Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mitos Menakjubkan Bulan Pejeng Umat Hindu Bali di Gianyar: Roda Kereta Langit, Perhiasan Dewi Ratih, dan Ledakan Dahsyat

I Putu Suyatra • Rabu, 22 Mei 2024 | 17:09 WIB

Pura Penataran Sasih di Pejeng, Tampaksiring, Gianyar, Bali.
Pura Penataran Sasih di Pejeng, Tampaksiring, Gianyar, Bali.

GIANYAR, BALI EXPRESS - Di Desa Pejeng, Tampaksiring, Gianyar, terdapat sebuah pura kuno bernama Pura Penataran Sasih yang menyimpan salah satu pusaka paling bersejarah bagi umat Hindu di Bali: Bulan Pejeng.

Sebuah genderang (nekara) perunggu raksasa yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural dan menyimpan legenda yang luar biasa.

Kekuatan Gaib dan Legenda Bulan Jatuh

Bulan Pejeng, yang juga dikenal sebagai Nekara Pejeng, diyakini memiliki kekuatan gaib untuk mendatangkan hujan dan menangkal roh jahat.

Konon, suara tabuhannya yang menggelegar menyerupai petir, mampu memanggil hujan dari langit.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Kuno Pura Penataran Sasih di Gianyar Bali: Legenda Bulan Jatuh dan Peninggalan Bersejarah

Legenda yang paling terkenal menceritakan bahwa Bulan Pejeng adalah roda dari kereta langit yang membawa sinar terang.

Konon, pada zaman dahulu kala, malam hari di Bali selalu terang benderang karena pancaran roda ini.

Versi lain menyebutkan bahwa Bulan Pejeng merupakan perhiasan telinga Dewi Ratih, Dewi Bulan dalam mitologi Bali.

Legenda ini menceritakan tentang 13 bulan yang pernah ada di Bumi, dan salah satunya jatuh dan tersangkut di pohon di Pejeng.

Sinarnya yang terang benderang membuat para pencuri ketakutan dan mereka pun berusaha memadamkannya.

Baca Juga: KEAJAIBAN PURA DI BALI! Pohon Majegau dan Legenda Taru Manusa yang Getahnya Mirip Darah Manusia di Pura Batur Sri Murti, Tabanan

Ledakan dahsyat pun terjadi, dan salah satu pecahan bulan itu menjadi Bulan Pejeng.

Nekara Sakral dan Tarian Sang Hyang Jaran

Di balik mitos dan kekuatan gaibnya, Bulan Pejeng juga memiliki nilai sejarah yang tinggi.

Diperkirakan nekara ini dibuat pada masa pra-Hindu, sekitar 500 SM.

Hiasan kodok yang terdapat pada nekara ini melambangkan air, memperkuat fungsi nekara sebagai sarana pemujaan untuk memohon hujan.

Keunikan Pura Penataran Sasih tak hanya terletak pada Bulan Pejeng, tetapi juga pada tarian sakralnya, Sang Hyang Jaran.

Dalam tarian ini, penari menari dengan mata terpejam di atas bara api, diiringi alunan gending sanghyang.

Baca Juga: Pura Batur Sri Murti: Dipercaya Umat Hindu Bali sebagai Tempat Memohon Keturunan dan Kesembuhan di Tabanan

Tarian ini hanya dipentaskan pada saat upacara besar di pura dan biasanya dibawakan oleh empat penari yang dipilih secara spontan.

"Siapapun yang ditunjuk, tanpa disadari tubuhnya akan bergerak sendiri di luar kesadarannya," ujar I Wayan Buda, penjaga Pura Penataran Sasih.

"Biasanya yang terkena tunjuk kebanyakan warga setempat atau ada juga orang luar yang memang berniat bersembahyang," ungkapnya. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Pura Penataran Sasih #bali #mitos #gianyar #hindu #desa pejeng #tampaksiring #prasasti