Pura Tirta Sudhamala terletak di Desa Adat Sadit, Desa Bebalang, Kecamatan/Kabupaten Bangli.
Pura Tirta Sudhamala ramai dikunjungi oleh pemedek dari berbagai pelosok Bali untuk melukat saat hari tertentu.
Butuh waktu hingga 1,5 jam dari Kota Denpasar untuk sampai di Pura Tirta Sudhamala. Pemedek yang hendak nangkil, wajib jalan kaki di jalanan bersapal sekitar 200 meter dari areal parkir.
Tapi, jika tidak mau berjalan kaki, maka pemedek bisa mencoba menaiki ojek yang sudah mangkal di areal parkir.
Baca Juga: Di Tempat ini Melukat BIsa Sambil Teriak Sekuat Tenaga, Hanyutkan Segala Kesedihan dan Kekecewaan
Hanya cukup merogoh uang Rp 5 ribu untuk bisa diantar oleh tukang ojek menuju ke lokasi.
Pura tirta sudhamala ini berada persis di tepi Sungai. Namun, area pancoran ini berasal dari mata air yang sangat disucikan.
Suasana begitu tenang dan teduh. Lokasi melukat ini berada di bawah tebing yang pepohonannya masih rimbun.
Bagi pemedek yang hendak melukat tidak usah khawatir untuk menaruh pakaiannya. Sebab, pengelola sudah menyediakan loker pakaian untuk dititipkan sehingga lebih aman.
Jero Mangku Ketut Kariasa selaku pemangku di Pura Tirta Sudhamala mengatakan tidak mengetahui secara pasti sejarah dari keberadaan Pura Tirta Sudhamala ini.
Sebab, minim catatan tertulis yang menjadi sumber Sejarah.
Namun, seingatnya dari cerita pendahulunya, tempat melukat ini memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Bangli.
Pada jaman kerajan Bangli dititahkan oleh raja pada waktu itu seorang Brahmana yang bernama Ida Brahmana Hender mencari tiga mata air yang nantinya akan dipakai sebagai tempat pemelastian Pura Kehen.
Pura Kehen sendiri di sungsung oleh sebagian masyarakat bangli yang sering di sebut dengan istilah Gebog Domas.
Ketiga tempat mata air yang disucikan tersebut diantaranya Sudamala, Taman sari dan Segara.
Bukti keterkaitan Pura Tirta Sudamala memang bisa ditemukan pada prasasti Pura Kehen, sehingga keberadaan Pura Tirta Sudamala erat hubunganya dengan salah satu Pura terbesar di Bangli.
Mangku Kariasa menyebut hingga saat ini telah menjadi sebuah ritual rutin ketika piodalan besar di Pura Kehen yang berlangsung setiap 3 tahun sekali akan melakukan pemelastian atau penyucian Pretima ke tiga tempat tersebut.
Selain Pura-pura besar di Bangli saat ini sudah menjadi tradisi bagi masyarakat ataupun Banjar di Bangli dan Bali pada umumnya ketika akan menyelenggarakan upacara yadnya nunas tirta ke kekuluh atau tirta penyucian di Pura Tirta Sudamala.
Dijelaskan Mangku Kariasa sumber mata air yang ada di Pura Tirta Sudhamala memang tidak pernah kering, sekalipun musim kemarau.
Termasuk tidak pernah keruh pada saat musim hujan meskipun di sekitarnya ada banjir.
“Sumber air berasal dari tebing tebing di bawah pepohonan yang sudah berumur ratusan tahun,” ungkapnya.
Pemedek yang nangkil ke Pura Tirta Sudhamala ramai saat purnama, tilem, kajeng kliwon. Termasuk juga saat sehari setelah Saraswati atau banyu pinaruh.
Banyak pemedek yang melukat untuk memohon penyucian.
“Kalau purnama, tilem dan kajeng kliwon selalu ramai untuk melukat, mereka datang dari berbagai wilayah di Bali,” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika