Bukan tanpa alasan mengapa beji ini layak direkomendasikan. Pasalnya, sudah banyak kisah kesuksesan dalam proses penyembuhan hingga sejumlah pasangan suami istri sukses mendapatkan momonga setelah nangkil ke wisata religi ini.
Melukat di Taman Beji Samuan tak hanya dinikmati sebagai perjalanan spiritual semata. Tetapi bisa juga sebagai wisata sembari melakukan healing.
Jalan menuju Taman Beji Samuan menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Berada di areal yang pepohonannya masih sangat rindang.
Pemedek juga menuju lokasi harus berjalan kaki dari areal parkir dengan menyusuri jalan setapak yang sudah dirabat beton.
Namun, perjalanan yang cukup melelahkan akan terbayar dengan suasana yang hening dan sejuk.
Juru Sapuh Taman Beji Samuan, Made Narsa menjelaskan, ia pernah melihat langsung seorang pemedek yang nangkil karena sang anak tidak sembuh di rumah sakit.
Ia pun memutuskan untuk mendak. Ajaibnya keesokanharinya sudah diijinkan untuk pulang
Ia juga mengisahkan dulu ada pasangan yang sudah menikah hampir selama delapan tahun. Namun, belum juga dikaruniai anak.
Setelah ada yang memberikan refrensi, pasutri tersebut akhirnya nangkil untuk melukat di Taman Beji Samuan.
“Disana pasutri itu sangat kusyuk untuk memohon. Astungkara, setelah lima bulan pasca nangkil akhirnya sang istri hamil, hingga memiliki momongan,” kata Made Narsa.
Menurutnya, ada banyak kisah yang sudah menjadi saksi kesidhian tempat melukat di Taman Beji Samuan. Ia menyarankan, agar pemedek yang nangkil melukat benar-benar memiliki tujuan yang kuat dan ikhlas.
Uniknya, tempat melukat ini tidak hanya didatangi oleh umat Hindu di Bali saja.
Tetapi juga umat non Hindu yang berasal dari berbagai wilayah baik dari Bali maupun luar Bali.
Menurutnya, siapa saja bisa nangkil ke Beji ini dengan tujuan untuk melukat.
“Siapa pun boleh ke sini, tetapi syaratnya juga harus pakai sarung. Bebas, tidak ada pantangan untuk orang-orang tertentu,” kata Narsa.
Ia menjelaskan, pemedek yang pertama kali nangkil melukat di Taman Beji Samuan disarankan untuk membawa pejati untuk maturpiuning (memberitahukan) bahwa melakukan ritual panglukatan yang pertama.
Baca Juga: Tak Hanya Punya View Indah, Melukat di Jaga Satru Desa Duda Timur diyakini Bikin Panjang Umur
Setelah itu, ketika tangkil kembali untuk seterusnya diperkenankan hanya mengaturkan canang.
Dalam kawasan Taman Beji Samuan ini terdapat empat palinggih.
Diantaranya Pelinggih Puseh Desa, Pelinggih Ida Ratu Gede, Ida Ratu Niang, dan Ida Rambut Sedana.
“Kalau untuk memohon jodoh dan keturunan, biasanya pemedek yang nangkil diarahkan untuk sembahyang dengan khusyuk pada Palinggih Ida Ratu Niang,” ungkapnya.
Kemudian bagi pemedek yang nangkil untuk nunas tamba disarankan melakukan pemujaan di Palinggih Ida Rambut Sedana atau Ida Ratu Niang.
Kata Narsa, dulu ia sempat menemani krama yang sedang diruwat dari pengaruh ilmu hitam.
Krama yang diruwat tersebut ada wanita belia yang terkena benda-benda perantara yang berhasil disembuhkan ketika sembahyang di Palinggih Ida Rambut Sedana dan mengeluarkan lendir kehijauan.
“Kebanyakan yang datang ke sini untuk nunas tamba sambil membersihkan diri. Ya, yang mohon jodoh juga ada, tetapi ya harus yakin dulu. Tempatnya di sini, di Ida Ratu Niang,” paparnya.
Ada sejumlah urutan yang perlu dilakukan saat melukat di Beji ini. Narsa memaparkan tahap Pertama, maturpiuning di Palinggih Puseh Desa, kemudian sembahyang di Palinggih Ida Ratu Niang, Ida Rambut Sedana, dan palinggih yang lain. Setelah itu, membersihkan diri di pancuran Sapta Rsi. (dik)
Editor : I Putu Mardika