Butuh perjuangan untuk menjangkau Penglukatan Pancoran Sapta Gangga ini. Sebab, lokasinya berada di tengah persawahan. Namun jangan khawatir, sebab bisa diakses dengan kendaraan roda dua dengan menyusuri jalan rabat beton.
Sepanjang perjalanan, pemedek akan disuguhi hamparan pemandangan persawahan yang masih asri. Tentu saja, pemandangan ini akan memberikan vibrasi positif sebelum memulai proses penglukatan.
Banyak pemedek yang nangkil dari berbagai pelosok Bali mencoba melukat di Pancoran Sapta Gangga ini. Pasalnya, sudah banyak yang membuktikan jika tempat ini mampu menyembuhkan penyakit non medis.
Bahkan, Penglukatan Pancoran Sapta Gangga juga diyakini mampu melebur mimpi buruk. Terlebih, umat Hindu Bali sangat meyakini berbagai firasat yang seringkali disampaikan melalui mimpi.
Pangrajeg Desa Adat Timbrah, Nengah Sudarsa menjelaskan banyak yang sudah menceritakan pengalamannya melukat di Pancoran Sapta Gangga.
“Banyak yang menceritakan usai melukat mereka perlahan pulih. Dulu bahkan ada yang sakit, sampai tidak bisa jalan. Beberapa kali melukat ke Pancoran Sapta Gangga. Astungkara kembali pulih dan yang menggembirakan yang bersangkutan sudah bisa jalan," kenangnya.
Ia menjelaskan, sesuai namanya, Pancoran Sapta Gangga, memiliki tujuh pancuran yang bersumber dari satu mata air yang ada di lokasi tersebut. Nama-nama pancuran ini bahkan identik dengan nama nama Sungai di India.
Seperti Sungai Gangga, Sindu, Saraswati, Yamuna, Godawari, Narmada, dan Serayu. Jika di India, aliran Sungai-sungai ini justru bersumber dari mata air Dewi Gangga.
Dikatakan Sudarsa pemedek yang hendak nangkil untuk melukat disarankan membawa sejumlah sarana, seperti banten pejati, khususnya bagi pemedek yang pertama kali nangkil.
"Pejati dihaturkan di pelinggih yang merupakan stana Dewa Wisnu. Nanti kalau nangkil lagi cukup menghaturkan canang saja," kata Sudarsa.
Usai melakukan proses persembahyangan pengunjung baru diperkenankan melakukan proses melukat. Bagi pengunjung yang melukat, ia meminta agar menggunakan pakaian adat.
Menurutnya, pancoran Sapta Gangga merupakan pancoran penglukatan yang menghadap utara. Sehingga cocok untuk melukat bayuh oton, sangat baik untuk melukat sarwa mala dan sarwa leteh.
“Apabila ada yang mengalami kena black magic, cocok melukat di sini. Testimoninya juga sudah banyak yang membuktikan. Ada yang sulit tidur, mereka setelah melukat astungkara membaik, tidur nyenyak, dan banyak lagi kisahnya,” imbuhnya.
Selain berwisata spiritual, pemedek juga bisa beristirahat menikmati indahnya pemandangan di areal Penglukatan Pancoran Sapta Gangga, Pengelola juga menyediakan lima buah gazebo untuk bersantai atau menikmati lungsuran usai melakukan persembahyangan.
"Pengelola sudah menyiapkan kamar mandi serta ruang ganti baju usai melukat," tutupnya. (dik)
Keterangan foto
Penglukatan Pancoran Sapta Gangga di Desa Timbrah, Kecamatan/Kabupaten Karangasem (ist)
Editor : I Putu Mardika