Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tangkis Serangan Black Magic, ini Sesodaan saat Kajeng Kliwon yang Wajib Dipersembahkan

I Putu Mardika • Senin, 17 Juni 2024 | 01:31 WIB

Segehan Manca warna yang dihaturkan saat Kajeng Kliwon
Segehan Manca warna yang dihaturkan saat Kajeng Kliwon
BALIEXPRESS.ID-Di dalam Lontar Sundari Gama disebutkan, ada lagi hari suci menurut peritungan panca wara, Kliwon adalah hari Bhatara Siwa menggelar Semadhi yang sangat diyakini daya magisnya oleh Umat Hindu Bali.

Akademisi UNHI Denpasar, Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, MS mengatakan Umat Hindu patut memohon tirta Gocara dengan mempersembahkan Canang Wangi di Sanggah Merajan dan di pelangkiran di atas tempat tidur.

“Sembari mengheningkan pikiran dan menyuguhkan segehan di halaman rumah, sanggah dan di jalan keluar masuk rumah, berupa nasi dua kepel dijadikan satu,” jelasnya.

Mantan Dirjen Bimas Hindu ketujuh ini mengatakan, Sarana tersebut dibuat menjadi tiga tanding (bagian) memakai lauk bawang jahe.

Sesaji di halaman sanggah ditujukan kepada Sang Bhuta Bucari.

Sedangkan di halaman rumah dihatirkan pada Kala Bucari. Terakhir di jalan keluar masuk rumah (pintu gerbang) dihaturkan pada Durga Bucari.

“Ketiganya wajib diberikan sesaji saat Kliwon. Disertai permohonan untuk menjaga rumah beserta seluruh isinya, sehingga kita mendaoatkan keselamatan. Boleh mesehe misalnya: Ratu sang bhuta bucari, titiang ngaturang ajengan duang kepel dados siki, maulam bawang jahe lan medaging arak brem. Sampunang ngendahang titiang sareng keluarga,” beber Prof Yudha Triguna.

Sedangkan di dalam Lontar Sundari Gama, disebutkan pada hari Biantara, hari Kajeng Kliwon saat pelaksanaannya sama dengan hari Kilwon.

Hanya saja ditambah dengan segehan lima warna atau manca warna. Sarana itu ditata dalam satu wadah.

“Yang membedakan jot-jotan Sesodaan pada saat Kliwon dan Kajeng Kliwon adalah pada segehannya yaitu manca warna. Ini adalah harmoni kehidupan manusia dengan alam bawah dan alam atas. Tempat mempersembahkan sesaji di keluar masuk rumah,” pesannya.

Sesaji berupa canang lengewangi, burat wangi, canangyasa, canang gantal.

Sarana itu dipersembahkan di atas dan ditujukan kepada Hyang Durga Dewi.

Sesaji di bawah dihaturkan pada Sang Durga Bhucari, Kala Bucari dan Bhuta Bucari.

Pahalanya, penghuni rumah akan mendapat keselamatan dan kesempurnaan.

Jika tidak membuat persembahan, maka ketiga bhuta akan memohon ijin kepada Bhatari Durga untuk mengganggu penghuni rumah.

Menciptakan penyakit dan mengundang guna-guna. Seperti desti, teluh, berbagai penyakit yang akan menimpa keluarga penghuni rumah.

“Banyak diantara kita acapkali lupa menggelar ritual ini. Padahal kita harus senantiasa membangun harmoni. baik dengan alam bawah, alam atas,” katanya lagi.

Secara simbolisasi, jika mengupas tentang Tri Wara, maka bisa dilihat aspek-aspeknya. Kalau berbicara tentang pasah, maka dewatanya Sang Hyang Cika, Tri Lokanya Bhur, dimensinya alam lingkungan. Susilanya perbuatan.

Pada dimensi kedua, tri wara, beteng waya, dewatanya Sang Hyang Wacika, tri lokanya Bhwah. Dimensinya sosial.

“Hubungannya antar manusia. Jadi mebanten ya, jangan lupa bagaimaan menjaga harmoni dengan lingkungan, dengan tetangga kita, krama banjar. Dan susilanya adalah ucapan,” jelasnya.

Ketiga, Kajeng, Biantara, Dewatanya Sang Hyang Manacika, tri lokanya Swah, dimensinya Tuhan, dewa dan susilanya pikiran.

Jadi, kalau yang dilaksanakan oleh krama itu tentu bukan tanpa makna. Dia selalu bisa dihubungkan dengan pribadi dengan kualitas hidup.

“Bhur, Bwah Swah, Pasah, Beteng dan Kajeng. Berkaitan dengan perbuatan, ucapan dan pikiran,” tuturnya.

Secara mitologis, sering pernah mendengar, mitologi pancawara, pada hari kliwon bhatara Siwa terbunuh sebanyak delapan kali oleh Sang Kala Eka Dasa Bumi.

Kemudian dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Taya.

Sehingga kliwon memiliki urip delapan yang ditempatkan di tengah sebagai penjaga kesembangan penjuru mata angin.

Kajeng Kliwon merupakan pertemuan alam atas Swah Loka pada susunan vertikal dan pusat pada susunan horizontal.

Maka dengan melakukan pemujaan denan persembahan sesajen, sesuai dengan Lontar Sundarigama, mejaga kualitas pikiran, (manacika) agar tidak disusupi oleh pikiran pikiran jahat, karena kajeng dikuasai oleh Sang Hyang Mancika.

“Kesimpulannya, Kajeng Kliwon adalah hari baik dalam memuja Durga, sebagai sakti Siwa, dengan seluruh kekuatan magis, sehingga manusia dibebaskan dari pengaruh black Magik. Oleh karena itu, mari kembali menguatkan keyakinan, betapa hari kajeng Kliwon memiliki kekuatan gaib,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#durga #manca warna #Black Magic #kajeng kliwon #segehan #Sang Bhuta Bucari #siwa