BALI EXPRESS - Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi adalah salah satu dari sembilan pura yang terletak di kawasan Pura Rambutsiwi, Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali.
Pura ini tidak hanya menjadi tempat bersembahyang bagi umat Hindu Bali, tetapi juga tempat melukat atau menyucikan diri.
Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi didedikasikan untuk pemujaan Dewa Siwa Gangga, Dewa dari segala sumber air suci (Tirtha), dan Dewa Bharuna, penguasa lautan sebagai tempat melukat.
Menurut Jro Mangku Suardana, Pemangku Pura, keberadaan pura ini erat kaitannya dengan legenda Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh, seorang pendeta sakti yang pernah tinggal di kawasan ini pada abad ke-14.
Legenda menyebutkan bahwa Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh memberikan bimbingan spiritual kepada warga setempat yang memohon kesembuhan, kesejahteraan, dan petunjuk hidup.
Setelah melaksanakan sembahyang, beliau memercikkan Tirtha yang diambil dari sumber air yang mengalir dari salah satu goa di kawasan tersebut.
Air suci ini terus mengalir tanpa pernah mengering, bahkan saat musim kemarau panjang sekalipun, yang kini dikenal sebagai Pura Tirtha.
Kini air suci (Tirtha) dari Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi digunakan untuk melukat (membersihkan fisik dan non-fisik), pasupati, memohon kesembuhan, dan peleburan desti.
Setiap hari suci (rahinan) atau saat piodalan (enam bulan sekali), banyak umat Hindu Bali datang untuk bersembahyang dan melukat di Tirtha Siwa Gangga ini.
Beberapa pamedek yang menderita berbagai penyakit berhasil sembuh setelah melukat di Pura Tirtha. Salah satunya untuk peleburan desti.
Pura ini terdiri dari tiga halaman utama (Tri Mandala) yaitu utama mandala
Halaman utama yang berada dalam goa tepat di bawah Pura Luhur Dangkahyangan Rambutsiwi.
Alur goa ini seperti perempatan yang dipercaya mengarah ke berbagai pura suci lainnya di Bali, seperti Pura Besakih di Gunung Agung, Pura Melanting di Pulaki, dan Pura Dalem Ped di Nusa Penida.
Madya Mandala: Halaman tengah yang berisi beberapa palinggih dan arca. Di antaranya adalah Palinggih Piasan untuk stana Pralingga dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Padmasana, dan Padmasari sebagai stana Dewa Siwa Gangga.
Terdapat pula arca Ida Pedanda Wawu Rawuh dan istrinya, serta arca Naga Cobra berkepala tiga sebagai simbol kesatuan semesta.
Di halaman ini juga terdapat sepasang Lingga Yoni sebagai simbol Dewa Siwa dan Dewi Sakti.
Pratama Mandala: Halaman luar yang berisi sebuah palinggih berupa Padma sebagai pangayatan ke Dewa Bharuna dan Bale Pasandekan.
Editor : Nyoman Suarna