Pura itu didirikan di atas tanah datar dan menjorok ke laut, menghadap ke selatan. Untuk mencapai pura itu aksesnya tergolong mudah, karena bisa masuk melalui jalur pelabuhan Padang Bai.
Nyoman Suarsana selaku Pangliman 1 Bhaga parahyangan Desa Adat Padangbai menjelaskan jika keberadaan Pura Silayukti diulas dalam Babad Bali Pulina.
Disana disebutkan pada Saka 923 atau Warsa 1001 Masehi.
Dikatakan Suarsana, Ida Bhatara Mpu Kuturan sebelum ke Bali, beliau dikenal dengan nama Senopati Sri Raja Kerta.
Beliau berasal dari Desa Kuting Pejarakan Jawa Timur dan melakukan perjalanan suci ke Bali.
“Berdasarkan dari Babad Bali Pulina, disebutkan perjalanan beliau dari Jawa ke Bali kedatangannya di tahun caka 1923 atau warsa 1001 masehi. Di hari Buda Wuku Pahang beliau datang ke Padangbai di Bukit Silayukti,” ungkapnya.
Setelah Mpu Kuturan menginjakkan kaki di Padangbai, beliau membuat parahyangan di Silayukti. Selama di Padangbai, beliau sudah membangun parahyangan Silayukti sebagai Pasramannya.
Kemudian ketika ahun saka 926, terjadi gejolak antar sekte di Bali. Seperti Sekte Brahma, Sekte Bhairawa, Sekte Waisnawa, Sekte Siwa Sidhanta, Sekte Pasupata, Sekte Bodha, Sekte Rsi, Sekte Sora, Sekte Ganapati.
Baca Juga: Melukat di Pura Suranadi Lombok, Wajib Gunakan Kain Putih, Begini Tahapannya
“Saat ada gejolak itu, diutuslah para patih dari Waturenggong untuk menghadap Mpu Kuturan di Silayukti. Disanalah ada percakapan agar beliau datang ke Samuan Tiga agar Sembilan sekte di Bali bisa disatukan demi ketentraman jagat Bali,” katanya.
Berkat pendekatan, pemikiran dan usaha yang dilakukan Mpu Kuturan, sekte-sekte dalam masyarakat Bali itu berhasil lebur dan menyatu (manunggal).
Dalam pesamuan (pertemuan) yang diikuti perwakilan sekte-sekte dan kelompok masyarakat Bali yang saat itu dipimpin Mpu Kuturan itu, dicetuskan konsep sosial religius Tri Murti Tatwa yakni Brahma, Wisnu dan Siwa.
Untuk memuja sinar suci atau manifestasi Tuhan itu, di tiap desa pakraman didirikan Pura Kahyangan Tiga.
“Kemudian ada kesepakatan bersama, jadi ada keputusan dari Mpu Kuturan untuk memberikan konsep kahyangan tiga. Pura Puseh, Pura dalem, Bale Agung yang dikeluarkan saat pemerintahan Raja Sri Waturenggong,” ungkapnya.
Selanjutnya setelah menata kehidupan masyarakat Bali dari sisi ritual, Mpu Kuturan selanjutnya menuju tahapan wanaprastha atau bhiksuka.
Mpu Kuturan lantas menetap dan mendirikan parahyangan di timur Desa Padang.
Baca Juga: Berada di Tepi Pantai, Pura Dalem Tengkulung berawal dari Kisah Sengkuluk yang Terbang
Dari sini, dalam yoga semadi dan perenungan-perenungan demi membangun dan lebih memantapkan penataan sosial religius masyarakat Bali terus diajarkan kepada masyarakat tentang dasar-dasar ajaran kebenaran (silayukti).
Ajaran-ajaran beliau diduga disampaikan kepada sisya atau warga yang tangkil.
Disebutkan juga dalam sebuah prasasti Padang Subadra berangka tahun 1324 Masehi, diketahui semula wilayah Desa Padang berupa anpadan.
Di mana lahan di teluk kecil di tepi pantai dan dikelilingi perbukitan tandus berbatu, dicangkul untuk diolah menjadi ladang tempat bercocok tanam. Desa itu berkembang menjadi Desa Padang.
Selanjutnya, ketika Belanda menjajah ke Bali, desa di tepi pantai dan teluk itu diberi nama Padang Bay (Teluk Padang). Kemudian penulisan Padang Bay berubah menjadi Padangbai.
Sehingga desa yang terus berkembang dengan pembangunan pelabuhan penyeberangan Padangbai-Lembar itu kini lebih dikenal dengan Desa Adat Padangbai.
“Pura Silayukti dimaknai dari kata ''sila'' diartikan dasar dan ''yukti'' diartikan benar atau kebenaran. Umat yang mamedek di Pura Silayukti itu diharapkan memegang teguh dan menjalankan ajaran kebenaran,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika