BALI EXPRESS - Pura Siwa Manik Dalang, sebuah tempat suci yang terletak di Dusun Dangin Margi, Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng, Bali menjadi magnet bagi Umat Hindu Bali yang hendak melukat.
Pasalnya, Pura Siwa Manik Dalang ini diyakini sebagai tempat untuk mencari kedamaian dan keberkahan, terutama umat Hindu Bali yang lahir pada Wuku Wayang.
Selain tempat untuk melukat, Pura Siwa Manik Dalang juga menjadi tempat yang sering dikunjungi oleh para dalang untuk memohon taksu.
Saat Tumpek Wayang, umat Hindu dari berbagai wilayah di Bali berbondong-bondong menuju Pura Siwa Manik Dalang untuk melukat.
Mayoritas dari mereka adalah kelahiran pada Wuku Wayang, meskipun tidak jarang juga ada yang kelahirannya di luar wuku tersebut.
Menurut Jro Mangku Ketut Badra, yang saat itu menjabat sebagai penyarikan Pura Siwa Manik Dalang, sejarah pasti berdirinya pura ini belum sepenuhnya diketahui.
Namun, dari penuturan lisan para pendahulu, diperkirakan pura ini sudah berdiri sejak tahun 1804 Masehi.
Hak itu terungkap dari angka tahun yang tertulis di paduraksa.
Walau prasasti yang mengkonfirmasi sejarahnya sudah tidak ada, kemungkinan saat masa penjajahan prasasti tersebut dibawa lari ke Belanda.
Konon, Pura Siwa Manik Dalang merupakan bagian dari Pura Pancer atau Pajenengan di Gobleg, Kecamatan Banjar.
Hubungan ini digambarkan seperti hubungan antara ayah (Pura Pancer) dan anak (Pura Siwa Manik Dalang).
Baca Juga: 4 Alasan Punya Rumah di Bali Jadi Impian Anak Muda, Ini Tips Wujudkannya!
Meskipun memiliki hubungan ayah-anak, tradisi pementasan wayang oleh dalang saat pujawali hanya dilakukan di Pura Siwa Manik Dalang, tidak di Pura Pancer.
Pura Siwa Manik Dalang didukung oleh Dadia Arya Kepakisan Dauh Bale Agung di Pemaron, dengan beberapa pengempon berasal dari Pemaksan yang menjadi pengempon karena adanya saudara.
Terdapat empat pelinggih di dalam areal Jeroan atau Utama Mandala, masing-masing dengan fungsi yang berbeda. Sedangkan di areal jaba (nista mandala) terdapat Pelinggih Penglurah Patih Agung.
Pada Pelinggih Dewa Bagus Manik Dalang, terdapat wayang kulit seperti Tualen (Ismaya) dan Bhatara Guru (Siwa).
Pura ini juga memiliki dua gedog Wayang dengan usia yang berbeda.
Wayang yang berumur lebih tua tidak dipentaskan. Hanya wayang yang baru saja sering dipentaskan oleh Jro Dalang, terutama pada acara Pujawali, khususnya Soma Wuku Wayang.
Bagi para dalang yang tidak membawa gedog saat ngayah pada Pujawali, mereka dapat menggunakan Wayang di Pura Siwa Manik Dalang.
Namun, bagi yang sudah membawa, mereka bisa langsung melakukan pementasan.
Dengan segala keunikan dan tradisi spiritualnya, Pura Siwa Manik Dalang tetap menjadi tempat yang menarik bagi mereka yang mencari kedamaian dan keberkahan spiritual.
Editor : Nyoman Suarna