Pemangku Pura Kereban Langit, Jro Mangku I Ketut Witra menjelaskan Pemedek yang nangkil bisa membawa sarana berupa banten pejati penglukatan dengan sarana pejati dengan bungkak nyuh gading.
Layaknya seperti melukat di tempat lain di Bali, setelah selesai melakukan penglukatan, pemedek melanjutkan persembahyangan di pura.
Ada sejumlah tata cara melukat yang dilakukan oleh pemedek. Pemedek harus melukat di pancoran nomor satu sampai lima.
Karena pancoran itu bermanfaat bagi yang mempunyai penyakit betahun-tahun, dilebur, dilukat, diprayascita, diwinten dan diberikan kemakmuran.
Ia menjelaskan, bagi yang cuntaka dilarang melukat dan masuk ke area pura. Pemedek yang melukat agar mempergunakan pakaian adat ringan.
Baca Juga: Kisah Pura Kereban Langit dan Raja Masula-Masuli, Tirta Salaka Terbukti untuk Memohon Keturunan
Sebelum melukat agar matur piuning dengan sarana canang sebanyak 6 tanding. Satu tanding dihaturkan di pesimpangan segara Batu Bolong di pinggir sungai/pelinggih pakai tedung poleng dan lima tanding dihaturkan di taman beji (di pancoran)
Melukat mulai dari utara (dari pancoran pertama hingga kelima). Setelah melukat ganti pakaian di kamar ganti pakaian sembahyang.
Pemedek yang membawa kelapa gading melukat dijabe tengah (di ajeng pelinggih surya) setelah melukat di taman beji.
Pemedek yang tidak membawa kelapa gading langsung sembahyang ke utama mandala (jeroan). Pemedek yang sembahyang di utama mandala (jeroan) agar mempergunakan pakaian adat kering.
Dikatakan Mangku Witra, ada banyak cerita tentang keberhasilan pemedek untuk memohin keturunan.
Ia tak menampik jika Ida Sesuhunan yang berstana di Pura Kereban Langit senantiasa ngemedalang tamba kepada pemedek, terutama untuk memohon keturunan. Dengan sarana bungkak nyuh gadang atau kelapa hijau.
Pemedek yang nangkil dari Bali, luar Bali bahkan sampai luar negeri, Amrika, India, Australia
“Mereka biasanya booking melalui hotel dan villa tempatnya menginap. Tentu kami sangat senang jika pemedek yang berobat untuk nunas tamba dan berhasil. Itu yang membanggakan. Banyak yang usahanya dirintis dari nol, sehingga maju, berkat beliau memberikan jalan,” imbuhnya.
Disinggung terkait sumber mata air di Tirta Salaka, Mangku Witra menyebut jika sampai saat ini dirinya belum tahu persis darimana air tersebut berasal. Bahkan, ia mempercayai jika sumber mata air ini bertahun tahun dari bongkahan batu yang alirannya tidak pernah putus.
Uniknya, saat musim hujan aliran air ini juga tidak pernah kebanjiran. Termasik juga Pancoran lima juga tidak pernah putus.
Ia menyarankan, bagi pemedek yang hendak melukat agar melakukannya dari jam 09.00 pagi sampai jam 18.00 sore. Sebab, dari pengalaman, seringkali jika berani lewat dari jam tersebut melukat rentan diganggu makhluk halus.
Ia meyakini, waktu sore hari merupakan waktunya wong samar dan gumatat gumitit untuk melukat.
“Dulu pernah ada kejadian melukat sore hari. Pemedek melihat ada anak kecil yang telanjang ikut melukat. Padahal tidak ada yang membawa anak kecil untuk melukat,” paparnya.
Di sisi lain, pemangku tidak boleh menggunakan bajra atau genta. Sebab, Ida Bhatara sesuhunan yang berstana disini diyakini sebagai sosok sulinggih.
“Kalau dipaksakan memakai bisa bahaya, karena dianggap memada-mada. Itu sudah dari kakek, nenek, kakak saya yang pernah ngayah jadi mangku sudah membuktikan, tidak berani pakai genta,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika