Jika dilanggar, bisa memberikan dampak negatif, seperti kematian terjadi secara berturut-turut, susul menyusul terjadi dalam suatu wilayah desa pakraman, tentu hal tersebut dianggap sebagai hal yang tidak wajar, keanehan bahkan kesalahan.
Dosen Wariga STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Made Gami Sandi Untara, S.Fil.H, M.Ag mengatakan upacara kematian sangat menghindari padewasan Semut Sedulur dan Kala Gotongan.
Untuk menentukan hari yang disebut semut sedulur harus dipahami terlebih dahulu ketentuan panca wara dan sapta wara beserta jumlah uripnya (urip secara harfiah berarti hidup).
Sebagaimana dapat ditentukan bahwa panca wara meliputi; umanis (uripnya 5), paing (uripnnya 9), pon (uripnya 7), wage (uripnya 4), dan kliwon (uripnya 8).
Sedangkan sapta wara meliputi; Redite/minggu (uripnya 5), soma/ senin (uripnya 4), anggara/selasa (uripnya 3), buda/rabu (uripnya 7), wrespati/kamis (uripnya 8), sukra/jumat (uripnya 6), dan saniscara/sabtu (uripnya 9).
“Misalnya hari yang berturut-turut jatuh pada sukra pon, saniscara wage, dan redite kliwon jumlah urip dari ketiga hari tersebut secara berturut-turut adalah ‘tiga belas’ inilah yang disebut semut sedulur,” katanya.
Hal ini tersurat dalam Lontar Wariga Pangalihan sebagai berikut: Muah mawasta semut sedulur genahe dyapin hana dina pada, maurip, 13, dening mabelat-belat, ika tan milu mawasta semut sedulur. Malih mawasta semut sedulur, ring dina, Su, Pwa, Sa, Wa, Ra, Ka, ika, nga, Semut Sedulur.
Terjemahan: Dan yang disebut semut sedulur meskipun hitungan uripnya tiga belas, karena ada jedanya atau tidak berturutturut harinya, itu bukan semut sedulur. Yang disebut semut sedulur berturutturut jatuh pada, Jumat Pon, Sabtu Wage, dan Minggu Kliwon.
“Semut sedulur hanya berlaku bagi hari yang secara berturut-turut dengan jumlah uripnya tiga belas dan tidak berlaku bagi hari lain meskipun hitungan uripnya tiga belas karena ada jeda hari yang jumlah uripnya berbeda,” katanya.
Selain semut Sedulur juga dihindari padewasan Kala Gotongan dalam ritual pitra yadnya.
Kala gotongan adalah hitungan hari yang diperoleh melalui penjumlahan panca wara dengan sapta wara yang menghasilkan bilangan empat belas secara berturutturut.
Kala gotongan diartikan sebagai menggotong mayat dalam jeda waktu yang tidak berjauhan atau terjadi kematian yang waktunya sangat behimpitan atau berturutturut sehingga hal tersebut dianggap sebagai ketidakwajaran.
Sukra kliwon, saniscara umanis dan redite paing adalah tiga hari berturut-turut yang uripnya berjumlah empat belas disebut kala gotongan.
Dalam Lontar Wariga Pangalihan sebagai berikut: Malih mawasta dina, kala Gotongan, ring dina, Su, Ka, Sa, U, Ra, Pa, pada maurip, 14, tarugan, ika, nga, Kala Gotongan, napi malih yan nemu tang, pang, ping, 4, ping, 14. Nadyan semut sedulur, yan nemu, tang, pang, pada, ping, 3, muang, ping 13, ika ala paling dahat, dewasa tan keneng supat, aywa mapas dewasa ika.
Terjemahan: Yang disebut hari kala gotongan, jatuh pada hari Jumat Kliwon, Sabtu Umanis, dan Minggu Paing yang mempunyai hitungan urip 14, tarugan namanya. Disebut kala gotongan, apalagi jatuh pada pinanggal (sehari setelah bulan mati), panglong (sehari setelah bulan penuh), dan juga semut sedulur, kalau jatuh pada pinanggal panglong, itu hari yang sangat buruk, hari yang tidak bisa dikembalikan menjadi suci/sangat kotor, jangan pernah melanggar dengan memakai hari-hari tersebut.
“Tentu semua tergantung desa kala dan patra. Namun, Sebagian besar umat Hindu di Bali pasti sudah memperhatikan padewasan ini. Karena dinilai berdampak buruk,” sebutnya.
Meski tak cocok untuk ritual kematian, namun Semut Sedulur dan Kala Gotongan cocok dijadikan padewasan untuk gotong royong, membentuk organisasi, perkumpulan dan kampanye.
“Dalam ala ayuning dewasa, tidak selalu hari itu buruk saja, tetapi bisa baik untuk acara yang lain. Kalau tidak cocok untuk upacara kematian, maka semut sedulur dan kala gotongan cocok untuk membuat organisasi, rapat, perkumpulan” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika