Karena memberikan energi yang positif bagi pertanian, agar bisa panen dan memberikan kesejahteraan,” imbuhnya.
Makna Bhaṭara Susuhunan Sakti Makalihan rupanya identik dengan makna ardhanariswara atau puruṣa-pradana
Pura Pesanakan Keempat adalah Pura Tirtha Mas Mampeh. Pura ini adalah tempat patirthan Ida Bhaṭara Susuhunan Sakti Makaliha.
“Pura ini sekaligus tempat untuk memohon air suci guna memberi energi bagi tanaman sarwa meletik atau tumbuhan yang berasal dari biji-bijian atau buah-buahan,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika