BALIEXPRESS.ID - Setiap agama memiliki pandangan yang khas terhadap kematian. Entah itu Islam, Kristen, Yahudi, Buddha, dan termasuk dalam agama Hindu. Namun, bagaimana dengan kematian yang terjadi akibat bunuh diri atau yang di Bali disebut ulah pati?
Berdasarkan data dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri, sepanjang 1 Januari - 15 Maret 2024 saja, ada 287 kasus bunuh diri di Indonesia.
Namun, lebih dari 10 persen kejadian itu ada di Bali. Padahal, penduduk Bali hanya 1,5 persen dari penduduk Indonesia.
Dari data itu, terbanyak di Jawa Tengah dengan 97 kasus, Jawa Timur 47 kasus, dan Bali 31 kasus, kemudian Sumatera Utara sebanyak 16 kasus, dan Jawa Barat 11 kasus.
Tapi jika diukur dari prevalensi jumlah penduduk, kemungkinan besar persentase orang bunuh diri di Bali paling tinggi se-Indonesia. Sebagai contoh, jumlah penduduk Jawa Tengah 34 juta. Sedangkan penduduk Bali sekitar 3,4 juta.
Terlepas dari kajian sosiologis dan psikologis, banyak agama memiliki pandangan tentang bunuh diri.
Nah, ketika ada yang meninggal dunia, kita biasanya akan mengucapkan belasungkawa bagi keluarga yang ditinggalkan. Terkadang diucapkan dengan harapan agar roh yang meninggal bisa bersatu dengan Tuhan.
Di Bali, ungkapan "dumogi amor ing acintya" lazim diucapkan ketika mengetahui ada yang meninggal dunia. Ucapan itu memiliki semoga bersatu dengan Tuhan.
Namun, apakah "amor ing acintya" juga berlaku untuk korban bunuh diri atau ulah pati?
Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda, seorang pandita Hindu asal Desa Pujungan, Pupuan, Tabanan, Bali menguraikan bahwa pandangan Hindu soal bunuh diri adalah tindakan menyia-nyiakan kesempatan hidup yang diberikan Tuhan.
Dia menjelaskan, dalam Kitab Yajurweda 40 Sloka 3 menjelaskan bahwa bunuh diri akan mengirimkan seseorang ke alam asuryaloka, suatu tempat yang dipenuhi kegelapan dan dianggap tidak memiliki jalan keluar untuk waktu yang sangat lama. Katanya, asuryaloka adalah kebalikan dari suryaloka.
“Suryaloka adalah alam yang penuh pencerahan, terang benderang, dengan kedamaian. Asuryaloka adalah kebalikannya. Alam yang sangat tergelap. Dan tidak menemukan jalan keluar dari kegelapan itu selama beratus-ratus tahun,” ujar Mpu Jaya Prema dalam kanal Youtube Mpu Jaya Prema berjudul “Dosa-Besar-Bunuh-Diri” pada 16 April 2018, dikutip pada Minggu (30/6/2024).
Mpu Jaya Prema menjelaskan bahwa dalam konsep Hindu, terlahir sebagai manusia adalah kesempatan langka untuk menebus dosa-dosa masa lalu dan mengembangkan spiritualitas.
Pria yang saat walaka (sebelum jadi pendeta) bernama Putu Setia ini menjawat pertanyaan mengapa kita dilahirkan sebagai manusia, tidak menjadi cacing atau ular.
Katanya, dalam Kitab Sarasamuscaya Sloka 4 disebutkan, menjelma menjadi manusia adalah sungguh-sungguh utama; sebab hanya menjadi manusia dapat menolong diri kita dari keadaan sengsara dengan jalan berbuat baik.
“Tatkala kita lahir menjadi manusia, pada hakikatnya kita menebus dosa-dosa masa lalu sesuai karma yang kita perbuat dalam kehidupan terdahulu,” bebernya.
Dia menjelaskan, kita bisa saja terlahir miskin, kekurangan, hingga kerap mendapatkan masalah dalam kehidupan.
Tapi, lanjut dia, semua rintangan, masalah, maupun kesusahan dalam hidup harus dijalani dengan baik dan selamat hingga meraih kematian yang utama.
Dia mengatakan, apabila kita putus asa saat mendapat masalah dalam hidup, kemudian melakukan bunuh diri, maka roh kita akan kembali ke alam akhirat dengan hukuman yang jauh lebih berat. Yaitu di asuryaloka, alam kegelapan yang bisa beratus-ratus tahun lamanya.
Maka, lanjut dia, berdasarkan Kitab Sarasamuscaya, seyogyanya manusia dapat mempergunakan sebaik-baiknya kesempatan ketika menjelma menjadi manusia.
"Kesempatan yang sungguh-sungguh sulit diperoleh. Yang merupakan tangga ke alam sorga,” jelasnya.
Mantan wartawan ini melanjutkan, bunuh diri sama artinya dengan menyia-nyiakan kesempatan terlahir sebagai manusia yang merupakan makhluk utama.
Dia menjelaskan, dalam Hindu, ada tiga jenis atau penggolongan kematian. Dia pun membeberkan tiga jenis kemtian itu sebagai berikut:
1. Mati utama
Walau diakui, konsep bahwa kematian adalah kehendak Tuhan, akan tetapi mati yang utama adalah yang terbaik.
Menurut Mpu Jaya Prema, mati yang utama adalah mati setelah menjalani sakit. Dan lebih utama lagi adalah sebelum melewati kematian itu seseorang masih sadar, sehingga masih melantunkan mantram meski dalam hati.
"Misalnya mantram gayatri. Ibu dari segala mantram,” terangnya.
Jelasnya, seandainya masih sadar, maka masih memiki waktu. Sehingga masih bisa memusatkan perhatian terhadap hal-hal yang spiritual, melepaskan dari segala ikatan duniawi.
2. Salahpati
Kematian jenis kedua adalah akibat kecelakaan. Berlangsung secara mendadak. Artinya tidak melalui proses sakit, misalnya. Biasanya disebut salahpati.
“Itu tidak ada bedanya dengan kematian yang utama, hanya perlu ritual penebusan di lokasi kejadian,” tandas pandita berusia 73 tahun ini.
3. Ulahpati
Nah, menurut Mpu Jaya Prema, kematian jenis ketiga adalah adalah bunuh diri, yang biasa disebut dengan istilah ulahpati.
“Mencari mati. Orang sendiri yang mencari ulah,” jelasnya.
Dia menjelaskan, kematian jenis ketiga ini biasanya diiringi dengan ritual penebusan. Di Bali, biasanya ada ritual di catuspata (perempatan jalan desa) sesuai desakalapatra masing-masing desa adat.
Bahkan, di beberapa desa di Bali, jenazah orang yang bunuh diri ada yang tidak boleh dibawa ke rumah duka. Melainkan langsung dibawa ke kuburan, sehingga seluruh ritualnya diselesaikan di kuburan.
“Ulah pati bukan hanya merepotkan keluarga dan juga repot warga desa. Tapi hukuman yang diterima di alam akhirat seolah-olah tak terampuni lagi,” bebernya.
Mpu Jaya Prema pun berpesan kepada umat Hindu agar menghindari ulah pati atau bunuh diri.
Dia mengajak umat Hindu menyadari bahwa apapun kesulitan yang dihadapi dalam dunia ini, bisa diterima sebagai cobaan.
"Dan dengan sekuat-kuatnya kita hadapi (cobaan itu),” ucapnya.
Mpu Jaya Prema menegaskan, Tuhan tidak akan memberi cobaan yang tidak bisa kita hadapi.
“Pasti bisa kita hadapi kalau kita tidak putus asa. Jangan sampai berpikir untuk mengakiri dengan bunuh diri,” paparnya. ***
Editor : Y. Raharyo