Di Pura ini berstana Ratu Ayu Mas Subandar, sebagai penguasa lautan. Pemedek juga bisa melakukan ritual melukat di Sumur Petak yang diyakini memiliki banyak khasiat.
Pura yang posisinya persis di tepi pantai, sebelah utara Pura Pulaki ini dibangun dengan konsep Tri Mandala. Tediri dari Utama Mandala (jeroan), Madya Mandala (jaba tengah), dan Nista Mandala (jaba sisi).
Bangunan yang terdapat di area Nista Mandala (Jaba Sisi) terdiri dari, Jalan Setapak Menuju pura, Angkul-angkul, Gandawar, Pengayatan Ratu Subandar dan Dewi Ceraki, dan Sumur Suci.
Sedangkan Bangunan yang terdapat di area Madya Mandala (Jaba tengah) yaitu Bale Bengong, Bale Genah Dana Punia, Bale Pamedek/ pengunjung, Bale Kulkul, dan Bale Gong.
Saat menginjakkan kaki di area Utama Mandala (Jeroan) terdapat sejumlah pelinggih.
Seperti Padmasana, Palinggih Ida Ratu Syahbandar dan Dewi Ayu Manik Mas Subandar (dua rong dalam satu palinggih, sebagai stana dua bersaudara raka-rai).
Ada juga Palinggih Bathara Baruna, Widiadari, Widiadara, Taksu, Ngerurah, Pengaruman Agung, Bale paselang, Bale Panggungan, dan Miniatur Klenteng/Pagoda.
Kelian Pengempon Pura Pulaki dan pesanakan, Jro Nyoman Bagiarta mengatakan sebagai pesanakan Pura Pulaki, pujawali dilaksanakan secara bersamaan dengan Pura Pulaki, tepatnya pada Purnama Sasih Kapat.
Pura Pebean ini juga menyimpan kisah sejarah. Yakni sebagai tempat persinggahan atau sebagai pelabuhan bagi pelaut-pelaut dari etnis luar Bali beberapa abad lalu. Utamanya dari Cina dan Eropa.
Dalam perwujudannya, pura ini memasukkan pula unsur-unsur dalam agama Hindu Bali, Cina (Siwa, Buddha, Tao, Kong Hu Chu). Tak pelak, di pura ini juga sebagai simbol toleransi antar umat beragama.
Menurut cerita turun temurun masyarakat di sekitar Pura Pabean, pada awalnya keberadaan Pura Pabean ini diawali dengan kedatangan pedagang yang berasal dari Madura yang di nahkodai oleh orang Cina yang berlayar sampai di wilayah Teluk Pulaki.
Hal itu terjadi sejak tahun 1411 Saka atau sekitar tahun 1489 Masehi.
“Pelinggih utamanya Ratu Ayu Mas Subandar. Beliau Kesah dari Madura, beliau diyakini menjadi penguasa kemaritiman dan kepaeanan. Sehingga kalau dulu disebut Kesyahbandaran atau sekarang pelabuhan,” jelas Bagiarta.
Baca Juga: JANGAN DILANGGAR! Melukat Pada Purnama Malesada Nemu Sukra Wayang, Ini Dampak yang Ditimbulkan!
Setelah sampai di Teluk Pulaki kemudian pedagang Madura dan orang-orang Cina ini melakukan aktivitas perdagangan secara intensif di wilayah Teluk Pulaki ini. Aktifitas barter barang pun sering terjadi.
“Buktinya masih ada sampai sekarang. Pedagang dari Cina menukar barang dengan gula aren. Makanya di areal Pura Pulaki banyak ditemukan pohon Ental sampai saat ini. Karena di areal ini adalah pelabuhan,” bebernya.
Tak hanya sebagai tempat memohon kesejahteraan, di Pura Pebean juga kerap dijadikan tempat melukat dan memohon kesembuhan bagi pemedek yang nangkil.
Mereka menggunakan air suci yang ada di Sumur Petak sebagai tempat melukat untuk pengobatan.
Jro Nyoman Bagiarta mengatakan, di bawah pura Pebean, tepatnya di tepi pantai terdapat sumur yang airnya keluar dari bebatuan.
Meski berada di tepi pantai, namun air di sumur itu tidak terasa asin. bahkan sejuk seperti air tawar pada umumnya.
Air inilah yang kerap dijadikan sarana penglukatan bagi pemedek yang nangkil.
“Konon banyak yang sembuh. Baik untuk mepinunas kesehatan, penglukatan. Lokasinya di bawah pura. Kalau air laut lagi pasang, maka sumur tidak akan terlihat, kalau air lagi surut, maka sumur akan kelihatan,” jelasnya.
Yang nangkil untuk memohon air suci inipun tak hanya dari pelosok Bali saja. Ada juga pemedek etnis Cina yang sengaja nangkil dari Surabaya ke Pura Pebean untuk melukat.
Tak mengherankan, saat pujawali maupun perayaan Imlek, pura ini sebut Bagiarta selalu ramai didatangi orang Cina untuk sembahyang.
“Orang-orang Tionghoa kalau saat imlek merayakan disana. Pas Pujawali selalu ada pertunjukan Barong Sae. Saat kerauhan biasanya ada bahasa Cinanya. Karena disana berstana nahkoda kapal asal Cina. Sering saudara dari etnis Tionghoa atau Cina sampai mekemit disana,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika