BALI EXPRESS – Tempat ini menawarkan pengalaman unik dan penuh tantangan bagi umat Hindu Bali yang ingin melukat.
Berbeda dari tempat melukat lainnya, bagi umat Hindu Bali yang hendak melukat di tempat ini ada syarat nya.
Tempat melukat umat Hindu Bali ini bernama Pura Pasiraman Kasuma Dewi, terletak di Banjar Tegal, Bebalang, Bangli.
Untuk mencapai tempat ini bisa ditempuh dari Kota Bangli, dilanjutkan ke lapangan Kapten Mudita Bangli, lalu belok kanan menuju Lembaga Pemasyarakatan (LP) Bangli.
Di sebelah selatan LP, Anda akan menemukan gerbang besar di timur jalan dengan tulisan Banjar Tegal, Bebalang, Bangli.
Sekitar satu kilometer menuju timur, Anda akan tiba di depan Pura Pasiraman Kasuma Dewi.
Perlu berhati-hati karena jalan menuju lokasi cukup terjal, licin, dan berbatu.
Menurut Gusti Mangku Gede, pemangku Pura Pasiraman Kasuma Dewi, pura umat Hindu Bali ini memiliki sejarah menarik.
Konon pada masa penjajahan kerajaan, seorang raja dari Tamanbali disembunyikan di bawah bukit oleh warga setempat untuk menghindari musuh.
Raja disembunyikan di sebuah goa yang memiliki sumber mata air.
Kisah ini menjadi asal mula berdirinya Pasiraman Kasuma Dewi lengkap dengan pura di atasnya.
Ritual melukat di Pura Pasiraman Kasuma Dewi berbeda dari tempat lain.
Umat Hindu yang hendak melukat di pancuran tidak boleh memakai pakaian, meski tanpa sekat alias berbaur dengan beda jenis.
Gusti Mangku Gede menjelaskan, aturan ini sudah ada sejak leluhur dan tidak boleh dilanggar.
Jika dilanggar, sumber mata air menjadi kering. Air kembali mengalir deras setelah upacara guru piduka untuk mohon pengampunan.
Gusti Mangkui Gede pun membeberkan kejadian seorang anak yang melukat menggunakan pakaian yang mengakibatkan sumber air menjadi kering.
Untuk melukat di Pura Pasiraman Kasuma Dewi, umat Hindu harus membawa pajati dan sepuluh canang.
Prosesi dimulai dengan sembahyang di jeroan pura, dilanjutkan dengan melukat di pancuran.
Pura ini memiliki tiga pancuran, dua di antaranya dipercaya dapat membuat awet muda, dan satu lagi dipercaya memperlancar mendapatkan keturunan serta menyembuhkan penyakit kencing batu.
Setelah melukat, pamedek dianjurkan untuk sembahyang kembali di pura sebagai tanda terima kasih.
Gusti Mangku Gede menceritakan pengalaman mistisnya saat ngayah di Pura Pasiraman Kasuma Dewi.
Ia pernah dihampiri sosok tinggi besar yang diyakini sebagai rarencengan dari sasuhunan.
Sosok tersebut mengingatkannya bahwa ada upakara yang kurang saat pujawali. Kejadian ini menunjukkan betapa sakralnya tempat ini.
Selain sebagai tempat melukat, Pura Pasiraman Kasuma Dewi juga digunakan untuk upacara ngabejiang saat pujawali.
Tempat ini menjadi sumber air suci yang digunakan dalam berbagai ritual adat di Banjar Tegal dan sekitarnya.
Semua pratima dan prasasti, termasuk barong dan rangda, berasal dari kayu taep dan pule yang ada di atas pasiraman.
Karena itu, semua ritual mlasti dilakukan di Beji Pasiraman Kasuma Dewi.
Pura Pasiraman Kasuma Dewi menawarkan pengalaman melukat yang unik dan menantang, di mana pamedek harus melaksanakan ritual tanpa busana.
Selain itu, tempat ini memiliki sejarah yang kaya dan dianggap sangat sakral oleh warga setempat.
Jika Anda mencari pengalaman spiritual yang berbeda di Bali, Pura Pasiraman Kasuma Dewi adalah destinasi yang layak dikunjungi.
Editor : Nyoman Suarna