Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Simak Penjelasan Ida Peranda Gede Wayahan Wanasari! Ini Arti dan Makna Melukat untuk Umat Hindu Bali: Terbaik Dilakukan di Laut

Nyoman Suarna • Senin, 3 Juni 2024 | 18:12 WIB
MAKNA MELUKAT: Ida Peranda Gede Wayahan Wanasari memaparkan makna dan arti melukat bagi umat Hindu Bali. Dan sarana paling baik untuk melukat adalah air laut.
MAKNA MELUKAT: Ida Peranda Gede Wayahan Wanasari memaparkan makna dan arti melukat bagi umat Hindu Bali. Dan sarana paling baik untuk melukat adalah air laut.

BALI EXPRESS, DENPASAR - Melukat adalah prosesi pembersihan diri bagi umat Hindu Bali yang menggunakan air sebagai media.

Malukat berasal dari kata "Ngelut" atau "Lukat," yang berarti pembersihan dari karma yang dibawa sejak lahir.

Menurut  Ida Peranda Gede Wayahan Wanasari dalam wawancaranya dengan Bali Express (Jawa Pos Group) di Kantor PHDI Bali, Jalan Ratna, Denpasar,  tahun 2017, manusia lahir ke dunia karena ada karma.

Karma itu perlu dibersihkan, salah satunya dengan mealukat.

Lebih jauh Ida Peranda menjelaskan bahwa segala bentuk karma dari kehidupan sebelumnya, yang sedang dijalankan, dan karma yang akan datang perlu diharmonisasikan.

Cara termudah untuk harmonisasi tersebut adalah dengan melukat, tentunya dilengkapi dengan sesajen dan mantra.

Dalam proses melukat, terdapat pengembalian badan kasar dan badan halus secara niskala ke unsur air.

Badan dibersihkan dengan air, sedangkan rohani dibersihkan dengan puja dan mantra.

Menurut Peranda Wayahan, tempat terbaik untuk malukat adalah sumber air suci, seperti campuhan (pertemuan sungai), pancuran, atau air tritisan yang disucikan, serta tirta panglukat yang dibuat oleh sulinggih.

Ada dua jenis tirta yang digunakan untuk malukat, yaitu Tirta Pangarga: Tirta yang dibuat oleh sulinggih untuk tujuan malukat.

Satunya lagi adalah Tirta Panglukatan Klebutan: Tirta yang secara langsung diambil dari alam, seperti mata air dari tanah, pancuran dari tebing, atau pertemuan sungai dan laut.

Peranda Wayahan menyatakan bahwa tirta terbaik untuk malukat adalah tirta dari laut karena laut mengandung berbagai sumber mata air.

Selain itu, tirta yang dibuat oleh sulinggih dan pemangku juga memiliki fungsi penting dalam proses melukat.

Malukat berfungsi untuk membersihkan diri dari kekotoran, seperti kemalangan atau musibah yang menimpa.

Meskipun seseorang bisa dibayuh (dimandikan) beberapa kali, sifat atau penyakit tertentu mungkin masih melekat karena karma terdahulu.

Oleh karena itu, penting untuk melakukan melukat secara berkala.

Ida Peranda menjelaskan ada tiga jenis duka yang dibawa sejak lahir yang bisa dibersihkan dengan melukat, yaitu Adiatmika Duka: Sakit karena bawaan lahir. Bautika Duka: Sakit karena ulah diri sendiri. Adi Mika Duka: Sakit yang tidak diketahui penyebabnya.

Malukat juga bisa dilakukan di rumah, misalnya di sumur atau depan perantenan (tempat persembahyangan keluarga).

Jika dilakukan untuk anak kecil, malukat dimulai dari sumur lalu dilanjutkan ke depan perantenan.

Pada zaman dahulu, sumber air di rumah adalah sumur dan air ditampung di gebeh (wadah) di dapur.

Saat malukat di dapur, Sang Hyang Brahma dihadirkan untuk membersihkan diri.

Malukat sebagai pembersihan jiwa dan raga,  memberikan kesegaran bagi badan kasar dan jiwa rohani seseorang.

Karena itu penting untuk dilakukan secara rutin demi keseimbangan hidup.

Editor : Nyoman Suarna
#melukat #bali #air #hindu bali #Ida Peranda Gede Wayahan Wanasari #hindu #laut