Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menelusuri Jejak Kuno Pura Penataran Sasih di Gianyar Bali: Legenda Bulan Jatuh dan Peninggalan Bersejarah

I Putu Suyatra • Rabu, 22 Mei 2024 | 16:58 WIB

Pura Penataran Sasih di Desa Pejeng, Gianyar, Bali.
Pura Penataran Sasih di Desa Pejeng, Gianyar, Bali.

BALI EXPRESS - Gianyar, Bali, terkenal dengan kekayaan pura-puranya yang menyimpan nilai sejarah dan budaya tinggi. Salah satu pura yang menarik untuk dikunjungi adalah Pura Penataran Sasih di Desa Pejeng.

Pura ini tak hanya menjadi tempat suci untuk memuja Hyang Widhi, tetapi juga dibalut legenda mistis tentang "bulan jatuh".

Konon, pura ini merupakan tempat berstananya Bhatara Hyang Manik Galang, dewa yang membawa bulan yang jatuh ke bumi.

Legenda ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah dan wisatawan yang ingin merasakan atmosfer spiritual dan mistis pura ini.

Baca Juga: KEAJAIBAN PURA DI BALI! Pohon Majegau dan Legenda Taru Manusa yang Getahnya Mirip Darah Manusia di Pura Batur Sri Murti, Tabanan

Keunikan Pura Penataran Sasih tak hanya terletak pada legendanya, tetapi juga pada peninggalan bersejarah yang dimilikinya.

Salah satu peninggalan yang paling terkenal adalah Nekara Perunggu, sebuah genderang perunggu berukuran 186,5 cm yang memiliki nilai simbolis tinggi.

Konon, nekara ini juga digunakan untuk memohon hujan pada masa lampau.

Selain nekara perunggu, Pura Penataran Sasih juga menyimpan pecahan prasasti yang ditulis pada batu padas.

Namun, tulisan dalam bahasa Kawi dan Sansekerta ini sulit dibaca karena usianya yang tua. Berdasarkan penelitian, prasasti tersebut kemungkinan berasal dari abad ke-9 atau awal abad ke-10.

Pura Penataran Sasih memiliki banyak arca dan prasasti yang tersebar di beberapa bangunannya.

Arca-arca ini berasal dari berbagai periode, mulai dari masa pra-Hindu hingga Dinasti Warmadewa yang menjadikan desa ini sebagai pusat kerajaan dari abad ke-8 hingga abad ke-14.

Beberapa peninggalan masa Hindu juga ditemukan di pura ini, seperti prasasti batu yang terletak di jeroan bagian selatan dengan karakter huruf dari abad ke-10.

Di bagian jaba pura, sebelah tenggara, terdapat fragmen bangunan yang memuat prasasti dengan aksara Kediri Kwadrat, menyebutkan "Parad Sang Hyang Dharma" yang berarti bangunan suci.

Pura Penataran Sasih dibagi menjadi tiga halaman (mandala): Utama Mandala (halaman utama), Madya Mandala (halaman tengah), dan Kanista Mandala (halaman luar).

Masing-masing halaman ini dibatasi oleh panyengker atau tembok yang dilengkapi dengan candi bentar.

Di pura ini, diselenggarakan berbagai upacara keagamaan Hindu seperti Pujawali Sesepan (bertepatan dengan hari Umanis Kuningan) dan Upacara Pangusabhan/Padudusan (bertepatan dengan hari Purnama Kesanga).

Penjaga Pura Penataran Sasih Ungkap Usia Pura yang Melebihi Pengaruh Hindu

I Wayan Buda, penjaga Pura Penataran Sasih, mengungkap temuan menarik dalam sebuah wawancara dengan Bali Express (Jawa Pos Group) pada 2 Januari 2017 lalu.

Baca Juga: Ajaibnya Tempat Melukat Hindu Bali! Kayehan Dedari: Dihuni Wanita Cantik, Diyakini Sembuh dengan Air dari Kayu Jelema

Berdasarkan penelitian terhadap peninggalan benda-benda kuno di area pura, diduga bahwa pura ini telah berdiri jauh sebelum pengaruh Hindu masuk ke Bali.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pura Penataran Sasih kemungkinan besar sudah ada sejak 300 tahun Sebelum Masehi," ujar Buda.

Usia ini bahkan melampaui zaman Dongson di China.

Penemuan ini menunjukkan bahwa Pura Penataran Sasih memiliki nilai sejarah dan budaya yang luar biasa, menjadikannya salah satu situs purbakala tertua di Bali.

Keberadaannya sebelum pengaruh Hindu menunjukkan bahwa pura ini memiliki peran penting dalam kepercayaan dan tradisi masyarakat Bali kuno.

Pura Penataran Sasih sendiri merupakan salah satu pura kahyangan jagat atau pura utama di Bali.

Baca Juga: Didirikan Lantaran Wangsit, Pura Tempat Melukat Umat Hindu Bali Ini Pantang untuk Wanita Hamil: Diyakini Bisa Sembuhkan Penyakit Gangguan Spiritual

Di sekitar Pura Penataran Sasih terdapat beberapa pura yang berdampingan. Di sebelah utaranya, terdapat Pura Taman Sari dan Pura Ratu Pasek.

Menariknya, pura ini sebenarnya bukan tempat pemujaan leluhur warga Pasek, meskipun pengelolanya adalah warga Pasek.

Di sebelah timur Pura Penataran Sasih, terdapat Pura Taman, dan di sebelah selatan ada Pura Ibu. Selain itu, ada juga Pura Desa dan Pura Puseh yang dibangun di Palebahan Bale Agung.

Buda menjelaskan bahwa upacara patirtan atau piodalan di Pura Penataran Sasih dilaksanakan bersamaan dengan hari Umanis Kuningan, yang juga dikenal sebagai Sesepan.

Selain upacara piodalan, Pura Penataran Sasih juga mengadakan Upacara Pangusabhan atau Padudusan pada hari Purnama Kesanga (bulan kesembilan dalam kalender Bali).

Saat Upacara Pangusabhan, tari-tarian sakral (ilen-ilen) Ida Bhatara biasanya dipentaskan.

Selama piodalan di Pura Penataran Sasih, upacara bakti juga dilakukan di pura-pura lain yang berdampingan, seperti Pura Desa, Pura Ratu Pasek, Pura Taman Sari, Pura Taman, Pura Ibu, Pura Ratu Pejagalan, Pura Beji, Pura Semut, dan Pura Apit Aungan.

Puri Agung Soma Negara Pejeng bertindak sebagai pangrajeg atau panganceng Pura Penataran Sasih, sedangkan Desa Pakraman Jro Kuta Pejeng menjadi pengelolanya.

Pada upacara Sesepan, semua kegiatan upacara dilaksanakan oleh Banjar Adat Guliang.

Namun, untuk upacara Ngusaba atau Padudusan, seluruh banjar adat di Desa Pakraman Jro Kuta ikut terlibat.

"Seluruh masyarakat Pejeng dan umat Hindu adalah penyungsung pura ini," tutup Buda. *** 

 

 

 
Editor : I Putu Suyatra
#Pura Penataran Sasih #bali #gianyar #arca #hindu #desa pejeng #prasasti