Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Melukat di Bawah Pohon Berusia Seabad, Taman Beji Kebontingguh Buktikan Banyak Sembuhkan Sakit Non Medis

I Putu Mardika • Jumat, 7 Juni 2024 | 04:56 WIB

Pancoran di Pura Taman Beji Kebontingguh, Desa Denbantas, Kecanatan/Kabupaten Tabanan sebagai tempat melukat
Pancoran di Pura Taman Beji Kebontingguh, Desa Denbantas, Kecanatan/Kabupaten Tabanan sebagai tempat melukat
TABANAN, BALI EXPRESS-Tempat melukat di Pura Taman Beji Kebontingguh, Desa Desa Denbantas, Kecamatan/Kabupaten Tabanan, Bali tergolong unik.

Sebab, tempat melukatnya berada di bawah pohon besar yang sudah berusia ratusan tahun.

Tempat melukat dibuatkan semacam Lorong berbentuk persegi empat. Di dalam Lorong inilah air mengucur dari sebuah tebing yang dipenuhi akar-akar pepohonan. Selain itu sumber pancuran airnya hanya satu.

Air begitu jernih dan segar. Pemedek yang hendak melukat harus rela antri satu persatu demi mendapat giliran melukat.

Seperti melukat pada umumnya biasanya dibasuh pada kepala, wajah, kumur, diminum hingga digunakan untuk membasuh kaki.

Ratu Aji Mangku Tapakan yang merupakan pemangku di Pura Taman Beji Kebontingguh menyebutkan jika pepohonan atau Pesayuban tersebut adalah taru (pohon) yang usianya lebih dari satu abad.

Uniknya, Taru ini pada tahun 1999 ini sempat tersapu longsor. Semua pepohonan tumbang dan hanyut tersapu longsoran.

Namun, hanya satu satunya taru ini yang tidak dihanyutkan oleh lumpur. Dan sampai sekarang masih ada.

Dikatakan Aji Mangku seperti namanya Sudhamala yang berarti sang peruwat atau pembersih kotoran di dalam diri.

Pura Taman Beji Kebontingguh, Desa Denbantas, Kecanatan/Kabupaten Tabanan sebagai tempat melukat
Pura Taman Beji Kebontingguh, Desa Denbantas, Kecanatan/Kabupaten Tabanan sebagai tempat melukat

Sehingga pura ini dipercaya sebagai tempat membasmi mala petaka di taman beji sudhamala.

Ia menjelaskan, tata cara melukat tidak jauh berbeda dari umumnya. Sebelum sembahyang, pemedek wajib melukat terlebih dahulu.

Pemedek yang hendak melukat disarankan menggunakan sarana seperti banten biakaon, prayascita, prasodan dan kelapa gading.

Baca Juga: Baru Selesai Potong Gigi, Cocok Melukat di Pancoran Widyadara-Widyadari di Pura Tirta Sudhamala

Banten beakaon diyakini dapat menetralkan energi negatif. Banten prayascita diyakini untuk penyucian segala kesedihan atau kekotoran di dalam diri manusia.

Setelah mebiayakon dan meprayascita, maka dilanjutkan dengan prosesi melukat di pancuran Taman Beji Sudhamala, sehingga melengkapi prosesi penglukatan.

“Setelah itu baru bisa melakukan persembahyangan di Pura Kebontingguh,” tutupnya. (dik)

Keterangan foto

Pura Taman Beji Kebontingguh, Desa Denbantas, Kecanatan/Kabupaten Tabanan sebagai tempat melukat (ist)

Editor : I Putu Mardika
#melukat #bali #Kebontingguh #hindu bali #hindu #pura #Sudhamala #taman beji #Non medis #tabanan