Pura ini diyakini sebagai pintu niskala untuk menjaga Pulau Bali dari hal-hal negatif.
Pura ini berlokasi di dalam kawasan hutan lindung Taman Nasional Bali Barat yang wilayahnya berada di antara Kabupaten Buleleng dan Jembrana.
Jika dilihat dari peta pulau bali, lokasi pura ini brada di ujung hidung pulau Bali. Titik ini merupakan titik terdekat pulau Bali dengan Jawa.
Untuk mengakses pura ini, pemedek harus masuk ke utara dengan menelusuri jalan yang sudah dihotmik sejak 2023.
Jaraknya sekitar 15 kilometer dari jalan raya. Pura Dang Kahyangan bisa diakses dengan kendaraan roda empat dan roda dua.
Baca Juga: Nangkil ke Pura Silayukti, Cobalah Semedi di Pelinggih Payogan, Permohonan Sering Dikabulkan
Sepanjang perjalanan, pemedek harus mengendarai kendaraan dengan kecepatan sedang. Sebab, sering muncul hewan hewan melintas jalan raya.
Pemandangan hutan lindung dan Pantai selat Bali-Jawa seolah menjadi suguhan yang menyejukkan mata.
Kelian Pengempon Pura Dang Kahyangan Prapat Agung, Ida Bagus Susrama menjelaskan, pura ini berada di wilayah lahan milik Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia.
Nama prapat agung sejatinya sudah cukup lama dikenal khususnya petugas kehutanan Taman Nasional Bali Barat (TNBB).
Prapat agung seperti menjadi wilayah khusus di tengah hutan yang lebat bernama hutan Prapat Agung
Jauh sebelum ditemukannya titik sentral benda benda suci dan sakral, yang berkaitan dengan perjalanan spiritual Dang Hyang Nirartha, areal Prapat Agung ini disebutkan di dalam sejumlah Lontar dan Pustaka suci yang berkaitan dengan kisah perjalanan Dang Hyang Nirartha.
Seperti disebutkan dalam Lontar Dwijendra Tattwa, Lontar babad dharma yatra Dang Hyang Nirartha, Lontar Geguritan Dang Hyang Nirartha, Lontar Geguritan Pura Pewangun Dang Hyang Nirartha, Geguritan Pemargin Dang Hyang Nirartha, Lontar Babad Dalem jelas tertulis keberadaan payogan Dang Hyang Nirartha di hutan Prapat Agung.
Baca Juga: Umat Hindu Wajib Tahu! Pura Silayukti jadi Saksi Bisu Moksanya Mpu Kuturan
“Hal inilah yang kemudian menggerakkan usaha penelusuran dan pencarian titik sentral payogan Dang Hyang Nirartha. Upaya itu bahkan sudah dilakukan sejak tahun 1954 oleh Ida Pendada Wayan Sidemen dari Geria Pagesangan Lombok,” paparnya.
Kemudian dalam kurun waktu 1954-1990, muncul dan ditemukan tiga telaga, linggih payogan berupa batu karang bulat berlubang kecil.
Pada tahun 1996, ditemukan sumur pasucian Dang Hyang Nirartha tidak jauh dari linggih payogan.
Penemuan inilah membuat semangat masyarakat untuk melakukan pemugaran pura untuk menstanakan Dang Hyang Nirartha.
Kemudian pada tahun 1998, masyarakat melakukan perabasan dari pinggiran Pantai prapat Agung menuju telaga, hingga tempat payogan yang letaknya di ddataran yang lebih tinggi dari telaga
Sejak saat itu, masyarakat mulai melaksanakan Pembangunan pura secara bertahap, dengan dukungan Balai Taman Nasional Bali Barat, Bupati Jembrana, dan Ketua Pengadilan Negeri Negara.
Ia menjelaskan, pura yang berada di dalam kawasan TNBB ini dinamakan Pura Dang Kahyaangan Prapat Agung.
Nama Prapat Agung menurut Ida Pedanda Gede Buruan di Geriya Buruan Desa Batuagung, Jembrana prapat agung sesungguhnya adalah pintu niskala yang dibuat oleh Dang Hyang Nirartha untuk menghindarkan Bali dari masuknya hal-hal negatif
Atau Prapat Agung juga bisa dimaknai sebagai empat pintu yang diciptakan untuk menutup hal-hal buruk yang hendak masuk ke wilayah Bali.
Baca Juga: Catat!! Pantang Bawa Jirigen Nunas Tirta di Pura Tirta Segening, Disarankan Bawa Payuk
“Jadi pertama kali pemargi Dang Hyang Nirartha saat tedun di Bali Pulina, adalah di Pura Dang Kahyangan prapat Agung. Sekarang beliau melingga di Payogan di Pura Dang Kahyangan Prapat Agung,” jelasnya.
Secara struktur mandala Pura Dang Kahyangan Prapat Agung terdiri atas tiga bagian atau tri mandala.
Diantaranya Nista Mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala. Pura ini memiliki luas 1,5 hektar dan terdiri sejumlah pelinggih
Pada Utama Mandala berada pada bagian timur dan posisi paling tinggi dibandingkan dengan areal madya Mandala dan Nista mandala.
Bagian Nista Mandala (jaba sisi) terdapat pura taman beji. Disini terdapat tiga beji yang airnya memiliki tiga jenis warna, yang airnya biru, kemerahan dan kekuningan.
“Secara kasat mata telaga ini seolah sama warnanya. Kelihatan kotor, tetapi ketika diambil, maka warnanya akan terlihat jelas jika ditempatkan di tempat yang berbeda. Misalnya ada merah, biru, kuning. Itulah bisa digunakan untuk melukat juga. Pemedek bisa menggunakan untuk melukat di tepi Pantai ditambah menggunakan sarana bungkak,” ungkapnya.
Selanjutnya pada areal madya mandala terdapat pelinggih ratu Nyoman Panji Sakti, dan terdapat pohon Sawo Kecik.
Kemudian di areal utama mandala, terdapat pelinggih diantaranya pelinggih taksu, siwa budha, padmasana, gedong simpen dan panca rsi.
Ada juga pepelik, padma yoni, penglurah, gedong keris dan bale tajuk di arah selatan. Di arah utara terdapat payogan, disini terdapat pelinggih padma, genah pajenengan dan sumur
“Jika ada Umat Hindu yang nangkil disarankan untuk menyucikan diri di taman beji. Setelah itu barulah melaksanakan persembahyangan,” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika