Pura yang dibangun sejak tahun 1983 ini memiliki sumber mata air yang mengandung Belerang dan dapat digunakan sebagai tempat melukat.
Pura Griya Perak Tirta Empul ini berada di Jalan Taman Pancing Desa Pemogan, Denpasar Selatan, Denpasar, Bali.
Pura ini posisinya persis di tepi Sungai. Tidak sulit untuk menjangkaunya, sebab bisa diakses dengan berbagai moda kendaraan.
Pemangku Pura Gerya Perak Tirta Empul, Jero Mangku Gede Made Jaya menjelaskan, pura ini bahkan banyak didatangi artis pop Bali. Pun juga banyak pejabat dan lintas profesi yang datang untuk melukat di Pura Griya Perak Tirta Empul ini.
Dikatakan Mangku Made Jaya, Ratu Bethari Niang Lingsir yang berstana di Pura Perak ini dikenal dengan kemurahannya.
Bahkan umat dari luar Bali yang nangkil tidak luput dari berkat beliau.
Sebelum melaksanakan persembahyangan, pemedek yang nangkil menjalani ritual melukat terlebih dahulu. Dengan catatan ngaturang pejati di pura.
Barulah dilanjutkan dengan melukat, setelah itu melakukan persembayangan.
Jro Mangku Made Jaya menuturkan selama ini banyak pemedek yang nangkil ke Pura Griya Perak Tirta Empul karena mengalami sakit non medis. Seperti lumpuh, sakit mistik, belum memiliki keturunan.
“Mereka yang datang dapat diobati jika tulus dan kusyuk dalam menjalani pengobatan dan persembahyangan,” katanya.
Keberadaan Pura Perak Suci tidak terlepas dengan kiprah keluarga Mangku Made Jaya. Dia menjelaskan, dahulu tahun 1983, tempat ini masih dalam kondisi Semak belukar. Kemudian ia Bersama orang tuanya sering ke areal itu untuk memancing ikan di Sungai.
“Setiap memancing di areal ini selalu mujur. Apa yang saya minta selalu diberikan oleh Ida yang berstana di Pura ini,” kenangnya.
Kemudian orang tuanya mendapat pawisik agar dibuatkan palinggih di tempat ini. Karena masih bertahap, Pembangunan diawali dengan dibuatkan pelinggih turus lumbung (pelinggih secara sementara).
“Nah dari sana juga muncul Geria Perak Tirta Empul. Kenapa dinamakan Gerya Perak Tirta Empul? Karena di Beji ada air yang muncul dari pertiwi. Kemudian dari pemedek lama kelamaan ramai nangkil,” paparnya.
Lambat laun, semakin banyak pemedek yang medana punia dan ikut melakukan perbaikan Pura Gerya Perak Tirta Empul. Hingga pura megah seperti sekarang ini.
Lalu siapa saja yang berstana? Dia menjelaskan, pura ini ada sejumlah pelinggih.
Seperti Padmasana stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Gedong Ratu Niang, Gedong Ratu Dewi Kwan Im, Pelinggih Ki Dukuh Sakti, Pelinggih Ratu Gede Mecaling dalem Peed, di jaba rajakala Nareswari, dan Ganapati, Melanting serta Rambut Sedana.
Pujawali di pura ini saat Anggarkasih Kulantir.
Pemedek yang nangkil di Pura ini juga tidak hanya berasal dari Denpasar saja. Tetapi juga berasal dari berbagai wilayah di Bali.
Ia menambahkan, Jika nangkil untuk melukat, maka bisa membawa sarana seperti pejati sebanyak dua buah.
Pertama pejati dipersembahkan untuk sembahyang di ajeng pura. Pejati yang kedua dipersembahkan di taman beji untuk nunas wangsuhpada.
Pemedek juga disarankan membawa sarana berupa bungkak nyuh gading dan nyuh gadang, termasuk canang pekideh.
Pura ini juga menjadi pilihan umat Hindu Bali untuk melukat sejak tahun 1983 yang diyakini untuk mendapat pengobatan non medis dan keturunan.
Air di penglukatan ini mengandung Belerang. Uniknya air penglukatan ini tidak pernah berhenti mengalir. Meskiun musim kemarau
“Setelah melukat dengan mata air yang mengandung belerang, barulah dilanjutkan dengan Penglukatan Bungkak. Usai itu barulah melakukan persembahyangan,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika