Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Melalui Bhaktining Suputra, Yayasan Gases Kembali Gelar Karya Atma Wedana Baligia

IGA Kusuma Yoni • Rabu, 19 Juni 2024 | 16:33 WIB

Bhaktining Suputra 2024, Yayasan Gases Kembali Gelar Karya Atma Wedana Baligia untuk meringankan biaya upacara bagi masyarakat
Bhaktining Suputra 2024, Yayasan Gases Kembali Gelar Karya Atma Wedana Baligia untuk meringankan biaya upacara bagi masyarakat

BALIEXPRESS.ID- Yayasan Gases Bali, yang ada di Desa Sesetan Kecamatan Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, kembali menyelenggarakan upacara Karya Atma Wedana Baligia yang persiapannya sudah dimulai pada tanggal 6 Juni lalu dan berakhir pada tanggal 25 Juni mendatang.

Upacara yang dirangkum dalam Bhaktining Suputra 2024 ini memiliki rangkaian yang cukup panjang. Mulai dari Karya Baligia Kinambulan, Pengepah Ayu, Bebayuhan Sapuh Leger lan Melik, Menek Kelih lan Mepandes (potong gigi).

"Pada dasarnya Setiap Upacara Yadnya mempunyai tujuan yang sama sebagai bentuk rasa bhakti Kepada sang pencipta, leluhur dan segala manifestasinya sehingga diharapkan kehidupan manusia di bumi dapat lebih baik," ungkap Ketua Gases Bali, Dr. Komang Indra Wirawan, Selasa (18/6).

Baca Juga: Populer di Bali; Ini Sosok DJ Berlin Bintang, Kerap Diundang dalam Pesta Kelulusan Sekolah

Dilanjutkan Komang Indra Gases, selain sebagai bentuk bakti kepada leluhur, pelaksanaan upacara ini diharapkan dapat sebagai proses pembelajaran bersama bagi umat Hindu yang ada di Bali.

“Kami berharap, Bhaktining Suputra 2024 ini dapat sebagai proses pembelajaran bersama, sehingga nantinya dalam melakukan upacara tidak ada ketakutan lagi. Karena pelaksanaan upacara atau yadnya tidak berdasarkan kontestasi modal," ungkapnya.

Adapun rangkaian prosesi upacara Maligia atau Baligia dimulai dari mapiuning maguru bendu piduka, prosesi mohon maaf dan permakluman kepada Sang Pencipta ketika akan memulai upacara.

Kemudian mlaspas tetaring piranti yadnya lan mecaru, negtegan karya, mepengalang sasih, meguru dadi, masang sunari, ngadengan tapeni, rare angon, guru dadi, dan ngingsah.

Dilanjutkan, ngaturang pekelem ring Segara dan Gunung Agung: memohon kepada Sang Pencipta sebagai simbol pradana dan purusa sebagai upasaksi karya dan mohon tirta kamandalu (tirta pembersihan akan hawa nafsu) dengan menggunakan kambing berwarna hitam dan kambing berwarna merah.

Baca Juga: SERU! Pesta Kelulusan SMA di Bali Undang DJ Berlin Bintang, Videonya Ditonton Hingga Jutaan Kali

Selanjutnya ngulapin lan nebusin, memanggil roh/sang pitara yang akan diupacarai di segara/pantai karena dipercaya Dalem Segara adalah simbol pintu sorga. Lantas dilanjutkan ngangget don bingin: mohon dari Dewa Sangkara berupa daun beringin sebagai simbol kulit yang akan diupacarai dalam bentuk sekah.

"Rangkaian berikutnya adalah ngajum, mlaspas sekah lan silih asih: suatu prosesi menyatukan roh sang pitara ke dalam bentuk sekah yang akan diupacarai," papar Komang Gases.

Lalu dilaksanakan upacara ngening, mepurwa daksina, narpana saji: suatu prosesi uppeti, stiti/penciptaan, kehidupan, sang pitara diiring keliling di peyadnyan sebagai simbol Gunung Kelasa untuk bisa mencapai Siwa. Dengan lantaran upacaranya memakai alas kerbau suci.

Setelah naik, diberikan suguhan/tarpana saji dari berbagai macam binatang dan ikan seperti: Ikan tenggiri, kura-kura, menjangan, biri-biri, kambing, kerbau, darah badak, susu sapi, babi hutan, dll, berharap leluhur bahagia di sana.

Baca Juga: Si Pelempar Lembing Timnas Indonesia Ini Ternyata Merindukan Sosok Elkan Baggot 

Pralina puja, prosesi mepralina membakar sekah dikembalikan ke asalnya dilanjutkan prosesi ngadegan puspa (bunga) yang selanjutkan di nganyud ke laut. Setelah nganyud, upacara berlanjut dengan prosesi ngulapin, nebusin, nyegara gunung, ngangkid: suatu prosesi memanggil sang atma pitara yang setelah diupacarai Baligia menjadi widi pitara yang distanakan dalam bentuk daksina linggih dewa-dewi.

Daksina linggih ini dituntun ke sejumlah pura atau disebut meajar-ajar, yang bermakna nunas ajah, diberikan pelajaran yang nantinya akan distanakan di tempat suci keluarga (kemulan) masing-masing.

Baca Juga: Kroasia Coret Nikola Vlasic dari Skuad Piala Eropa 2024: Begini Pernyataan Pelatih

Rangkaian terakhir, kata Komang Indra Wirawan, adalah prosesi mepegat semaya sebagai bentuk terima kasih kepada betara lingga karena upacara telah selesai. Upacara mepegat ini bermakna memutuskan janji dan kenangan yang lalu agar sang atma bisa terlepas kembali manunggal dengan Sang Pencipta. (gek)

Editor : Wiwin Meliana
#bali #yayasan gases #hindu #baligia #atma wedana