Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

UNIK! Tempat Melukat Ini Dikunjungi Umat Non-Hindu, Diyakini untuk Buang Sial dan Pengobatan: Ada Syarat Wajib untuk Pemedek

Nyoman Suarna • Rabu, 5 Juni 2024 | 16:44 WIB
NON – HINDU:  Tempat melukat di salah satu desa di Bali ini banyak dikunjungi umat non – Hindu untuk buang sial dan pengobatan. Namun ada syarat yang wajib dipatuhi.
NON – HINDU: Tempat melukat di salah satu desa di Bali ini banyak dikunjungi umat non – Hindu untuk buang sial dan pengobatan. Namun ada syarat yang wajib dipatuhi.

BALI EXPRESS - Desa Sedit, Bebalang, Bangli, Bali terkenal dengan Pancoran Suci yang menjadi tempat melukat bagi masyarakat Bali, termasuk yang non- Hindu.

Tempat melukat ini berada di tepi tebing dan memiliki 11 pancoran yang digunakan untuk ritual penyucian diri dari kekotoran fisik dan non-fisik.

Pancoran di Desa Sedit ini diempon oleh 35 kepala keluarga (KK) dan dikenal sebagai tempat untuk membersihkan diri dari segala kekotoran serta buang sial.

 Jero Mangku Dalem Puwun, Wayan Sirat, menjelaskan bahwa banyak orang datang untuk melukat atau membersihkan diri, termasuk masyarakat non- Hindu.

Meski berbeda keyakinan, mereka tetap diwajibkan mengenakan anteng atau selendang.

Selain menggunakan selendang, ada aturan lain yang harus diikuti, seperti larangan masuk bagi yang sedang datang bulan.

Masyarakat non-Hindu juga diwajibkan mengikuti aturan ini. Sebelum turun untuk melukat, mereka harus meminta izin kepada Jero Mangku atau pemangku yang bertugas.

Meskipun mereka tidak sembahyang atau mempersembahkan banten Pajati seperti umat Hindu Bali, pemangku akan memohonkan izin dan menyampaikan doa atau keinginan mereka.

Selain berfungsi sebagai sarana pembersihan dan buang sial, pancoran 11 ini juga diyakini memiliki khasiat sebagai pengobatan alami.

Banyak pemedek yang memohon agar segera mendapatkan keturunan atau kesembuhan dari penyakit, terutama yang disebabkan hal niskala.

Walaupun tidak ada lontar atau pratima yang menjelaskan sejarah kesebelas pancoran ini, tradisi dan cerita dari mulut ke mulut mengisahkan bahwa tempat melukat ini sudah ada bersamaan dengan Pura Dang Kahyangan di Bangli.

Kesebelas pancoran ini juga digunakan sebagai tempat melasti untuk seluruh pura di Bangli.

Bagi pamedek yang ingin melukat disarankan membawa dua Pajati. Satu Pajati dihaturkan di tempat melukat, dan satu lagi di palinggih atas.

Proses melukat dimulai dengan sembah bhakti di pura, berlanjut dengan berendam sebentar di sungai, kemudian menggunakan pancoran dari arah barat ke timur.

Setelah itu baru dilanjutkan ke pancoran lainnya sesuai urutan.

Jero Mangku Wayan Sira mengatakan, pancoran ini berada di bawah penanganan desa pakraman, sehingga kebersihan dan kesucian tempat ini harus selalu dijaga agar tidak ada sampah yang menumpuk, terutama saat musim hujan.

Editor : Nyoman Suarna
#melukat #bali #pengobatan #hindu #buang sial