Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri Setra Gandamayu di Bali: Kuburan Berbau Mayat, Penampakan Ular, dan Pusat Anugerah

Putu Agus Adegrantika • Senin, 27 Mei 2024 | 18:41 WIB

Setra Gandamayu di Desa Sapat, Tegallalang, Gianyar, Bali
Setra Gandamayu di Desa Sapat, Tegallalang, Gianyar, Bali

BALI EXPRESS - Di Desa Sapat, Tegallalang, Gianyar, Bali, terdapat sebuah kuburan yang tak biasa. Namanya Setra Gandamayu, yang terkenal dengan bau tak sedap, penampakan aneh, dan cerita mistis.

Sekilas, kuburan di Desa Sapat, Tegallalang, Gianyar, Bali, tampak seperti kuburan pada umumnya, dengan pohon beringin dan pule yang khas.

Namun, kuburan yang dikenal sebagai Setra Sapat ini memiliki keunikan tersendiri.

Desa Sapat memiliki tiga kuburan, dengan dua di antaranya berada di pinggir jalan raya menuju pusat Kecamatan Tegallalang dan Kintamani.

Menurut I Made Dharma, salah satu tokoh Desa Sapat, kuburan ini disebut Setra Gandamayu.

"Disebut Setra Gandamayu karena kuburan ini selalu berbau mayat," ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Awalnya, kuburan ini berada dekat Pura Dalem, seperti halnya di desa-desa lainnya.

Namun, karena dianggap mengganggu pura, kuburan tersebut dipindahkan ke daerah delod kauh (barat daya) Desa Sapat.

Karena lokasinya yang sempit dan berada di atas jurang, warga setempat memanfaatkan lahan tersebut sebaik mungkin.

Hubungan harmonis antara warga setempat dan komunitas Tionghoa di Tegallalang juga terlihat di sini, dengan adanya kuburan Tionghoa di sebelah timur kuburan tersebut.

Di Setra Gandamayu, terdapat tiga kuburan: di barat jalan untuk kalangan sudra, di timur untuk golongan ksatria dan waisya, serta di timur lagi untuk kuburan Tionghoa yang masih digunakan sampai sekarang.

Dengan lahan kuburan yang kecil, masyarakat Desa Sapat menggelar upacara ngaben setiap tiga tahun sekali, termasuk prosesi ngagah atau menggali tulang mayat untuk diupacarai kembali.

Kuburan Tionghoa sering dikunjungi keluarganya untuk berziarah pada hari-hari suci, dengan koordinasi terlebih dahulu dengan tokoh desa setempat.

Di Setra Gandamayu, sering terjadi kejadian aneh. Selain bau tak sedap, ada warga yang takut melintas karena penampakan binatang di jalan depan kuburan.

Jro Mangku Made Dharma mengungkapkan bahwa bau tersebut kadang-kadang muncul, tidak setiap hari.

Ada juga penampakan ular di tengah jalan antara kedua kuburan, yang membuat warga takut melintas tanpa meminta izin atau membunyikan klakson kendaraan.

Seiring perkembangan zaman, lingkungan setra semakin ramai dengan dibangunnya art shop di dekat kuburan.

"Dulu, bahkan untuk lewat saja orang berpikir dua kali," ujarnya.

Meski begitu, pembangunan dilakukan dengan jarak beberapa meter dari panyengker setra.

Mereka yang tinggal dekat kuburan sering mencium bau tak sedap, sehingga setiap hari mereka menghaturkan canang agar tidak diganggu oleh penunggu di sana.

Jro Mangku Made Dharma menjelaskan bahwa "setra" berarti tempat, "ganda" berarti mayat, dan "mayu" adalah mayat, sehingga Setra Gandamayu di Desa Sapat berarti tempat yang terus berbau mayat.

Mangku Pura Mrajapati Setra Dapat yang enggan disebutkan namanya, mengatakan bahwa setra tersebut sudah ada sejak dia kecil dan sampai sekarang dia menjadi pemangku menggantikan ayahnya.

Ketut Budiarsana, pemeran Walu Nateng Dirah dalam pementasan Calonarang, menyatakan bahwa Setra Gandamayu adalah tempat sakral bagi yang hidup dan mati karena menjadi stana Dewi Durga sebagai pelebur (mralina).

Sebelum pementasan Calonarang, mereka harus mohon izin dari Bhatari Durga untuk keselamatan.

Menurut Budiarsana, Setra Gandamayu adalah pusat mencari anugerah, di mana segala jenis ilmu Pangeliakan (Desti Angrwang Jana) membutuhkan perjanjian dan anugerah dari Bhatari Durga, yang dilakukan dengan menghaturkan persembahan yang disepakati (masesangi).

Dipercayai bahwa Bhatari Durga menentukan siapa yang akan meninggal dan hidup, yang dikuatkan dengan adanya upacara nebusin di Pura Dalem dan dilanjutkan ke Pura Mrajapati. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Setra Gandamayu #gianyar #misteri #kuburan