HANYA ADA DI BALI! Pura Negara Gambur Anglayang: Ada Palinggih untuk Hindu, Islam, Kristen, Sunda, Cina dan Melayu
I Putu Mardika• Kamis, 6 Juni 2024 | 21:54 WIB
Pura umat Hindu Pura Negara Gambur Anglayang di Kubutambahan, Buleleng, Bali.
BALIEXPRESS.ID - Pura umat Hindu, Pura Negara Gambur Anglayang di Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan akulturasi budaya yang melambangkan kerukunan antar umat beragama, sehingga sering disebut sebagai Pura Pancasila.
Keunikan pura ini terletak pada keberadaan beberapa palinggih yang merepresentasikan berbagai latar belakang etnis dan agama.
Di antaranya, Palinggih Ratu Bagus Sundawan dari unsur Suku Sunda, Palinggih Ratu Bagus Melayu dari unsur Melayu, Palinggih Ratu Ayu Syahbandar dan Ratu Manik Mas yang mencerminkan unsur Cina atau Buddha, serta Palinggih Ratu Pasek, Dewi Sri, dan Ratu Gede Siwa yang melambangkan unsur Hindu.
Paling unik adalah Palinggih Ratu Gede Dalem Mekah yang memperlihatkan unsur Islam.
Nyoman Laken, seorang tokoh masyarakat setempat, menjelaskan bahwa Palinggih Ratu Bagus Sundawan diperuntukkan bagi umat Kristen.
Keajaiban sering terjadi di sini, seperti wastra (kain) yang tiba-tiba menghilang dan muncul kembali saat diperlukan.
Palinggih Ratu Ayu Syahbandar adalah palinggih untuk umat Melayu atau Cina.
Menurut Laken, ketika terjadi kerauhan atau nglingsenin, orang yang kerauhan akan berbicara dalam bahasa Cina atau Melayu.
Ratu Ayu Syahbandar adalah simbol penguasa pelabuhan atau perekonomian, yang digambarkan sebagai sosok tinggi dengan topi dan tas saudagar.
Paling menyita perhatian adalah Palinggih Ratu Gede Dalem Mekah, yang ditujukan untuk umat Islam.
Banyak umat Islam dari berbagai daerah, termasuk Jawa, datang untuk bersembahyang di sini setelah mendapatkan pawisik.
"Keunikan lain dari Pura Gambur Anglayang adalah bendera merah putih yang muncul secara misterius," ungkapnya.
Bendera tersebut, berukuran 100 x 120 cm, tidak menunjukkan jahitan seperti bendera biasanya, seolah-olah disablon, padahal pada tahun 1993 teknologi sablon belum ada.
Pura ini memiliki Tri Mandala dengan luas sekitar 24 are dan pujawalinya diperingati setiap Wuku Buda Wage Kelawu selama tiga hari.
Pamedek yang datang berasal dari berbagai agama dan wilayah di Bali, bahkan dari luar pulau.
Nyoman Laken menegaskan bahwa Pura Negara Gambur Anglayang adalah simbol kerukunan antar umat beragama.
Keberadaan palinggih yang beragam mencerminkan semangat toleransi dan persatuan.
Ia berharap pura ini dapat menjadi teladan bagi generasi penerus dan tetap dijaga serta dikembangkan sebagai warisan sejarah kerukunan di Bali, khususnya di Kubutambahan. ***