Perjalanan suci Dang Hyang Nirartha tidak hanya terekam di Pura Uluwatu, Pura Gunung Payung. Tetapi juga di Pura Dalem Goa Batu, yang dahulu dijadikan sebagai tempat melakukan yoga semadhi.
Konon, di pura inilah Dang Hyang Nirartha mendirikan pasraman dan bertapa. Memusatkan pikiran untuk mendapatkan pencerahan dari Sang Pencipta.
Pasraman beliau kini disebut Pura Taman Sari. Sedangkan, tempat bertapanya disebut Pura Dalem Batu Pageh.
Bukti ini terlihat dari keberadaan batu lingga raksasa yang berada di dalam Goa. Lingga ini diyakini sebagai pagehan atau pagar jagat yang membentengi.
Pura ini berlokasi di sebuah tebing pinggir pantai yang eksotis di Desa Unggasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.
Baca Juga: Belajar Jadi Pemimpin, Layak Nangkil ke Pura Gunung Payung di Kutuh
Pura Dalem Goa Batu Pageh dapat diakses sekitar 50 menit dari Kota Denpasar dengan berbagai moda transportasi. Kawasan ini berada di areal Pantai Batu Page atau Pantai Green Bowl.
Pemangku Pura Dalem Batu Pageh, Jero Mangku Wayan Ngara menjelaskan Pura Batu Pageh bertalian dengan Pura Taman Sari, Pura Pingit Dalem Segara, Pura Dalem Kepandean, Pura Ratu Gede Dalem Segara yang secara lokasi berdekatan.
Sebab, pemedek yang nangkil menjadikan satu rangkaian untuk melakukan persembahyangan.
Sebelum ke Pura Dalem Batu Pageh pemedek terlebih dahulu melaksanakan persembahyangan di Pura Taman Sari.
Di Pura ini berstana Ida Ratu Biang Agung. Pemedek harus memohon ijin agar diberikan kelancaran untuk nangkil ke Pura Dalem Batu Pageh.
Pura Taman Sari ini merupakan pasraman dari Dang Hyang Nirartha. Hanya saja, pemedek harus waspada dengan keberadaan monyet di areal pura. Sebab, jika lengah, maka segala sarana bisa disergap oleh monyet.
Setelah di Pura Taman Sari dilanjutkan dengan Pura Pingit Dalem Segara Batu Pageh. Pemedek harus menuruni anak tangga untuk menjangkau pura ini.
Pemedek bisa menikmati suasana di pinggih Pantai dengan angin sepoi yang begitu sejuk.
Di areal Pura Pingit Dalem Segara, pemedek bisa melaksanakan persembahyangan. Di areal ini terdapat pelinggih Bunda Ratu Segara Kidul. Menurutnya disarankan agar tidak nangkil sendirian ke pura ini.
Di areal pura juga terdapat Ida Ratu Gede Dalem Ped, Pelinggih Ratu Niang Lingsir, Pelinggih Ida Ratu Hyang Basuki, Pelinggih Hyang Ibu dan Payoga Ida Bhatara Wisnu.
Usai di Pura Pingit Dalem Segara, kemudian dilanjutkan bersembahyang di Pelinggih Ratu Gede Kepandean.
Pelinggih ini merupakan tempat memohon taksu seperti keris. Tak heran, banyak rohaniawan yang nangkil untuk memohon taksu di Pelinggihg Ratu Gede Kepandean.
Baca Juga: UNIK!! Pura Gunung Payung di Kutuh lahir dari Payung yang ditancapkan Dang Hyang Nirartha
“Kalau memohon taksu untuk keris, senjata, bisa nangkil ke Pura Ratu Gede Kepandean,” katanya.
Persembahyangan selanjutnya dilakukan di Pura Ratu Gede Dalem Segara. Di Pura ini terdapat Pratima yang menyerupai topeng. Selain itu terdapat Pratima berbentuk ikan bersayap dan singa.
Keberadaan kedua Pratima dengan berbentuk ikan bersayap dan singa erat dengan kisah perjalanan Ida Ratu Gede Mas Mecaling.
Dikisahkan, Ida Ratu Gede Mas Mecaling yang berstana di Dalem Ped Nusa Penida, hendak melancarakan ke Pulau Bali.
Namun karena terhalang lautan, Beliau akhirnya dibantu oleh seekor Ikan Kembung yang bersayap.
Jika sudah tuntas melaksanakan persembahyangan di Pura Ratu Dalem Segara, barulah dilanjutkan persembahyangan ke Pura Dalem Batu Pageh.
Jro Mangku Ngara menjelaskan, di Goa inilah sebagai tempat persemedian Dang Hyang Nirartha. Buktinya, terdapat Pratima dan sebuah batu besar di dalam goa sebagai tempat pertapaan dang Hyang Nirartha.
Ditemukannya tiga arca sebagai Pratima inti di pura Goa Batu Pageh menjelaskan asal-usul dari pura ini.
Diantaranya Pratima Penglingsir berbentuk kotak dengan ukiran khusus, Pratima Pemayun Kembar berbentuk patung macan kembar dan Pratima Ratu Gede Dalem Ped yang berbentuk kotak menyerupai topeng.
Ia menyebut yang berstana di Pura Dalem Batu Pageh adalah Ida Bhatara Dalem Pemutering Jagat atau Dewa Siwa.
Di Pura dalem Batu pageh disebut sebagai Sang Hyang Pemutering Jagat. Karena beliau memagari dunia ini. “Beliau diyakini memagari dunia ini,” singkatnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika