Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jangan Sampai Tertukar! Jenis Sesayut Harus disesuaikan dengan Hari Kelahiran Bagi Wuku Wayang

I Putu Mardika • Jumat, 21 Juni 2024 | 05:46 WIB

Jro Dalang Putu Ardiyasa
Jro Dalang Putu Ardiyasa
BALIEXPRESS.ID-Upacara bayuh oton bagi kelahiran wuku wayang wajib memperhatikan hari kelahirannya. Sehingga tidak ada kekeliruan antara sesayut yang digunakan dengan waktu kelahiran.

Umat Hindu memang meyakini jika bayuh oton menjadi ritual penting bagi penyucian manusia.

Secara khusus orang yang dibuatkan bayuh oton untuk kelahiran Wuku Wayang sesuai hari kelahiran biasanya juga menggunakan sejumlah sarana.

Sarana tersebut menyesuaikan terhadap orang yang dibayuh, apakah lahir di Redite, Soma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra dan Saniscara di wuku Wayang.

Dosen Seni Budaya STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Jro Dalang Putu Ardiyasa menjelaskan, sarana yang digunakan berupa Suci pejati, Praspengambean tumpeng 7 asoroh, daksina gede sesuai urip kelahiran, sesayut pengenteg bayu, merta utama, pageh urip dan disurya munggah Suci pejati,

Kemudian sarana Bungkak Nyuh Gading lan pengeresik jangkep dan dilengkapi sesayut-sesayut sesuai dengan kelahiran dalam wuku wayang.

Ia menjelaskan semisal untuk lahir Wetu Redite (hari minggu) menggunakan Sesayut Sweka Kusuma. Wetu Soma (hari senin) Sesayut Nila Kusuma Jati atau Citarengga.

Wetu Anggara (hari selasa) Sesayut Jinggawati Kusuma atau Carukusuma. Wetu Budha (hari rabu) atau Sesayut Pita Kusuma Jati atau Purnasuka Wetu.

Baca Juga: Perhatikan! Ini Sarana dan Jenis Tirta yang dibutuhkan saat Ruwatan Nyapuleger bagi Kelahiran Wuku Wayang

Kemudian wetu Wraspati (hari kamis) menggunakan Sesayut Pawal Kusuma Jati atau Gandha Kusumajati, Wetu Sukra (hari jumat) Sesayut Raja Kusuma Jati atau Wilet Jaya Raja Dira, dan Wetu Saniscara (hari sabtu) Sesayut Gni Bang Kusuma Jati atau Kusuma Gandha Kusuma

Menariknya, Wayang Sapuh Leger juga berfungsi sebagai pemurnian bagi anak atau orang yang lahir pada tumpek wayang.

Sehari sebelum tumpek wayang masyarakat Hindu di Bali melakukan upacara Meselat Pandan.

“Daun pandan yang digunakan bukan daun pandan yang biasa seperti umumnya namun daun pandan berduri yang dipercaya mempunyai kekuatan magis,” imbuhnya.

Dikatakan Jro Dalang Ardiyasa, karena dianggap sakral, Wayang Sapuh Leger hanya dipentaskan pada hari lahir (otonan) anak/orang yang dilahirkan pada wuku wayang, yaitu tiap-tiap 210 hari atau 6 bulan kalender Saka.

“Ceritanya menggunakan lakon khusus yaitu mitos Bhatara Kala, mengisahkan tentang kelahiran dan perjalanan Bhatara Kala yang mendapat anugerah dari kedua orang tuanya untuk memakan anak yang lahir pada wuku wayang,” katanya lagi.

Pementasannya diselenggarakan di pekarangan rumah orang yang akan diupacarai.

Alat-alat perlengkapan dan sesajen (banten) meliputi pohon pisang (gedebong) berikut buah dan jantungnya (biu lalung), serta perlengkapan sarana wayang seperti layar (kelir), lampu (blencong).

Baca Juga: Tak Masuk Akal! Sebelum Pelinggih Prapat Punggul didirikan, Perahu Nelayan Sering Tenggelam saat Nyebrang Segara

Kotak wayang (kropak) semuanya dililit dengan benang tenun (tukelan) berisi pis polong 250 biji (uang kepeng China), seluruh perangkat wayang termasuk iringannya berupa gender dan disediakan sesajen yang besar dan rumit.

“Dari keistimewaan itulah menyebabkan Wayang Sapuh Leger dibedakan dengan jenis pertunjukan lainnya, sehingga dianggap paling angker dan paling berat baik bagi seorang dalang yang akan mementaskannya maupun bagi yang berkepentingan,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #wayang #sesayut #bayuh oton #hindu bali #hindu #WUKU